Kamis, 21 Nov 2019
radarbali
icon featured
Features
Gang Beji; Pangkalan Arak Legendaris di Bali

Dulu Tersohor Lantaran Dikenal Paling Enak, Mulai Mabuk Disuruh Pulang

22 Oktober 2019, 00: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

gang beji, pangkalan arak legendaris, jalan gajah mada, tersohor paling enak, pangkalan arak

LENGANG : Suasana Gang Beji, yang dekat Jalan Gajah Mada dan Pasar Badung, di siang hari tampak lengang. Dulu di sini di malam hari selalu ramai karena pelapak arak Bali. (Adrian Suwanto/Radar Bali)

Share this      

Gang Beji bisa jadi tempat yang tidak akan asing di telinga warga Kota Denpasar. Sebagian warga kota sudah tahu tempat tersebut. 

Gang yang  berada di kawasan strategis  karena dekat dengan Pasar Badung ini selalu ramai karena aneka makanan dengan harga terjangkau. 

Dulu, gang ini terkenal ada penjual arak paling enak. Seperti apa?

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Denpasar

SIANG itu, saat Jawa Pos Radar Bali bertandang ke jalan perkampungan padat yang sempit itu tampak lengang. 

Ni Luh Gubeg, salah satu pedagang yang setia berjualan di gang sempit tersebut. Dia  mengaku berjualan dari zaman Soekarno sampai Jokowi. 7 presiden dilalui.

Gang yang tidak luas hanya bisa melintas satu motor dengan satu arah. Di tengah keramaian heritage kawasan Gajah Mada Kota Denpasar, gang Beji rasanya tak lekang oleh waktu. 

“Dari zaman penjajahan Jepang nenek saya sudah berjualan di sini. Sekarang saya sebagai cucunya yang meneruskan,” ungkap nenek yang berusia 75 tahun ini. 

Masih segar dalam ingatan Luh Gubeg masa lalu Gang Beji. Selain sebagai tempat mengais rezeki dari neneknya sampai sekarang. Rumahnya juga di sana.  

Dia menjual makanan, dulu  pernah jual nasi jinggo. Nasi jinggonya juga terkenal,  dan lambat laun berubah jual nasi campur. 

Nah, hingga sekarang hanya jualan kopi dan camilan. Jadi dagang nasinya ramai, karena imbas dari dagang arak. Yang minum arak saat itu  pasti beli nasi di tempatnya. 

“ Ramai di sini minum- minum. Araknya dikenal paling enak. Naruhnya pakai guci, gitu. Sekarang  sudah tidak boleh lagi. Sekarang sepi (gangnya). 

Tiyang kan kangguang (seadanya) jualan. Tidak seperti dulu ramai. Dulu pertama nasi jinggo, sekarang tidak. Karena kosong tidak ada yang lewat,” tuturnya, tentang kondisi masa lalu tempat itu. 

“Terkenal araknya di sini karena  pintar mencampurinya (olahannya),” cetusnya sambil mengacungkan jempolnya. 

Meski terkenal sebagai kawasan miras,  penjual arak dan tempat “minum”,  namun Gubeg menepis kalau mereka (pembeli arak) sampai mabuk-mabukan. 

Katanya, kalau mulai terasa mabuk, mereka akan segera pulang.  Jadi, ada semacam etika  tidak tertulis bahwa  di situ hanya sebagai tempat minum saja. 

Tidak lebih. “Men be mabuk enggalan muleh ibanne (kalau sudah mabuk, segera pulang dia),” tukasnya. 

Melihat gang ini memang banyak toko yang masih berasitektur lama. Misalnya, dari jendela pintu dipertahankan dengan model lama.  

Tapi, kini pemerintah Kota Denpasar akan menghidupkan dan menata  dengan menggambar mural di tembok-tembok gang tersebut. 

Jawa Pos Radar Bali  pun melihat sudah ada gambar ular yang selesai dikerjakan. Tapi, prosesnya masih berjalan untuk tembok bagian Timur Gang Beji. 

Mural itu masih belum tuntas sepenuhnya. Gang itu akan disulap menjadi lebih rapi tertata, apalagi juga dekat dengan Tukad Badung atau Tukad Korea yang  menjadi tempat rekreasi krama Kota Denpasar. 

Dengan tetap menjaga keaslian bangunan yang khas. Sehingga mampu memberikan stigma baru kawasan  heritage Kota Denpasar. 

Seperti halnya Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Denpasar bersama Desa Pemecutan Kaja

serta masyarakat turut menggelar giat kebersihan di kawasan heritage Kota Denpasar yakni Gang Beji, Jumat (18/10). 

Giat kebersihan dilaksanakan dengan merapikan kawasan gang legendaris di Kota Denpasar tersebut. 

Pembersihan dilaksanakan mulai dari pengangkutan pasir yang menumpuk dan tidak berguna, pemotongan tumbuhan liar serta menata kawasan sehingga lebih bersih dan asri. 

Selain itu, sebelumnya juga telah dilaksanakan mural pada gang tersebut. Kabid Pertamanan Dinas Perkim Kota Denpasar, IA Widhianasari,  

saat diwawancarai menjelaskan bahwa kegiatan bersih-bersih ini merupakan implementasi dari program Jumat Pagi Bersih Lingkungan (Jumpa Berlian) yang dicanangkan. 

Sehingga setiap OPD jadi  penjaga kebersihan lingkungan di masing-masing desa. Selain itu, kata perempuan yang akrab disapa Dayu Widia ini bahwa pelaksanaan 

kegiatan kebersihan ini guna merangsang masyarakat untuk ikut aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sehingga kawasan sekitar terlihat bersih dan asri.

“Kami  terus merangsang masyarakat untuk ikut aktif menjaga lingkungan sekitar, terlebih lagi Gang Beji merupakan 

kawasan heritage Kota Denpasar, di mana keberadaannya memiliki sejarah dan perjalanan yang panjang,” terangnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan ini juga sebagai upaya untuk mendukung program pengembangan estetika kota. 

Sehingga ke depannya dapat menjadi pilihan destinasi wisata heritage di Kota Denpasar.

“Banyak sekali bangunan dan kawasan yang bernilai sejarah di Kota Denpasar yang membutuhkan partisipasi masyarakat untuk menjaga kebersihan sehingga memiliki nilai  tourism,” ujarnya.

Dayu Widia berharap ke depannya masyarakat ikut aktif menjaga lingkungan. Selain untuk menjaga keasrian lingkungan, juga untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat.

“Mari bersama-sama aktif menjaga lingkungan untuk Kota Denpasar yang bersih serta mendukung pengembangan Denpasar sebagai heritage city,” ujarnya. (*)

(rb/feb/pit/mus/JPR)

 TOP