Jumat, 19 Jul 2019
radarbali
icon featured
Dwipa

Gelombang Laut Kembali Normal, Buruh Angkut Pelabuhan Semringah

18 Juni 2019, 15: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

gelombang laut, gelombang normal, buruh angkut pelabuhan, pelabuhan tribuana

Salah seorang burung angkut barang, Putu Sayantika, asal Banjar Rame, Desa Kusamba saat ditemui di Pelabuhan Tradisional Tribuana, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan kemarin. (Dewa Ayu Pitri Arisanti/Radar Bali)

Share this      

SEMARAPURA - Buruh angkut barang di Pelabuhan Tradisional Tribuana, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan akhirnya bisa tersenyum setelah gelombang laut di perairan tersebut kembali normal.

Akibat gelombang tinggi yang terjadi hampir satu minggu terakhir, membuat aktivitas penyeberangan barang di pelabuhan tradisional itu terganggu dan berdampak pada penghasilan mereka.

Salah seorang burung angkut barang, Putu Sayantika, asal Banjar Rame, Desa Kusamba saat ditemui di Pelabuhan Tradisional Tribuana, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan,

mengungkapkan, akibat gelombang tinggi, aktivitas penyeberangan baik barang maupun orang di pelabuhan tradisional itu terganggu sejak seminggu terakhir.

Barang-barang yang seharusnya dikirim ke Kecamatan Nusa Penida pun akhirnya tertahan dan tertumpuk di pelabuhan itu. “Hampir seminggu seperti itu. Jadi barang-barang banyak yang tertumpuk,” ujarnya.

Akibat gelombang laut yang tidak bersahabat itu pasalnya sangat berpengaruh terhadap pendapatannya.

Hampir seminggu itu, ia mengaku tidak bekerja dan hanya diam di rumah sambil berharap gelombang kembali normal.

“Saya tidak punya sawah atau perkebunan. Jadi selama tidak ada penyeberangan barang, saya diam di rumah saja,” terangnya.

Sejak Minggu (16/6) lalu, menurutnya, gelombang laut kembali normal. Aktivitas penyeberangan barang akhirnya bisa dilakukan kembali.

Bahkan, lebih banyak dibandingkan hari biasanya lantaran banyak barang yang tertumpuk. “Biasanya sehari itu hanya satu penyeberangan per hari.

Tadi saya melayani dua penyeberangan. Jadi penghasilannya juga bertambah dari biasanya sekitar Rp 50 ribu, tadi sekitar Rp 150 ribu,” katanya.

Pihaknya pun berharap gelombang tinggi tidak kembali terjadi sehingga pendapatannya bisa terus normal. 

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP