Sabtu, 20 Apr 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Diuyel-uyel Masyarakat Bali, Jokowi Pesan Pasar Badung Dikelola Modern

23 Maret 2019, 05: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

pasar badung, presiden jokowi, pasar modern, diuyel-uyel

Presiden Jokowi disambut masyarakat Bali saat meresmikan Pasar Badung kemarin (Adrian Suwanto/Radar Bali)

DENPASAR - Grand Opening Pasar Badung oleh Presiden Joko Widodo, Jumat (22/3) petang disambut suka cita masyarakat Pulau Dewata.

Tidak hanya masyarakat Denpasar, kedatangan Jokowi juga disambut masyarakat dari 8 kabupaten lain di Bali. Termasuk Nyong Timur, komunitas masyarakat dari Indonesia Timur.

Kedatangan Mantan Gubernur DKI Jakarta sudah dinantikan sejak siang hari oleh masyarakat Denpasar. Sayangnya orang nomor satu di Indonesia datang terlambat.

Sehingga peresmian Pasar Badung yang seharusnya dimulai sekitar pukul 17.00 seperti yang dijadwalkan, jadi molor sekitar pukul 17.00.

 Kedatangan Jokowi didampingi oleh sang istri, Iriana Jokowi. Sebelumnya datang ke Bali, Jokowi melakukan kunjungan  ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk melihat korban gempa dan meninjau rekonstruksi rumah tahan gempa di Kota Mataram.

Setelah itu, Jokowi langsung bertolak ke Bali untuk meresmikan Pasar Badung dan melakukan penandatangan prasasti.

Menariknya, pada saat sambutannya Jokowi mengaku sedikit error. Karena salah menyebutkan wilayah pada saat sambutan. 

“Tadi pagi masih di Jakarta, tadi siang Lombok, dan sore sudah sampai di Kota Denpasar diuyel-uyel sampai di sini.

Semua megang tangan, ada leher. Berarti tadi saya agak error, mohon maaf, Saya melihat Pasar Badung ini senang sekali,” ucapnya.

Di depan para pedagang dan masyarakat setempat, Jokowi mengatakan, Pasar Badung adalah pasar terbesar di Bali yang memiliki arsitektur yang paling bagus di Indonesia. 

Apalagi, Pasar Badung adalah pasar rakyat yang memiliki nilai warisan budaya (heritage).   Jokowi pun meminta, kedepannya supaya manajemen pasar Badung harus baik.

Ia berpesan jangan sampai pasar kotor, becek, bau  dan tentunya pedagang harus ramah. Intinya jangan kalah dengan pasar modern.  “Saya yakin bisa. Tinggal niatnya ada atau tidak ada,” pungkasnya.

(rb/feb/mus/JPR)

 TOP