Kamis, 20 Jun 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Badung (Sementara) Bebas Cacar Monyet, Ini Imbauan Dinas Kesehatan

21 Mei 2019, 14: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

cacar monyet, dinkes badung, bandara ngurah rai

Ilustrasi thermo scanner untuk mendeteksi penumpang di bandara (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Share this      

MANGUPURA - Kasus importasi penyakit Monkeypox (MPX) atau cacar monyet belakangan ini meresahkan masyarakat, termasuk di Bali.

Badung sebagai pintu masuknya Bali melalui Bandara Ngurah Rai juga tetap dilakukan antisipasi. Namun, Dinas Kesehatan Badung memastikan sampai saat ini belum ditemukan kasus tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Badung dr. I Gede Putra Suteja menjelaskan, kasus MPX yang meresahkan masyarakat tidak sampai di Bali, khususnya Badung.

Meski begitu, pihaknya tetap mengimbau agar masyarakat menerapkan pola bersih dan hidup sehat untuk terhindar dari penyakit yang gejalanya mirip penyakit cacar kulit itu.

“Terapkan pola hidup sehat. Kalau mau berpergian khususnya ke daerah yang ada kasus virus itu. Persiapkan diri agar dalam kondisi sehat.

Yang jelas, sampai saat ini belum ada. Semoga kasus (virus Monkeypox-red) tidak sampai Bali,” terang Suteja kemarin.

Kata dia, langkah antisipasi yang dilakukan Dinas Kesehatan Badung tentu telah berkoordinasi langsung dengan Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Sosialisasi dan antisipasi dilakukan oleh Dinas Kesehatan Bali. “Diskes Badung Badung berada di bawah koordinasi Diskes Provinsi Bali,” katanya.

Begitu juga di Bandara Ngurah Rai juga dilakukan pemeriksaan, terlebih penumpang yang datang dari Singapura dilakukan scanning di terminal kedatangan.

Para penumpang yang datang rutin dipantau melalui scanning thermo scanner. Jika ada penumpang yang melewati thermo scanner

terdeteksi dengan suhu 38 derajat celcius  atau lebih maka akan dilakukan pemeriksaan, kemudian  dirujuk ke RSUP Sanglah untuk penanganan lebih lanjut.

Pemantauan dikoordinir oleh  Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Klas I, di Bandar Udara Ngurah Rai , alat scanner tersebut dioperasionalkan di terminal kedatangan internasional.

Petugas yang berjaga disiapkan 6-8 orang setiap shift. Setiap shift selalu didampingi dokter jaga yang standby selama 24 jam.

“Ya, pemantauan rutin dilakukan oleh KKP,” jelas Arie Ahsanurrohim, communication and legal section head Angkasa Pura I (AP I) Bandar Udara Ngurah Rai.

Seperti diketahui, kasus tersebut pertama terjadi ketika warga negara asal Nigeria tiba di  Singapura pada 28 April lalu.

Monkeypox atau cacar monyet adalah penyakit langka yang disebabkan oleh virus yang ditularkan ke manusia dari hewan seperti tikus dan monyet.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penularan terjadi ketika seseorang melakukan kontak dekat dengan darah, cairan tubuh atau lesi (luka) hewan yang terinfeksi.

Virus ini juga dapat ditularkan dengan memakan daging hewan yang terinfeksi yang tidak cukup matang. Sehingga, virus tersebut tidak mudah menyebar di antara manusia.

Berdasar surat edaran dari Kementerian Kesehatan RI Nomor : SR.03.04//1169/2019 tentang kewaspadaan Importasi penyakit Monkeypox,

penularan dari manusia bisa dimungkinkan, namun sangat terbatas, melalui sekret pernapasan atau lesi pada kulit. 

(rb/dwi/mus/JPR)

 TOP