Senin, 18 Nov 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Nyoman dan Ketut Terancam Punah, BKKBN Bali Ungkap Fakta Mengejutkan

20 Maret 2019, 11: 55: 37 WIB | editor : ali mustofa

gubernur koster, program kb, bkkbn bali

Gubernur Bali Wayan Koster (dok.radarbali)

Share this      

DENPASAR – Untuk kali kesekian Gubernur Bali Wayan Koster tidak sepakat dengan program Keluarga Berencana (KB) yang digagas pemerintah pusat.

Hal itu gubernur lontarkan saat Rapat Koordinasi Daerah Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali di Grand Inna Bali Beach Hotel, Senin (18/3) lalu.

Menurut Gubernur Koster, pembatasan jumlah penduduk melalui KB bukanlah sebuah prestasi. Tapi, justru bisa mengancam budaya warisan leluhur.

Gubernur Koster mengatakan yang perlu diperbaiki adalah penyebaran penduduk. Saat ini, penduduk sangat menumpuk di Bali Selatan.

Sedangkan seperti di Buleleng, Karangasem, Jembrana, penduduknya sedikit. Sehingga, menurutnya, tidak perlu laju pertumbuhan penduduk di Bali ditekan walaupun banyak warga pendatang yang bermigrasi ke Bali.

“Artinya yang lahir sama yang sudah meninggal hampir berimbang. Sudah saya dalami per kabupaten datanya. Pertumbuhannya relatif kecil,” kata pejabat asal Sembiran, Buleleng.

 Politisi PDIP ini menambahkan sesuai dengan  mars KB, prestasi di bidang kependudukan adalah bagaimana membangun keluarga yang sehat, cerdas dan kuat.

“Di Bali tidak perlu ditekankan, transmigrasi tidak begitu banyak. Di Bali tinggal segi persebaran penduduk merata antar kabupaten.

Penduduk padat ada di Bali selatan. Jembrana, Buleleng  sangat kurang karena orang mencari pekerjaan di Bali selatan,” tukasnya

Berdasar laporan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Catur Sentana, laju pertumbuhan penduduk Bali menurun dari 2,31 persen pada tahun 2010 menjadi 2,14 persen pada tahun 2017.

Selain itu terjadi pula penurunan angka kelahiran total dari 2,3 pada tahun 2012 menjadi 2,1 per wanita usia subur pada tahun 2018.

“Penurunan ini selain sebagai dampak penggunaan kontrasepsi yang telah mencapai 54,8 persen bagi pasangan usia subur, juga meningkatnya usia kawin pertama perempuan dari 21,9 tahun menjadi 22,1 tahun,” kata Cakra.

 Gubernur Koster mengakui bahwa angka tadi menunjukkan program keluarga berencana dua anak di Bali relatif berhasil dari segi angka.

Namun bagi masyarakat Bali, data itu justru kurang membahagiakan karena hilangnya nama-nama seperti Nyoman dan Ketut. “Jadi, ada bagian dari warisan leluhur kami ini hilang,” kata Koster.

 Saat ditanyakan mengenai program KB seperti vasektomi (metode kontrasepsi steril untuk pria), Koster pun mengakui kurang setuju.

Baginya, vasektomi terlalu sadis. “Terlalu keras itu vasektomi, kan dihilangin ininya. Ada cara lainlah,” tuturnya.

 Mantan anggota DPR RI ini mengatakan akan mengubah paradigma kependudukan di Bali dengan tidak lagi fokus pada pengurangan jumlah, namun bagaimana membangun keluarga yang berkualitas dan direncanakan dengan baik.

Ia berharap dengan paradigma ini melahirkan generasi yang sehat, cerdas, kuat, berdaya saing, produktif dan berkontribusi. 

(rb/feb/mus/JPR)

 TOP