Senin, 23 Sep 2019
radarbali
icon featured
Politika
Putu Indra Lesmana, S.T

Saatnya Restorasi, Jangan Yang Itu-itu Saja!

11 Februari 2019, 19: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

pemilu 2019, caleg dpr ri, partai nasdem, indra lesmana

Putu Indra Lesmana, S.T., caleg DPR RI no. urut 4 Partai NasDem dari dapil Bali (istimewa)

Share this      

DENPASAR - 123 calon legislatif (caleg) DPR RI siap bertarung mewakili Provinsi Bali pada 17 April 2019. Mereka akan memperebutkan 9 kursi yang jadi kuota untuk Pulau Dewata.

Beragam penilaian muncul menyongsong hari coblosan yang kian dekat. Ada yang menyebut “membosankan” lantaran

delapan petahana kembali bertarung minus Nyoman Dhamantra (70.590 suara) yang “terpental” dari pencalegan PDI Perjuangan.

Mereka adalah Made Urip (PDIP/166.430 suara), Gde Sumarjaya Linggih (Golkar/141.168 suara), I Gusti Agung Rai Wirajaya (PDIP/75.252),

A. A. Bagus Adhi Mahendra Putra (Golkar/ 71.964 suara), I Gusti Agung Putri Astrid (PDIP/45.798), Tutik Kusuma Wardhani (Demokrat/29.113), dan Putu Supadma Rudana (Demokrat/20.849).

Sangat membosankan karena Made Urip yang sudah 4 periode (20 tahun) duduk di kursi DPR RI masih mencalonkan diri.

Mirisnya, meski pernah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan korupsi alih fungsi hutan di Tanjung Api-Api Banyuasin,

Sumatera Selatan, yang melibatkan terdakwa korupsi, Sarjan Tahir, Urip yang dijuluki Bapak Seribu Traktor masih jadi primadona.

Satu strip di bawah Urip, ada nama Rai Wirajaya (PDIP) dan Gde Sumarjaya Linggih alias Demer yang sama-sama sudah 15 tahun duduk di Senayan. Tiga tokoh ini dinilai “haus” kekuasaan.

Keduanya pun sempat dikaitkan-kaitkan dengan KPK. Demer dilaporkan ke KPK dan Kejaksaan Agung (Kejagung) oleh Koalisi Bali Anti Korupsi (KBAK) atas dugaan melakukan penipuan dan jual beli anggaran atau ijon proyek di DPR.

Caleg Partai Nasdem
pemilu 2019, caleg dpr ri, partai nasdem, indra lesmana

Putu Indra Lesmana, S.T., bersama Raka Diana Fitriani,S.T.,M.T. (istri) dan Tara Lesmana, Bara Lesmana, dan Iswara Lesmana (istimewa)

KBAK meminta Kejaksaan Agung RI agar cepat bergerak. Demer diduga menerima ijon proyek senilai Rp 2,5 miliar untuk membeli proyek infrastruktur senilai Rp 30 miliar sebagaimana telah dilaporkan kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR-RI.

Sementara itu, I Gusti Agung Rai Wirajaya dipanggil dan diperiksa penyidik KPK terkait kasus suap usulan dana perimbangan keuangan daerah pada RAPBN Perubahan TA 2018.

Rekam jejak ini diharapkan mampu menjadi pertimbangan masyarakat Bali dalam menyalurkan hak suara mereka.

Meski demikian, ada juga yang menilai kontestasi 17 April 2019 mendatang bakal seru lantaran absennya nama dua politisi Demokrat yang ditangkap KPK, yakni Jero Wacik (104.682 suara) dan I Putu Sudiartana (73.348 suara).

Termasuk absennya I Wayan Candra (PDIP/peraih 55.612 suara) lantaran kasus korupsi. Sebagaimana diketahui karena dibui, hak mantan Bupati Klungkung itu ke Senayan menggantikan

Wayan Koster (PDIP/260.342 suara) yang bertarung dalam Pilgub Bali 27 Juni 2018 lalu dipotong oleh I Gusti Agung Putri Astrid (PDIP/45.798).

Menariknya, penilaian kontestasi Pileg 2019 akan berlangsung seru ini disampaikan caleg pendatang baru dari partai Nasdem dapil Bali untuk DPR RI, Putu Indra Lesmana, ST.

Politisi kelahiran Denpasar, 20 September 1982 yang ikut menggarap Stadion Olahraga Kapten Dipta Gianyar,

Rumah Sakit Wing Internasional Sanglah, GOR Ngurah Rai Denpasar, Master Plan Puspem Badung, dan Gedung Sekda Badung ini merespons tegas. 

Caleg Partai Nasdem
pemilu 2019, caleg dpr ri, partai nasdem, indra lesmana

Putu Indra Lesmana, S.T., bersama keluarga dan mertuanya, Nyoman Gde Sudiantara alias Ponglik. (istimewa)

“Saatnya ada restorasi, perubahan dari wakil rakyat yang hanya itu-itu saja,” ucap menantu pengacara kondang Nyoman Gde Sudiantara alias Ponglik, Senin (11/1).

Indra menyebut track record para wakil rakyat harus membuat masyarakat, khususnya kaum milenial membuka mata lebar-lebar.

Karena politik adalah urusan yang sangat vital bagi kelangsungan hidup orang banyak, maka mau tak mau politik praktis harus dipahami agar tak memberi suara asal-asalan.

“Kenapa asal-asalan? Di beberapa tempat yang saya datangi,  pemilih mengaku tidak tahu nyoblos siapa saat datang ke TPS 5 tahun silam.

Yang penting ada lambang partai yang disebut orang banyak maka dicoblos. Mereka mengaku ikut-ikutan saja. Sama sekali tak mengenal figur dengan baik,” ucap putra sulung dr. Nyoman Fadjar Mariadhi tersebut.

Sayangnya, Indra berharap jumlah kaum millennial yang melek sosial media dan mampu menilai calon wakil rakyat dengan baik tidak sedikit.

“Generasi muda harus bersuara. Ini demi Bali. Generasi muda yang mampu mengubah keadaan. Mari manfaatkan peluang ini demi perubahan ke arah yang lebih baik. Salam Restorasi,” tegasnya.

Selain berbekal ilmu teknis (arsitektur) yang sangat memadai sebagai caleg, Indra juga mengusung tagline #Yang Muda Yang Bekerja.

Yang Muda merujuk pada semangat pemuda dengan jiwa mudanya. Yang Bekerja merujuk pada pekerjaan demi kepentingan bersama.

“Jadi #Yang Muda Yang Bekerja berarti semangat jiwa muda dengan perjuangan restorasi demi kepentingan bersama untuk Indonesia berjaya,” tutur alumnus Jurusan Arsitektur Universitas Udayana itu. (rba)

(rb/ken/mus/JPR)

 TOP