Rabu, 23 Oct 2019
radarbali
icon featured
Dwipa

Tinggi Hampir 2 M, Banjir Jembrana Tercatat Sebagai Banjir Terparah

27 Mei 2019, 20: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

banjir bandang, jalur mudik lumpuh, Pemkab Jembrana, BPBD Jembrana,  hujan lebat, banjir terparah,

TERPARAH SEPANJANG SEJJARAH : Kondisi banjir bandang di Jembrana pada Kamis malam (23/5) lalu (M.Basir)

Share this      

NEGARA – Sesuai hasil pengamatan dan kajian Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman Jembrana, banjir bandang yang terjadi, pada Kamis (23/5) lalu merupakan bencana banjir terparah sepanjang sejarah di Jembrana.

Kepala Bidang Sumber Daya Air pada Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman Jembrana I Wayan Widnyana mengatakan, dari hasil pengamatan dan kajian dari sejumlah lokasi terdampak banjir, tinggi air banjir yang merendam sejumlah lokasi merupakan banjir yang terparah di Jembrana selama ini.

Menurutnya, melihat tinggi air yang merendam pemukiman dan tinggi air bendung banjar tengah diatas 190 centimeter.

Sebelumnya, tinggi air selalu dibawah, tidak pernah setinggi saat banjir terjadi.

“Artinya, untuk pertama kalinya semenjak pertama kalinya semenjak ada banjir di Jembrana. Berarti itu menandakan cuaca yang sangat ekstrem, sampai merusak jalan dan fasilitas umum lain,” jelasnya.

Selain karena curah hujan yang tinggi, pihaknya menyimpulkan ada beberapa faktor yang menyebabkan banjir sangat tinggi.

Diantaranya, sampah yang dibuang warga ke sungai, terutama sampah ranting-ranting pohon dan bambu.

Seperti terlihat di bendung Desa Kaliakah, banyak sampah yang menyumbat bendung hingga air tidak mengalir.

“Selain intensitas hujan yang tinggi, juga masalah perilaku masyarakat yang membuang sampah dan ranting bambu,” terangnya.

Selain itu, sedimentasi bendung dan sedimentasi sungai yang tinggi menyebabkan sungai tidak menampung dan air meluap.

Padahal sejumlah bendung, seperti bendung Kaliakah sudah pernah digali dua tahun lalu dan saat ini mulai tinggi lagi.

Karena itu, pihaknya akan memprogramkan tahun 2020 mendatang penggalian sedimentasi.

Faktor lain yang berpengaruh sangat besar adalah alih fungsi lahan.

Salah satunya alih fungsi lahan di wilayah Kelurahan Pendem atau tepatnya sebelah utara kantor Bupati Jembrana, daerah yang awalnya kawasan pertanian saat ini menjadi kawasan pemukiman.

Meski belum ada banyak perumahan, karena sawah sudah beralih fungsi menyumbang penyebab banjir tinggi di sekitarnya.

Menurut Widnyana, lahan pertanian yang saat ini menjadi kawasan pemukiman, tanahnya sudah  dikeruk dan saluran irigasi sudah tidak ada lagi. Sehingga ketika hujan terjadi, air mengalir ke kawasan lain terutama pemukiman.

“Dulu sawahnya terasiring, kalau terasiring ada air yang diam. Karena kemiringan semua, jadi air bisa langsung mengalir airnya,” tukasnya.

(rb/bas/pra/mus/JPR)

 TOP