Minggu, 15 Dec 2019
radarbali
icon featured
Features
Saat Krisis Air Bersih Melanda Jembrana

Dibiarkan Mangkrak 28 Tahun,Warga Berharap Sumur Bor Bisa Dimanfaatkan

15 November 2019, 14: 12: 53 WIB | editor : ali mustofa

krisis air bersih, sumur bor mangkrak, mangkrak tahun, pdam jembrana

Sumur bor yang dibuat tahun 1991 untuk subak belum digunakan hingga saat ini. (M.Basir/Radar Bali)

Share this      

Sejak kemarau terjadi, warga mengalami krisis air bersih dan air untuk pengairan pertanian. Padahal, masih ada potensi sumber air yang belum digunakan.

Seperti sumur bor yang berada di Banjar Tangi, Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara. Sumur bor yang dibuat sejak 28 tahun lalu, belum pernah digunakan. Kok bisa?

 

M.BASIR, Negara

HAMPIR semua wilayah di Bali saat ini mengalami kekeringan. Tak terkecuali Kabupaten Jembrana. Meski sempat diguyur hujan lebat beberapa pekan lalu, namun air bersih masih jadi kendala utama.

Masalahnya, potensi air bersih di Bali, terutama Jembrana cukup banyak. Tapi, belum bisa dioptimalkan untuk mengatasi kelangkaan air bersih saat ini.

Misalnya sumur bor yang ada di Banjar Tangi, Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara. Menurut warga, sumur bor yang berada di tanah negara seluas 20 are tersebut dibangun pada tahun 1991.

Namun sejak selesai dibangun, sumur bor dengan kedalaman sekitar 100 meter tersebut belum pernah digunakan. Karena sejak dibuat hanya sumur bor tanpa mesin pompa penyedot air.

"Dulu yang bangun katanya dari pemerintah pusat. Awalnya rencana buat pengairan subak, tapi belum pernah digunakan," kata Made Ardana, yang rumahnya tepat sebelah sumur bor.

Karena tidak pernah dipakai, air sumur bor tersebut sempat dicek PDAM Jembrana untuk melihat kualitas air.

Perusahaan plat merah tersebut meneliti air karena berminat untuk mengelola sumur bor untuk mencukupi air bersih warga, namun setelah dilakukan penelitian kualitas air tidak ada tindaklanjutnya.

"Kalau saya pribadi lebih setuju kalau dikelola PDAM daripada tidak digunakan. Subak sekarang juga sudah ada sumur bor lain," terangnya.

Menurutnya, selama musim kemarau ini air bersih dari PDAM pada jam tertentu mengecil. Sehingga, diharapkan sumur bor yang mangkrak tersebut bisa dimanfaatkan untuk

menambah pasokan air PDAM yang disalurkan ke rumah warga yang sering mengalami krisis air bersih, terutama warga Desa Tegal Badeng Timur dan desa lainnya.

Dirut PDAM Tirta Amertha Jati Jembrana IB Kerta Negara mengatakan, sumur bor tersebut dibangun Balai Wilayah Sungai Bali Penida pada tahun 1990-an, namun hingga saat ini belum digunakan.

Karena itu, pihaknya memohon pada Balai untuk memanfaatkan sumur bor untuk kebutuhan air bersih warga di tiga desa, Tegal Badeng Timur, Cupel dan Pengambengan.

"Kalau BWS sudah menyetujui dimanfaatkan PDAM," terangnya. Permohonan tersebut berdasar pada hasil pengecekan kualitas air dari sumur bor tersebut.

Hasil pengecekan, kualitas air sangat baik sehingga bisa menjadi potensi yang besar untuk disalurkan ke rumah warga.

"Kami memang ada rencana mengelola sumur bor itu, tapi terkendala teknis di lapangan. Masih ada warga yang tidak setuju jika PDAM yang menggunakan sumur bor," ujarnya.

Pihaknya berharap penggunaan sumur bor tersebut berjalan, karena sebagai solusi mengatasi kekeringan yang terjadi setiap musim kemarau.

Bahkan anggaran dari PDAM untuk membeli pompa dan pipa sudah disiapkan, termasuk pemasangan gardu PLN untuk listrik pompa air. (*)

(rb/bas/mus/JPR)

 TOP