Senin, 23 Sep 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Ecobrick, Ubah Botol Plastik Jadi Batu Bata, Bisa Bertahan 200 Tahun

20 Maret 2019, 02: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

botol plastik, batu bata, ecobrick, daur ulang

Ecobrick yang bisa digunakan pengganti batu bata untuk bangunan dan furnitur dipamerkan di sebuah kegiatan yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jembrana, kemarin (M.Basir/Radar Bali)

Share this      

NEGARA – Sampah plastik menjadi salah satu jenis sampah yang sangat sulit terurai, Membutuhkan waktu sampai ratusan tahun agar sampah plastik terurai secara alamiah.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan membatasi dan mendaur ulang sampah plastik. Salah satu contoh daur ulang sampah plastik pengganti batu bata untuk dinding rumah, seperti dibuat ecobrick.

Metode ecobrick adalah cara mengemas sampah plastik dengan kepadatan tertentu untuk blok bangunan.

Namun bisa juga untuk digunakan untuk furniture, ruang taman, dan furnitur rumah lain. “Fungsi utamanya, pengganti batu bata untuk bangunan,” kata Lutfi Nur Farida, dalam sebuah kegiatan yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jembrana, kemarin.

Menurut perempuan asal Tuban, Jawa Timur, ini penggunaan ecobrick untuk bahan bangunan bisa bertahan hingga 200 tahun.

Bahkan, bangunan dengan ecobrick bisa menjadi solusi untuk rumah tahan gempa. “Tergantung kita mau dibuat apa,”imbuhnya.

Metode ecobrick ini selain bermanfaat untuk menjaga lingkungan dari sampah plastik yang mendominasi sampah lingkungan.

Karena sebagian besar sampah plastik yang kita buang adalah wadah bekas makanan dan minuman dan kantong sampah. 

“Daur ulang sampah botol plastik ini sebagai solusi untuk mengurangi sampah plastik yang dibuang dan mencemari lingkungan,” ujarnya.

Sayangnya, daur ulang sampah plastik multi fungsi ini jarang dilirik oleh masyarakat. Padahal, dari segi biaya sangat bisa ditekan bahkan tanpa biaya karena menggunakan sampah plastik yang bisa didapat dimana saja.

“Jumlah sampah plastik yang fantastis tentu menjadi masalah besar bagi lingkungan, karena itu harus diatas dengan membatasi atau daur ulang,” tandasnya. 

(rb/bas/mus/JPR)

 TOP