Senin, 20 May 2019
radarbali
icon featured
Features
Liku-Liku Petugas Pembawa Tahanan

Pilih Pendekatan Dari Hati, Kerap Dapat Salam dari Pengantin Baru

11 Februari 2019, 14: 20: 24 WIB | editor : ali mustofa

pengawal tahanan, suka duka, pembawa tahanan, pn denpasar, kejari badung

Putu Sandi mengantar tahanan ke PN Denpasar (Adrian Suwanto/Radar Bali)

Di balik lancarnya persidangan, ada peran penting petugas pengawal tahanan (waltah). Mereka yang bertanggungjawab menjemput, mengawal, hingga mengantar kembali para tahanan ke dalam sel. Sebuah tugas dengan risiko tinggi.

 

MAULANA SANDIJAYA, Denpasar

MESKI arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.30, hari masih terang. Lagu-lagu hits milik Black Pink, girlband asal Korea Selatan mengalun dari speaker aktif yang disambungkan dari ponsel di ruang makan Kantin Kejari Denpasar.

Di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar yang letaknya bersebelahan dengan Kejari Denpasar juga masih ramai melangsungkan persidangan.  

Tampak dua orang pria mengenakan seragam cokelat tua sibuk mengeluarkan tahanan dari sel hendak disidangkan.

Tidak lama lagi keduanya kembali membawa tahanan yang sudah selesai disidangkan. Kedua pria itu adalah I Putu Sandiarsa dan Made Adi Sucipta. Mereka bertugas sebagai waltah pidana umum Kejari Badung.

Meski bertugas mengawal tahanan, Sandi dan Sucipta tidak terlihat garang. Keduanya tampak sangat disegani para tahanan.

Semua tahanan dengan “senang hati” diborgol dan dimasukkan ke dalam sel. “Kuncinya komunikasi, pendekatan personal. Kami memanusiakan manusia,” tutur Sandi ditemui baru-baru ini.

Sandi tidak ingin menekan para tahanan. Pria 46 tahun itu sadar, tanpa ditekan pun para tahanan sudah tertekan.

Tahanan harus menghadapi sidang yang menegangkan. Belum lagi ketika harus menghadapi sidang tuntutan dan putusan.

Meski begitu, Sandi dan timnya juga tidak mau terlalu memberi ruang terlalu lebar. Pendekatan dengan jurus memanusiakan manusia itu ternyata lumayan ampuh.

Jawa Pos Radar Bali menyaksikan sendiri, tahanan dari Kejari Badung tidak pernah melepas rompi tahanan berwarna merah. Rompi merah baru dilepas ketika menghadap majelis hakim.

“Saya bilang pada tahanan, ‘mohon jangan sekali-kali melepas rompi sebelum maju ke persidangan’. Setelah saya cek, mereka mau nurut. Kalau ada yang buka rompi saya masuk ke dalam, saya peringatkan pakai rompinya,” tegasnya.

Sandi memang harus saklek untuk urusan pemakaian rompi merah. Pasalnya, di dalam ruang sidang semua berbaur antara tahanan dengan orang umum yang menyaksikan persidangan. 

Ketika dihadapkan dengan puluhan tahanan, Sandi dan petugas lain juga harus pintar menjaga suasana.

Maklum, jumlah tahanan yang melimpah tak sebanding dengan jumlah hakim. Koran ini kerap menyaksikan bagaimana ketika puluhan tahanan yang dimasukkan dalam sel sempit merasa bosan menunggu sidang.

Mereka berteriak-teriak membuat gaduh. Nah, untuk mengusir rasa jenuh para tahanan, biasanya Sandi menjalin komunikasi dengan tahanan. Kembali lagi, pendekatannya secara personal.

Ada satu momen Sandi bisa mencairkan suasana. Yaitu saat membagikan jatah makan nasi kotak. Meski terlihat sepele, ternyata komunikasi itu efektif.

“Sabar ya, sebentar lagi sidangnya selesai. Ini jatah makan anda semua. Makan dulu biar tidak ngelindur,” ucapnya pada para tahanan.

Sandi yang memulai karirnya sebagai sopir di Kejari Tabanan pada 1996, itu mengakui awalnya ada perbedaan sikap antara tahanan lokal dan asing.

Perbedaan sikap itu karena keterbatasan komunikasi. Maklum, Sandi tidak fasih berbahasa Inggris. Tapi dengan lingkup dominan tahanan lokal yang sudah akrab dengan Sandi, tahanan asing itu akhirnya menghormatinya.

Selama bertugas, Sandi mendapat banyak mendapat pengalaman emosional. Ini karena banyak tahanan yang belum bisa menerima dipenjara.

Ada-ada saja kelakuannya. Misalnya, salah satu tahanan bernama Nur Yani yang divonis 12 tahun penjara karena terlibat narkoba.

Nur Yani yang masih muda itu shock mendengar putusan hakim. Dia menangis sejadi-jadinya. Jika itu dibiarkan, maka situasi itu bisa mengganggu tahanan lain.

Sandi pun menjelaskan pada Yani, bahwa hukuman yang diterima merupakan konsekuensi dari perbuatannya.

Yani lantas memeluk badan Sandi sambil menangis sig-sigan. Sandi membiarkannya. Bukan bermaksud mengambil kesempatan dalam kesempitan, tapi itu dilakukan agar hati si Yani bisa plong.

“Saya tidak berkompeten menerjemahkan pasal. Tapi ini adalah buah perbuatanmu. Berbuat saja yang baik di dalam lapas agar cepat keluar dan bertemu keluargamu,” kata Sandi.

Ada juga seorang tahanan  pria mogok tidak mau diajak ke sel karena dihukum 14 tahun. Pria itu nangis di kursi tunggu di luar sidang.

Pria yang baru menikah itu meratapi putusan hakim dan tuntutan jaksa. Jaksa yang bertugas tidak mampu membujuk pria itu.

Sampai akhirnya datang Sandi. Dengan menepuk-nepuk pundak tahanan pria, itu Sandi berusaha menenangkan.

“Ingat lho ada yang lebih tinggi putusannya dari kamu. Kamu harus bersemangat demi istrimu yang baru kamu nikahi. Jangan menangis, jangan terlihat lemah. Ini baru belasan tahun, pasti akan sampai. Untung tidak seumur hidup,” ujarnya menasihati.

“Kamu berbuat baik saja. Jangan sampai rapormu di lapas merah. Hadapi saja biar cepat keluar,” imbuh Sandi.

Nasihat dari hati itu teryata manjur. Pria itu mau bangun berjalan menuju sel. Beberapa minggu kemudian pria itu titip salam pada Sandi melalui tahanan lain.

“Mungkin pendekatan saya kena, sehingga saya masih diingat,” ucap pria asal Sandan, Tabanan, itu.

Sandi juga terkadang terbawa suasana sedih yang dialami tahanan.

Misalnya ada tahanan perempuan yang masih menyusui harus meninggalkan bayinya. Banyak juga tahanan pria yang memiliki anak di bawah lima tahun yang sedang lucu-lucunya.

Setelah selesai sidang, tahanan itu melepas rindu dengan anak-anaknya. Tentu waktunya tidak lama karena harus kembali ke sel.

Saat kembali ke dalam sel itulah biasanya pemandangan mengharukan tersaji. Terus bertemu tahanan, akhirnya membuat Sandi dkk hafal kasus yang dihadapi tahanan.

Sandi dan tim pengawal tahanan mengawali tugasnya dari pagi saling koordinasi sekaligus meminta petunjuk pimpinannya.

Berikutnya menunggu limpahan tahanan dari polsek dan polres untuk dilimpahkan ke Lapas Kelas IIA Kerobokan.

Pukul 13.00 baru berangkat ke Lapas Kelas IIA Kerobokan didampingi polisi bersenjata. Butuh perjuangan tersendiri menuju lapas karena lalulintas yang teramat padat.

Meski menyalakan sirine dan berhak diutamakan, Sandi dkk tidak arogan di jalan. Dia sadar banyak pengguna jalan lain.

Karena itu dia tetap santun berusaha memberi ruang pengguna jalan lain. tetap santun tidak arogan. Pukul 13.30 sampai di lapas.

Satu mobil menjemput tahanan di lapas khusus perempuan, satunya lagi di lapas pria. Kalau bertepatan dengan mobil tahanan Kejari Denpasar, Sandi mengalah.

Ini karena jumlah tahanan Kejari Denpasar lebih banyak. Tidak hanya sekadar menjemput, Sandi dkk juga memberi tanda khusus untuk sejumlah tahanan dengan kasus khusus.

Sandi mengomunikasikan tanda khusus itu dengan polisi yang mengawal. “Tahanan yang diberi tanda khusus karena tuntutannya tinggi.

Tapi, jangan terlalu mencolok juga saat mengawasi. Biar mereka tidak terlalu tertekan juga. Mereka kan deg-degan juga. Seolah-olah sidang biasa seperti kemarin, kami ciptakan seperti itu,” bebernya.

Kasus yang ditangani Kejari Badung sendiri terus meningkat. Dari pertama sidang 15 tahanan, sidang pertama kasus judi dingdong. Kemudian meningkat mejadi 18 tahanan, hingga mencapai 38 tahanan.

Untuk menjaga agar tahanan tidak kabur, tim pengawal tahanan memiliki cara tersendiri. Selain memborgol, juga menempelkan badan serta memegang rompi tahanan ketika hendak atau selesai sidang.

“Jangan meremehkan hal kecil seperti tangan terborogol,” tukasnya. Yang menarik, terkadang Sandi memiliki perasaan tidak enak saat kembali membawa tahana ke dalam lapas.

Ada semacam kekhawatiran terjadi sesuatu. Kalau sudah begitu, Sandi membawa mobil tahanan masuk ke dalam lapas.

Polisi yang mengawal juga diminta jaga jarak. Hal itu membuat sipir kaget. “Delapan bulan berjalan ini astungkara semua lancar. Semoga ke depan juga diberikan kelancaran,” pungkasnya. (*)

(rb/san/mus/JPR)

 TOP