Sabtu, 25 May 2019
radarbali
icon featured
Politika

OMG! Diteror, Redana Bongkar Praktik Politik Uang Caleg Nasdem Somvir

23 April 2019, 13: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

pemilu 2019, politik uang, pelapor redana, caleg nasdem somvir, sentra gakkumdu, bawaslu buleleng

Pelapor Nyoman Redana (baju merah) diklarifikasi Bawaslu Buleleng dan Sentra Gakkumdu kemarin (Eka Prasetya/Radar Bali)

SINGARAJA – Calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Nasdem, Somvir, kembali digoyang dengan isu money politics.

Somvir yang disebut berpeluang mendapatkan kursi di DPRD Bali itu, kini disebut-sebut terkait dalam peristiwa politik uang yang terjadi di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar.

Kali ini peristiwa politik uang itu dilaporkan Nyoman Redana, 54, warga Banjar Dinas Munduk Uaban, Desa Pedawa.

Redana melaporkan peristiwa politik uang itu ke Bawaslu Buleleng, Senin (22/4) siang. Ia melaporkan seseorang bernama Subrata, warga Banjar Tegeha, yang disebut-sebut sebagai tim pemenangan dari Somvir.

Anehnya, Redana merupakan salah satu orang yang menerima sekaligus menjalankan peristiwa politik uang itu.

Kepada wartawan, Nyoman Redana mengaku sempat bertemu dengan Subrata maupun Somvir. Saat itu ia menyebut ada potensi sekitar 50 suara di Desa Pedawa.

Senin (15/4) pekan lalu, ia kembali bertemu dengan Subrata di Hotel Lily’s Lovina. Di sana ia diberikan uang Rp 5 juta beserta sekotak kartu nama, sejumlah specimen surat suara, serta stiker.

“Besoknya saya bagikan uang itu. Tapi hanya ke 10 orang. Masing-masing Rp 100 ribu. Banyak teman saya yang menolak, tidak bisa memilih Pak Somvir.

Uangnya yang lagi Rp 3,5 juta, saya pakai uang bensin, makan, untuk biaya cari suara kemana-mana,” kata Redana.

Belakangan saat hari pungut hitung, ia mengetahui bahwa Somvir mendapatkan 41 suara. Masing-masing 20 suara di TPS 6 Desa Pedawa, 5 suara di TPS 5 Desa Pedawa, serta 16 suara di TPS 4 Desa Pedawa.

“Itu yang saya tahu di sekitar tempat tinggal saya,” katanya. Diduga karena tak sesuai target, Redana mulai menerima teror telepon.

Hingga kini ia telah menerima tiga kali telepon dari “nomor pribadi”, yang intinya mempermasalahkan perolehan suara yang di bawah target.

Karena merasa diteror, ia akhirnya memilih melaporkan masalah itu ke Bawaslu Buleleng.

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP