Sabtu, 20 Apr 2019
radarbali
icon featured
Dwipa

TBC Jadi Penyakit Mematikan di Bali, Tolong Jangan Sepelekan

19 Maret 2019, 04: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

penyakit tbc, penyakit mematikan, dinkes jembrana

Ilustrasi (dok.jawapos.com)

NEGARA – Penyakit menular tuberkulosis (TBC) masih menjadi penyakit mematikan nomor dua di dunia dan nomor satu di Indonesia.

Sayangnya, penyakit mudah menular ini disepelekan masyarakat Bali, khususnya Jembrana, sehingga enggan berobat.

Padahal, TBC di Jembrana hingga bulan Februari lalu sudah menjangkiti 29 orang, satu orang dengan TBC kebal obat atau TBC MDR dan satu orang meninggal dunia.

Sementara tahun 2018 lalu ditemukan 193 orang yang positif terjangkit TBC, 9 di antaranya akhirnya meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Jembrana I Putu Suasta mengatakan, untuk mengantisipasi penyebaran TBC ini sudah melakukan kegiatan

investigasi kontak dan penemuan masif di komunitas yang padat penduduk, seperti asrama, pondok dan populasi kunci seperti ODHA.

Karena di populasi yang banyak dan padat dikhawatirkan penyebarannya sangat cepat, misalnya ada satu yang positif cepat menular pada yang lain.

Karena penularan TBC sangat gampang. Cukup hanya dengan bernapas, korban yang menghirup bacterium TBC yang berada di udara yang dikeluarkan oleh orang yang positif melalui batuk atau bersin, bisa langsung tertular.

“Semakin lembap dan kurang sinar matahari tempatnya semakin lama kuman hidup di udara,” jelas Putu Suasta.

Pihaknya mengaku belum mampu menemukan sesuai dengan prediksi WHO masyarakat yang terkena, yaitu sekitar 319 orang per-100.000 penduduk.

Jadi, Dinas Kesehatan meminta peran aktif masyarakat dan organisasi membantu mengarahkan masyarakat jika menderita gejala batuk agar memeriksakan diri ke Puskesmas.

“Batuk jangan disepelekan,” terangnya. Dalam rangka mencegah penyebaran, dinas kesehatan melalui Puskesmas sudah melakukan program ketok pintu.

Setiap rumah didatangi untuk mencari kemungkinan masyarakat yang batuk-batuk untuk diperiksa dahaknya.

Program ini dipertajam lagi denga investigasi kontak, artinya mencari masyarakat yang kontak dengan yang sudah positif TBC untuk diambil dan diperiksa dahaknya walaupun belum ada gejala klinis seperti batuk.

“Tapi, masih juga belum ketemu sesuai prediksi. Karena waktu didatangi belum terkena. Makanya harus terus kita cari,” terangnya.

Penyakit TBC dapat disembuhkan, tapi dengan syarat berobat rutin tidak terputus. Untuk obat kategori I semua kombinasi obat yang diminum,  setiap hari dalam jangka waktu 2 bulan.

Biasanya setelah itu kuman TB di dahak sudah negatif, risiko menularkan sudah tidak ada, tapi pengobatan  dilanjutkan tiga kali seminggu sampai 6 bulan.

Bila sehari saja lupa maka harus diulang dari awal dengan kategori obat yang lain atau kategori II menggunakan kombinasi

obat minum dan suntikan, setiap hari selama 56 kali injeksi (sekitar 2 bulan) dilanjutkan 3 kali seminggu sampai total waktu pengobatan 8 bulan.

Dengan waktu yang lama dan adanya efek samping apalagi kalau pakai injeksi ada rasa sakit, pasien yang sedang mendapatkan pengobatan.

“TBC membutuhkan dukungan keluarga atau masyarakat lainnya, misalnya kader posyandu sebagai Pengawas Minum Obat (PMO) agar tidak putus berobat,” ungkapnya.

Di Jembrana, sudah diketemukan kuman TB kebal obat atau TB Multiple Drug Resistant (MDR). Karena itu, jika jenis kuman kebal obat yang menyebar sangat membahayakan masyarakat, karena pilihan obatnya untuk membunuh kuman TBC-nya menjadi sulit.

Menurutnya, perlu kepedulian semua elemen masyarakat karena penyakit TBC tidak hanya membahayakan penderita, tapi juga masyarakat luas karena mudahnya cara penularannya.

Disamping kontak sosial masyarakat Indonesia yang cukup tinggi, erat dan dekat. Tidak hanya menyerang masyarakat kelas bawah,

tapi semua lapisan masyarakat melalui kontak sosial di tempat-tempat umum dan juga adanya peningkatan kasus HIV yang menurunkan kekebalan tubuh.

Maka angka kejadian atau incidents rate TBC juga meningkat dengan tajam. Karena TBC adalah penyebab kematian terbesar ODHA di samping jamur dan infeksi paru lainnya.

Dalam rangka peringatan Hari Tbc Sedunia 24 Maret, Dinas Kesehatan mengajak masyarakat membudayakan temukan obati sampai sembuh TBC (TOSS TBC). 

(rb/bas/mus/JPR)

 TOP