alexametrics
Sabtu, 04 Apr 2020
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Cerita Kelam Istri Korban Gestapu di Bali

Suami Hilang dan Dibantai Saat Ronda, Lalu Jasadnya Dibuang ke Sumur

05 Desember 2019, 21: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

sumur tua angker, pembongkaran sumur tua, korban Gestapu, G30S PKI, misteri sumur tua, pembantaian PKI Bali, suami dibantai, diculik saat ronda, jasad

Ni Nengah Nitri saat menceritakan kisah kelam semasa suaminya menjadi korban Gestapu 54 tahun silam (M.Basir)

Share this      

MESKI sudah puluhan tahun silam, suasana mencekam dengan suara desingan tembakan dan teriakan histeris masih terekam jelas dalam benak ingatan Ni Komang Nitri.

Perempuan 70 tahun itu juga tak pernah lupa bagaimana saat suaminya dikabarkan menghilang dan dibuang ke sumur tua didekat rumahnya di Banjar Tegal Badeng, Desa Tegal Badeng Timur, Negara, Jembrana, Bali.

 

M.BASIR, Negara

Ni Komang Nitri atau Mang Ti, begitulah warga sekitar dan keluarganya biasa menyapa.

Saat Jawa Pos Radar Bali menemui perempuan ini, matanya tampak menerawang.

Sesekali, pandangannya juga terlihat kosong.

Guratan dan lipatan di dahinya juga menunjukkan begitu keras kehidupan perempuan tua yang tinggal di Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara, ini.

Mang Ti adalah saksi sejarah dan juga istri dari mendiang Nengah Suka, salah satu korban peristiwa 1965 silam.

Diduga Suka hilang diculik dan dibantai lalu mayatnya dibuang ke dalam sumur tua dan angker di wilayah Banjar Tegal Badeng, Desa Tegal Badeng, Negara dalam peristiwa Gestapu 54 tahun silam.

Sembari mata menerawang, Mang Ti pun sangat jelas mengisahkan peristiwa kelam yang dialaminya.

Menurut Mang Ti, kisah pedih itu berawal ketika dirinya sedang hamil tua. Saat itu, ia mendapat kabar bahwa suaminya, Nengah Suka, menghilang.

Setelah lama mencari dengan kondisi hamil tua, Nitri mendapat kabar bahwa suaminya, dibuang ke dalam sumur dekat rumahnya sendiri, Banjar Tegal Badeng, Desa Tegal Badeng Timur.

Bahkan meski sudah mendnegar kabar mengenai keberadaan jasad suaminya dibuang  dalam sumur, tidak ada yang berani menggali sumur untuk mengambil jenazah.

“Sumur sudah diuruk dengan tanah dan situasi di Tegal Bandeng Timur dan Jembrana saat itu tidak kondusif, kacau seperti sedang perang. Gumine wuug," ujar Mang Ti, Kamis (5/12).

Menurut Mang Ti, saat peristiwa itu, pernikahan dengan Nengah Suka suaminya baru berjalan setahun lebih.

Ketika itu, mereka tinggal di Kelurahan Lelateng, di rumah orang tuanya.

Hampir setiap hari mendengar bunyi tembakan dari berbagai penjuru Jembrana. Desingan peluru dari berbagai arah terdengar jelas dari persembunyian dalam rumah.

"Tidak ada orang yang berani keluar rumah. Takut semua, bunyi tembakan keras sekali," ungkapnya.

Kemudian pada suatu malam, ada yang datang menemui Nengah Suka meminta pulang ke rumahnya di Tegal Badeng Timur.

Orang yang menjemput itu mengatakan untuk melakukan ronda di pos jaga di desa. Tetapi sejak malam itu, Nengah Suka tidak pernah kembali.

Keluarganya juga mencari, tapi tidak pernah menemukan keberadaannya, karena selain Nengah Suka, kakak pertamanya Wayan Dana juga menghilang tanpa jejak.

Sampai suatu ketika, ada kabar bahwa Nengah Suka dibuang kedalam sumur yang sudah tertimbun tanah di belakang rumahnya. "Tapi kalau Wayan Dana tidak tahu dimana (dikubur)," ujarnya.

Mang Ti menuturkan, aktivitas Nengah Suka selama hidup bersamanya tidak pernah terlibat dalam partai politik atau organisasi apapun. Nengah Suka hanya petani biasa, seperti saudaranya yang lain.

Karena itu, motif dari pembunuhan Nengah Suka masih belum diketahui. Karena saat terjadi peristiwa itu, tidak hanya orang yang terkait dengan PKI menjadi korban, petani dan orang yang tidak tahu tentang politik juga terbunuh.

Karena sekarang sumur tua sudah digali dan ulang belulang sudah diangkat, Mang Ti menyerahkan sepenuhnya pada Kadek Suryawan, yang melakukan penggalian sumur tua. Kadek Suryawan adalah anak dari Ketut Sangga, adik bungsu mendiang Nengah Suka. "Terserah di sana (Kadek Suryawan) kalau mau diaben," imbuhnya.

Karena mengalami kengerian peristiwa 1965 tersebut, bahkan kehilangan mantan suaminya, Mang Ti berharap tidak ada lagi peristiwa yang sama seperti 54 tahun lalu.

Pertumpahan darah tidak ada lagi di Jembrana, cukup sekali saja peristiwa itu terjadi. "Jangan ada lagi seperti itu," tandasnya.

Setelah anak yang dikandungnya lahir, beberapa tahun kemudian Mang Ti menikah dengan Wayan Rawi, 67 dan tinggal di Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara.

Sedangkan anak Mang Ti dengan Nengah Suka sudah menikah dan tinggal di Buleleng. 

(rb/pra/mus/JPR)

 TOP