Minggu, 08 Dec 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi

Sambut Galungan, Badung Siap Lepas Stok Babi 7.753 Ekor

17 Juli 2019, 01: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

hari raya galungan, ternak babi, distan badung, stok babi

Suasana pemotongan babi di RPH Pesanggaran beberapa waktu lalu (dok.radarbali)

Share this      

MANGUPURA - Menjelang perayaan Hari  Raya Galungan dan Kuningan stok daging babi dipastikan mencukupi.

Di Kabupaten Badung telah ada pasokan babi yang sudah siap dipotong mencapai 7.753 ekor. Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Badung I Ketut Sudarsana  mengatakan, jenis babi yang paling banyak tersedia adalah jenis landrace.

Kesiapan babi potong ini dilihat dari kebersihan, kesehatan dan berat babi.  Kemudian, minimal babi dipotong dengan berat kotor 100 kg.

“Babi yang paling banyak dipotong menjelang Galungan dan Kuningan adalah babi jenis landrace. Jumlahnya sekarang sekitar 7.753 ekor,” ujarnya kemarin.

Berkaca pada Hari Raya Galungan dan Kuningan  tahun 2018 lalu, jumlah babi yang dipotong baik secara mandiri maupun kelompok masyarakat mencapai 2.243  ekor.

Pada tahun ini, pihaknya memperkirakan jumlahnya akan bertambah menjadi 2.500 ekor. “Tahun lalu jumlah babi yang dipotong saat perayaan Galungan

mencapai 2.243  ekor, dan sekarang kita targetkan 2.500 ekor,” terang Sudarsana yang juga menjabat Kadis Sosial Badung ini.

Selain mempersiapkan dari segi pasokan, pihaknya juga berupaya memberikan pelayanan dengan menurunkan tim untuk memeriksa kesehatan babi sebelum dipotong.

“Sebelum dipotong, babi ini akan diperiksa dulu kesehatannya. Pemeriksaan akan melibatkan petugas kesehatan hewan dibantu Mahasiswa dari Unud,” jelasnya.

Sementara mengenai harga, Sudarsana menyebut masih relatif normal. Diakui meski permintaan meningkat, namun harga masih stabil lantaran pasokan mencukupi.

“Harga di tingkat perternak yang bagus itu antara Rp 25-27.000 per kilogram berat hidup. Sejauh ini harga di pasaran masih tergolong stabil,” terang pejabat asal Denpasar ini.

Mengenai isu virus flu babi, ia mengakui  sejauh ini tidak ditemukan adanya babi sakit karena virus tersebut. Karena sebelum dan sesudah babi dipotong dilakukan pemeriksaan.  

Petugas yang dikerahkan mencapai ratusan orang yang terdiri dari 32 dokter hewan, 30 petugas teknis  dan 100 orang mahasiswa FKH Unud. 

Pembekalan mahasiswa akan dilakukan di kampus FKH Unud. Sementara standar pemeriksaan yang dilakukan tak jauh berbeda dengan saat pemeriksaan hewan kurban beberapa waktu lalu.

Yakni ada dua tahap, pemeriksaan antemortem (pemeriksaan sebelum kematian) untuk melihat ciri-ciri fisik, termasuk sehat tidaknya hewan yang bakal dipotong.

Sedangkan  postmortem (setelah kematian) pemeriksaan organ dalam hewan kurban seperti hati, limpa, dan paru. 

“Nanti tim akan mengawasi kesehatan babi sebelum dipotong. Sehingga daging layak konsumsi,” pungkasnya.

(rb/dwi/mus/JPR)

 TOP