Selasa, 22 Oct 2019
radarbali
icon featured
Ekonomi
PGConf Asia 2019

Potensi Ekonomi Digital Tembus USD 150 Miliar, Indonesia Genjot SDM IT

09 September 2019, 23: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

pgconf asia 2019, ekonomi digital, sdm it indonesia, pemprov bali

Julyanto Sutandang (dua dari kiri) selaku Steering Commitee PGConf.Asia 2019 saat membeber SDM Indonesia di bidang teknologi informasi (Marcel Pampurs/Radar Bali)

Share this      

DENPASAR – PGConf Asia 2019, konferensi tingkat dunia tentang seluruh aspek software database Open Source PostgreSQL,

secara resmi dibuka Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace di Grand Inna Bali Beach, Sanur, Denpasar Selatan, Senin (9/9).

Konferensi internasional yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia tersebut mengusung tema “Saat Bisnis Bertemu Peretas” dan berlangsung mulai Senin (9/9) hingga Kamis (12/9) mendatang.

Serangkaian topik menarik yang terbagi ke dalam 30 sesi akan dipaparkan seputar implementasi dan dampak PostgreSQL di dunia bisnis.

“Pemerintah Provinsi Bali menyambut baik perhelatan PGConf Asia 2019 untuk mendukung kemajuan perkembangan software Open Source di sektor bisnis.

Didukung oleh komunitas yang aktif dan loyal, software Open Source mampu berinovasi dengan cepat sehingga meningkatkan fleksibilitas dalam menjalankan roda usaha,” kata Wagub Cok Ace.

Wagub Cok Ace berharap, PGConf Asia 2019 dapat berkontribusi terhadap peningkatan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi Indonesia, khususnya di Bali.

"Saya berharap PGConf Asia 2019 dapat berkontribusi terhadap peningkatan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi di Bali

khususnya dan seluruh Indonesia pada umumnya untuk mencapai potensi ekonomi digital seperti yang ditargetkan oleh pemerintah," tambahnya.

Sementara itu, Steering Commitee PGConf Asia 2019, Julyanto Sutandang, mengatakan, salah satu tantangan Indonesia

menyambut Revolusi Industri 4.0 adalah kesiapan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi yang dirasa belum memadai.

Baik itu secara kuantitas maupun kualitas untuk mencapai potensi ekonomi digital sebesar USD 150 miliar pada 2025.

Berdasar data keluaran Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) nasional 2017 masih rendah yakni di level 4,99 dari skala 1 sampai 10.  

Sedangkan di tingkat global, Indonesia berada di urutan ke-45 dari 140 negara atau ke-4 di wilayah Asia Tenggara di dalam daftar The Global Competitiveness Report 2018 keluaran World Economic Forum. 

Di sisi wirausaha, Indonesia disebutkan baru memiliki pengusaha sebanyak 1,65 persen dari populasi jumlah penduduk dan diperkirakan hanya sekitar 0,43 persen, di antaranya berbasis teknologi atau technopreneur.

Menurut ICT Development Index 2017, Indonesia berada di peringkat 111 dari 176 negara. "Menurut perusahaan riset A.T. Kearney, sektor pendidikan di Indonesia hanya mampu

menghasilkan 278 insinyur TI dari setiap 1 juta penduduk. Angka lulusan tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia yang mencetak 1.834 insinyur TI

dan India yang mencetak 1.159 insinyur TI dari setiap 1 juta penduduk. Riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan

5 kali lebih banyak insinyur TI dalam 10 hingga 15 tahun ke depan untuk mendukung perkembangan ekonomi digital," beber Sutandang. 

Maka dari itu, kata dia, diperlukan pendidikan dan pelatihan yang tepat untuk mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing di Revolusi Industri 4.0.

"Pemaparan beragam materi di dalam konferensi PGConf.Asia 2019 akan memberikan peningkatan wawasan dan keahlian profesional bagi para peserta.

Konferensi ini digelar sebagai bagian dari bentuk tanggungjawab kami dalam membangun solusi dan ekosistem berkelas enterprise di pasar tanah air berbasiskan software Open Source," lanjutnya. 

(rb/mar/mus/JPR)

 TOP