Senin, 24 Jun 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

TERUNGKAP! Putri Korban Kasek Siswi Berprestasi, Suberata Ngaku Khilaf

14 Mei 2019, 10: 18: 50 WIB | editor : ali mustofa

kasus penganiayaan, kasek aniaya pelajar, korban siswi berprestasi, kasek ngaku khilaf, disdik bali

Korban Putri saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu (dok.radarbali)

Share this      

DENPASAR – Kasus penganiayaan yang dilakukan Kepala SMA Pariwisata Saraswati Klungkung I Gusti Made Suberata terhadap siswinya, Ni Komang Putri, 19,

asal Desa Tojan, Klungkung, yang bergulir di Mapolres Klungkung terdengar juga oleh Dinas Pendidikan Bali.

Kemarin, Kadisdik Bali didampingi Sekretaris Disdik dan Kepala UPT Disdik Klungkung bertemu dengan Suberata dan Putri untuk mencari solusi permasalahan ini.

“Kami berbicara dari hati-hati selama 1.5 jam,” ujar Sekretaris Dinas Pendidikan Bali I Ketut Sudarma kemarin.

Tak ada pembicaraan masalah penganiayaan dalam pertemuan tersebut. Sudarma mengatakan, dia hanya sebatas bicara minat dan bakat Putri.

“Secara keseluruhan anak dan lingkungannya sudah baik. Anaknya sudah melakukan proses melukat, mebayuh kemudian ke pantai menenangkan diri. Sudah oke, secara fisik tidak ada apa-apa. Psikologis bagus,” bebernya.

Menurutnya, Putri anak yang baik, memiliki bakat dan prestasi. Selain silat, Putri bisa menabuh. Dia mengatakan, Disdik Bali datang untuk memastikan kondisi Putri baik-baik saja.

Setelah dari rumah Putri, Disdik Bali langsung ke rumah Suberata, Kepala Sekolah SMAN Pariwisata Saraswati Klungkung.

"Kami konfirmasi kenapa seperti itu. jawabannya adalah ada kekhilafan yang memang tidak disengaja. Dikuatkan juga dengan pegawai disana. Ada faktor ketidaksengajaan.

Tapi ternyata, tidak sadar berbuat seperti itu. Tanda petik kekhilafan, teledor, kalau bahasa Bali bilang kelepetan (tidak sadar)," ungkapnya. 

Didepan Kadisdik, Sekdis dan Kepala UPT, Suberata mengaku pusing dan panik karena masalah acara kelulusan yang sedikit berantakan.

Seperti salah satu penari  dari tiga orang yang membawa panji belum hadir karena miskomunikasi. Di sisi lain juga acara juga molor.

" Itu kan acara pelepasan, poin sebenarnya bukan anak itu tidak pakai kebaya, tapi itulah pengingat kok tidak pakai ini. Kurang lebih itu, Saya haluskan nyebutnya.

Terjadilah selisih paham, kalau adik gitu tunggu tempat. Saat bersamaan kepala sekolahnya sedang pikirannya kacau, karena yang akan membawa panji-panji, penarinya kalau nggak salah tiga.

Dua sudah hadir satu belum, setelah ditelepon dikirain sore acaranya. Ada kepanikan. Kedua, memang agak molor. Terus lihat selisih pendapat, lewat kepala sekolahnya. Menurut versinya, tidak terjadi penamparan," paparnya. 

(rb/feb/mus/JPR)

 TOP