Kamis, 21 Nov 2019
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Tolak NKRI Harga Mati, Puluhan Mahasiswa Papua Tuntut Papua Merdeka

06 September 2019, 11: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

mahasiswa papua, tolak nkri, papua merdeka, tolak diskriminasi, mahasiswa papua demo, polresta denpasar

Puluhan mahasiswa Papua membawa sejumlah poster menolak diskriminasi terhadap orang Papua dan menuntut Papua Merdeka dari Indonesia (Marcell Pampur/Radar Bali)

Share this      

DENPASAR - Puluhan massa dari Ikatan Mahasiswa dan Masyarakat Papua di Denpasar, Bali kembali turun ke jalan.

Mereka menggelar aksi demonstrasi di bundaran Renon, tepatnya depan Plaza Renon, Jumat (6/9) pagi menjelang siang.

Massa awalnya menggelar long march dari parkiran timur lapangan Renon. Kemudian bergerak ke timur menuju bundaran Renon. 

Dalam aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 Wita ini, massa aksi menuntuk agar Papua Merdeka dari negara Indonesia.

Untuk mempertegas tuntutan, selain melakukan orasi terkait tuntutan merdeka, mereka juga membawa sejumlah poster dan mengenakan kostum Bintang Kejora.

"Jangan tawarkan NKRI harga mati ke kami orang Papua," ujar seorang narator aksi tersebut. 

Jubir aksi, Joice Uropdana mengatakan bahwa bahwa aksi kali ini juga untuk menyikapi adanya tujuh orang mahasiswa asal Papua dan seorang lain dari Indonesia yang ditahan oleh Polda Metro Jaya pascaaksi demonstrasi di Istana Negara beberapa waktu lalu.

"Kami turun jalan untuk meminta kebebasan kepada mereka tanpa syarat apapun," katanya saat diwawancara di sela aksi. 

Lanjut dia, aksi diskriminasi terhadap orang Papua tidak hanya dilakukan oleh masyarakat di luar Papua. Namun aksi diskriminasi juga terjadi atas ditahannya delapan orang yang terlibat dalam aksi di Istana Negara beberapa waktu lalu. 

"Diskriminasi dalam tindakan hukum juga dilakukan oleh pihak pihak Kepolisian Indonesia dengan gampang menetapkan tersangka kepada ke-8 kawan kami,

berselang dua hari setelah dilakukan pada tanggal 29 Agustus lalu di depan Istana Merdeka di Jakarta," tambah Joice. 

Kata Joice, salah satu hal lain yang mereka sesalkan adalah lambannya pemerintah Indonesia menindak tegas pelaku rasisme terhadap mahasiswa Papua yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu.

"Yang di Surabaya itu kenapa harus membutuhkan waktu lama hingga dua minggu untuk menetapkan tersangka. Tetapi kawan-kawan kami dengan gampang dengan tuduhan makar

ditetapkan sebagai tersangka, itu yang menjadi dasar kami turun lagi. Jika tuntutan kami tidak diindahkan oleh pemerintah  aksi seperti ini akan terus kami lakukan,

 tentunya sampai Papua Merdeka. Kami mahasiswa Papua di mana pun akan turun ke jalan minta Papua Merdeka," tegas Joice.

Sementara itu, aksi ini sendiri berlangsung lebih dari satu jam. Aksi ini juga dikawal ketat oleh aparat kepolisian, dan juga dari pihak TNI.

(rb/mar/mus/JPR)

 TOP