Kamis, 19 Sep 2019
radarbali
icon featured
Dwipa

Sanksi Adat Duo Turis Ceko Cebok di Tempat Suci, Begini Kata Bendesa…

16 Agustus 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

viral medsos, pelecehan tempat suci, video mekonceng, monkey forest, turis ceko, polres gianyar, gubernur koster

Bule yang memerankan video mekonceng alias cebok membasuh alat vital di tempat air suci mengikuti upacara guru piduka (Indra Prasetia/Radar Bali)

Share this      

UBUD – Tiga orang turis asal Cekosloavia, terdiri dari dua pemeran video mekonceng alias cebok di tempat suci dan satu orang perekam,

Kamis (15/8) kemarin kembali mendatangi Monkey Forest, di Desa Padangtegal, Kelurahan Ubud, Kecamatan Ubud.

Setelah meminta maaf, kemarin mereka menjalani sanksi adat; mengikuti upacara guru piduka atau permohonan maaf.

Dua turis pemeran video mekonceng, yakni Zdenek Slavka, 25, dan Sabina Dolezalova, 22. Sementara perekam video, Marketa Mataoskova, 50,

Mereka datang ke Monkey Forest Ubud ditemani perwakilan konsulat mereka, Ni Nyoman Sri Darmayanti.  Ketiga turis itu ikut mencakupkan tangan saat prosesi persembahyangan berlangsung.

Bendesa Pakraman Padangtegal I Made Gandra menyatakan, prosesi upacara guru piduka itu berlangsung pukul 12.00.

“Sesuai kesepakatan kami terkait adanya kejadian di pura beji ini. Hari ini dilakukan guru piduka. Harapannya agar energi yang ada di beji ini kembali seperti semula,” ujarnya, kemarin.

Upacara juga ditujukan bagi semua pihak. “Begitu juga dengan semua pihak yang melihat, mendengar, dan mengetahui kejadian ini mari kita sama-sama introspeksi diri menjaga alam Bali ini,” jelasnya.

Kata Gandra, kedua turis leluasa masuk karena areal itu memang dibuka untuk turis. “Untuk tempart tirta ini akan direnovasi dulu, setelah itu kita buka lagi.

Karena itu kan tirta atau air yang memberikan kesejahteraan tidak boleh ditutup, dan kesejahteraan harus terus mengalir,” imbuhnya.

Dengan kejadian ini, kata dia, akan menjadi pembelajaran bagi pengelola. “Begitu juga dengan pihak konsulat negara asing yang ada di Indonesia sebaiknya jauh-jauh hari memberikan

informasi kepada warganya. Apa saja yang bisa dilakukan dan apa juga yang tidak bisa dilakukan pada obyek yang mereka akan kunjungi setibanya di Bali,” pungkasnya.

(rb/dra/mus/JPR)

 TOP