Rabu, 21 Aug 2019
radarbali
icon featured
Hukum & Kriminal

Kirim WA Minta Dijemput, Pelajar SMAN 2 Semarapura Tewas Gantung Diri

18 Juli 2019, 06: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

kirim wa, minta dijemput, anak kandung, tewas gantung diri, pelajar sman 1 semarapura, polsek klungkung

Bunyi chat WA yang dikirim almarhum kepada ayahnya sebelum ditemukan tewas gantung diri (Istimewa)

Share this      

SEMARAPURA – Pelajar Kelas XI SMA Negeri 2 Semarapura Pande Made S, 15, warga Banjar Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem,

yang tinggal di Perumahan Sangkan Buana, Kelurahan Semarapura Kauh, ditemukan tewas gantung diri di rangka atap garasi rumahnya kemarin (17/7).

Pande pertama kali ditemukan gantung diri dengan leher terjerat selendang oleh ayah kandungnya yang juga Kepala LPD Desa Adat Sogra I Wayan Putra, 42, dan pamannya Komang Astawa, 34.

Putra yang selama ini tinggal di Karangasem akhirnya mendatangi rumahnya di Klungkung setelah anak nomor duanya itu mengirim pesan Whatsapp meminta dijemput dengan kalimat-kalimat cukup janggal.

Berdasarkan pantauan di RSUD Klungkung, sejumlah keluarga Pande tampak berada di IGD RSUD Klungkung sedang mengurus administrasi dengan mata yang sembab.

Sementara itu, salah seorang paman Pande, Ketut Alit Mawa saat ditemui di lokasi kejadian mengungkapkan, Pande pertama kali ditemukan gantung diri oleh ayah, dan pamannya.

Pada saat itu, Pande dalam posisi berdiri di atas jok sepeda motor dengan selendang terikat di rangka atap garasi dan leher.

Di dekat sepeda motor, terdapat tempat duduk yang diperkirakan digunakan Pande untuk naik ke jok motor dan melakukan aksi bunuh dirinya itu.

“Ini masih ada jejak kakinya. Waktu ditemukan, badannya masih hangat. Jadi langsung diturunkan dan langsung dibawa ke RSUD Klungkung. Tapi di sana sudah dinyatakan meninggal,” ujarnya.

Menurutnya, ayah Pande mendatangi rumahnya di wilayah Perumahan Sangkan Buana, Kelurahan Semarapura Kauh itu setelah Pande mengirim pesan Whatsapp agar ayahnya menjemputnya di rumah sekitar pukul 07.00 lebih.

Tidak hanya meminta dijemput, Pande juga meminta agar ayahnya tidak mengajak ibunya namun mengajak seorang karyawan laki-laki ayahnya untuk membantu menyetir mobil.

“Setelah membaca WA itu, Bapaknya Pande langsung berangkat karena merasa ada yang janggal. Sampai di sini sekitar pukul 08.00,” terangnya.

Meski tidak terlalu tahu banyak dengan kondisi keluarga Pande, Alit mengungkapkan pihaknya tidak pernah mendengar ada permasalahan serius antara Pande dan keluarga.

Sehingga pihaknya tidak bisa memperkirakan hal apa yang menjadi penyebab Pande akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

Selama di Perumahan Sangkan Buana, Pande hanya tinggal seorang diri. Sementara ayah dan ibu Pande, tinggal di Karangasem.

“Pande sering pulang ke Sogra kalau libur. Anaknya biasa saja. Di keluarga juga tidak ada masalah. Bapaknya tidak pernah mengekang.

Bahkan, diberikan pilihan untuk bersekolah di mana pun yang disukai. Makanya kakaknya ada yang bersekolah di Denpasar,” katanya.

Lebih lanjut diungkapkan, jenazah Pande rencananya dikremasi. Namun untuk kepastiannya akan dilakukan rapat keluarga terlebih dahulu.

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP