Kamis, 27 Jun 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Pengusaha dan Petani Beras Hitam Tabanan Masih Terkendala Pemasaran

30 Maret 2019, 13: 42: 49 WIB | editor : ali mustofa

petani beras hitam, beras hitam tabanan, lumbung padi tabanan, produksi beras bali, bibit unggul,Pemkab Tabanan,

TERKENDALA PEMASARAN : Made Suteja menunjukkan salah satu produk beras hitam Tabananmiliknya. (Juliadi/Radar Bali)

Share this      

TABANAN – Produksi beras hitam Tabanan terus mengalami peningkatan.

Sayang, meski produksi terus meningkat, para petani di kabupaten “Lumbung Padi” ini masih terkendala pemasaran.

Seperti dibenarkan petani sekaligus pengusaha beras hitam asal Desa Bengkel, Kediri, Tabanan I Made Merta Suteja. Ditemui, Jumat (29/3), ia mengakui dari tahun ke tahun, produksi padi hitam di desanya terus meningkat.

Peningkatan produksi beras hitam itu terlihat dari hasil panen padi yang semula rata-rata mencapai 1 ton per hektar per masa kali panen (6  bulan) atau 5 ton/ 5 hektar lahan, kini meningkat menjadi 6,5 ton/5 hektar per satu kali masa panen.

“Itu masih berupa padi setelah dijemur dan giling kemudian dilakukan pemilihan susut menjadi 3 ton,” ungkapnya.   

Adanya peningkatan produksi beras hitam itu karena faktor pemilihan dan pembenihan bibit dengan varietas unggul.

Lebih lanjut, kata Suteja, meningkatnya beras hitam mulai berkembang sejak empat tahun yang lalu di Desa Bengkel, Kediri. Bibit berasnya dibawa dari daerah Bogor, Jawa Barat. Saat itu hanya sebagai proses uji coba apakah bisa tidak di tanam di lahan pertanian.

“Kebetulan pas di kecamatan ada rapat tentang pertanian diminta untuk mengembangkan produksi beras hitam tersebut. Saya sendiri yang mulai menanam. Setelah itu barulah diikuti oleh petani lainnya. Sehingga jumlah petani yang menanam beras hitam menjadi 20 orang di desa bengkel saat ini,” terangnya.

Dia menyebutkan meski produksi beras hitam meningkat, namun tak sebanding dengan permintaan yang ada. Minat warga lokal Tabanan membeli beras hitam masih kecil. Beras hitam juga belum terlalu dikenal namanya secara umum. Apalagi akan menembus pasar pariwisata.

“Pemasaran beras hitam hanya mengadalkan pembeli dari luar Tabanan. Banyak pembeli datang dari Denpasar. Itu masih kecil permintaannya sebulan hanya 75 kilogram dengan pelanggan sudah ada sekitar 5 orang,” bebernya

Dari sisi harga memang beras hitam memang agak lebih mahal. Untuk yang sudah dikemas Rp 30 ribu per kilo, sedangkan untuk yang curah (eceran) seharga Rp 25 ribu per kilonya.

Merta mengakui saat ini BUMD Dharma Santika (PDDS) perusahaan daerah milik Pemkab Tabanan juga sudah mulai melirik beras hitam dan akan segera melakukan kerjasama untuk pemasarannya.

“Kami berharap, agar pemerintah Tabanan juga turut terlibat dalam pemasaran. Salah satu beras andalan yang dimiliki petani Tabanan. Sehingga, pengembangan beras hitam akan semakin meningkat dan bisa mensejahterakan petani,” pungkasnya. 

(rb/jul/pra/mus/JPR)

 TOP