Selasa, 22 Oct 2019
radarbali
icon featured
Features
Saat Wisman Jadi Relawan English Corner

Mengajar Bahasa Inggris di Sekolah, Bagi Tips Native Speakers ke Siswa

15 September 2019, 13: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

wisatawan asing, english corner, sman 2 banjar, mengajar bahasa inggris, native speakers

Dua wisatawan Christy dan Isabelle ketika mengajarkan pelajaran bahasa Inggris kepada siswa kelas XI Bahasa dan Budaya SMAN 2 Banjar, Buleleng (Juliadi/Radar Bali)

Share this      

Cukup unik yang dilakukan dua wisatawan asing Christy asal kota Texas, Amerika, dan Isabelle, asal Swedia. Meski berlibur ke Bali dia tetap mengisi waktu liburnya

untuk  berbagi ilmu pelajaran bahasa Inggris dengan anak-anak asal Desa Sidatapa, Banjar, Buleleng. Bahkan, kedua juga mencoba mengajar Bahasa Inggris di sekolah.   

 

JULIADI, Banjar

PAGI itu suasana kelas mendadak ceria setelah kedua wisatawan asal negara berbeda masuk ke kelas XI Bahasa dan Budaya.

Kedua bule tersebut langsung diperkenalkan oleh relawan English Corner Sidatapa (ECS) kepada para siswa.

Isabelle, 29, kala mengenakan pakai kebaya Bali memperkenal diri kepada para siswa. Begitu pula Christy, 32.

Apa yang dilakukan kedua bule ini cukup menarik disela kunjungannya ke tempat-tempat wisata di Buleleng.

Kedua bule ini memilih menghabiskan waktu senggangnya dengan menjadi relawan pendidikan yang dibentuk oleh sekumpulan anak muda Desa Sidatapa bernama English Corner Sidapata (ECS).

Kedua wisman ini berbagi ilmu dengan pelajar. Salah satunya dengan memberikan pelajaran Bahasa Inggris kepada para siswa SMAN 2 Banjar.

Christy mengaku kedatanganya di Buleleng saat ini bukan yang pertama kali, melainkan sebelumnya juga sudah pernah datang di Buleleng dan juga menyempatkan diri untuk memberikan pelajaran Bahasa Inggris secara suka rela di desa Sidatapa.

“Ini kesempatan bagus bagi anak-anak untuk belajar bahasa Inggris. Apalagi ketemu dengan anak langsung lebih cepat belajar bahasa Inggris dan berkomunikasi langsung,” kata Christy.

Christy yang juga guru yoga paham betul bagaimana memotivasi siswa untuk berani berbicara bahasa Inggris.

Sedangkan siswa yang pasif, Christy banyak memberikan pertanyaan untuk memancing agar siswa tersebut lebih kreatif dan berani berbicara dalam berbahasa Inggris.

“Kalau untuk cepat bisa belajar bahasa inggris tentunya lebih banyak praktek. Kemudian lebih banyak belajar bahasa Inggris dengan native speaker, berbicara bahasa Inggris secara natural apa adanya,” ungkapnya.

Sementara Isabelle sangat terkesan ketika baru pertama kali mengajar bahasa Inggrisdi Indonesia. Murid dan gurunya ramah. Anak-anak juga sangat menghormatinya.

Ada perbedaaan pembelajaran bahasa Inggris antara di Indonesia dengan negara Swedia. Kalau di swedia anak-anak lebih aktif berkomunikasi dan bertanya kepada guru.

Sehingga anak mudah memahami materi pelajaran yang diajarkan. Sedangkan di Indoensia guru lebih aktif ketimbang anak murid.

“Saya kira untuk tips belajar bahasa Inggris anak lebih banyak praktek bahasa,” ungkapnya. Wakil Kepala Sekolah SMAN 2 Banjar

Bidang Humas Ida Komang Artismaya menjelaskan datangnya tamu asing ke sekolah mengajar bahasa Inggris sebuah hal yang berbeda bagi pihaknya sekolah.

Ini tentu lebih memotivasi anak untuk giat dan semangat belajar. Pengaruhnya sangat luar biasa bagi anak-anak.

Mereka tahu karakter wisatawan, cara dia (wisman) berbahasa Inggris dan kebiasaan mereka. “Beberapa kali ECS sering bawa tamu, namun tidak begitu terprogram.

Kami berharap program dari ECS berkelanjutan. Karena dengan adanya tamu asing yang datang memotivasi biar anak

mau belajar bahasa Inggris. Bahkan ada yang mau belajar bahasa Inggris di English Corner Sidatapa(ECS),” ungkapnya.

Di sisi lain Founder ECS Wayan Anggi didampingi dengan Ketua ECS Komang Riana mengatakan sejauh ini perkembangan ECS

yang sudah berjalan 8 bulan cukup pesat. ECS kini sudah membuka 4 cabang bahasa Inggris di desa-desa yang ada di Buleleng.

“Kami sifat relawan, jadi guru yang mengajar bahasa Inggris tidak digaji mereka secara sukarela datang mengajar bagi anak-anak desa di Buleleng khususnya desa Sidatapa,” terang Anggi.

Sejatinya dalam belajar bahasa Inggris lebih banyak prakteknya. Kalau belajar bahasa Inggris tidak harus tidak terpaku

dengan gramer, tetapi bagaimana mengasah anak dan kemammpuan anak agar bisa berbicara dulu bahasa Inggris.

“Sebagai relawan ECS, kami juga mengajar bahasa Jepang, membatu masyarakat untuk bedah rumah bagi keluarga miskin, membantu anak-anak cacat, putus sekolah dan konsen dengan masalah lingkungan,” tandasnya.(*)

(rb/jul/mus/JPR)

 TOP