Rabu, 21 Aug 2019
radarbali
icon featured
Hiburan & Budaya

Punah Tahun 70-an, Tari Tenun Gaya Buleleng Dibangkitkan Lagi

12 Agustus 2019, 01: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

tari tenun gaya, tari punah, tari tradisional, dinas kebudayaan buleleng

TARI TENUN: Penampilan tari tenun saat gong kebyar mebarung kemarin (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

SINGARAJA – Tari tenun dengan gaya Buleleng, dikenalkan pada publik. Tari ini sempat punah pada tahun 1970-an silam. Kini tarian itu telah direkonstruksi.

Meski belum sempurna, namun hasil rekonstruksi itu diklaim sudah mendekati aslinya. Selama ini masyarakat lebih menganal Tari Tenun yang diciptakan oleh I Nyoman Ridet, seniman asal Banjar Campuhan, Desa Kerobokan, Badung.

Namun di Buleleng sebenarnya ada pula Tari Tenun dengan gaya kekebyaran dauh enjung, yang diciptakan oleh mendiang Ketut Merdana.

Ketut Merdana sendiri dikenal sebagai seniman yang sangat produktif. Sayangnya, saat ia tutup usia, banyak pula karya-karyanya yang hilang tak ditarikan lagi. Akibatnya banyak tari-tari ciptaannya yang punah.

Kali ini Tari Tenun gaya Buleleng direkonstruksi oleh Sanggar Seni Langun Kerthi Budaya, Desa Lokapaksa.

Untuk pertama kalinya, setelah punah selama empat dasa warsa, Tari Tenun ditampilkan di hadapan masyarakat Buleleng.

Tari itu ditampilkan saat penampilan Gong Kebyar Mebarung Dangin Enjung-Dauh Enjung di Sasana Budaya Singaraja, serangkaian Buleleng Festival (Bulfest) 2019.

Secara umum, Tari Tenun menceritakan aktifitas wanita sehari-hari pada masa lampau. Wanita pada masa tersebut, selalu menenun di rumah untuk mengisi waktu luang.

Tari Tenun dengan gaya Buleleng, disebut menggabungkan gaya Bali Selatan yang kemudian dikreasikan ulang oleh Ketut Merdana. Baik itu dalam hal karawitan maupun tari.

Ketua Sangar Langun Kerthi Budaya Gusti Bagus Muliawan mengatakan, saat menggali tari tersebut ia harus mencari sejumlah penglingsir seni yang ada di Buleleng.

Terutama yang ada di Desa Kedis, yang notabene tanah kelahiran seniman Ketut Merdana. Selain itu ia juga mencoba menggali lewat arsip-arsip yang ada.

“Akhirnya kami dapat gambaran seperti apa gerak tari dan karawitannya. Jadinya seperti yang kami pentaskan malam ini (Kamis malam, Red).

Perbedaan yang paling mencolok itu dari sisi karawitan. Kalau dari gerak tari, memang ada banyak kemiripan dengan Tari Tenun ciptaan Nyoman Ridet,” kata Muliawan.

Menurutnya memang ada beberapa hal yang masih perlu disempurnakan. Baik dalam hal karawitan maupun gerak tari. Hal lain yang perlu diperbaiki adalah segi pakaian.

“Kami masih pakai pakaian gaya Bali Selatan. Kalau tari tenun gaya Bali Utara yang berbeda itu dari hiasan kepalanya. Kedepan ini akan kami sempurnakan lagi,” imbuhnya.

Sementara itu Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Buleleng Wayan Sujana mengatakan, pihaknya sengaja mendorong sanggar-sanggar yang ada di Buleleng menggali karya-karya maestro seni yang dulu sempat bersinar.

Sehingga karya-karya itu dapat dikenal lagi oleh generasi kini. “Ini memang baru pertama kali ditarikan. Memang banyak karya-karya almarhum Ketut Merdana yang hilang,

setelah beliau meninggal. Penyebabnya karena tak ditarikan lagi. Selama ada narasumber yang bisa memberikan gambaran karya-karya maestro dulu, kami akan terus lakukan penggalian,” kata Sujana. 

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP