alexametrics
Minggu, 26 Sep 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa
Karya Agung Pengurip Gumi Pura Batukaru

Hilangkan Leteh Jagat, Umat Hindu Lintasi 18 Desa, Tempuh Puluhan Kilo

30 Januari 2020, 05: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

karya agung, pura batukaru, leteh jagat, umat hindu, 18 desa adat, tempuh puluhan kilo

BERIRINGAN : Ribuan krama hindu saat melakukan upacara Melasti rangkaian Karya Agung Pengurip Gumi dari Pura Luhut Batukau menuju Tanah Lot yang akan berlangsung selama empat hari ke depan. (Istimewa)

Share this      

TABANAN - Ribuan krama umat Hindu di Tabanan melaksanakan prosesi Melasti, serangkaian Karya Agung Pengurip Gumi 20 Februari 2020 mendatang di Pura Luhur Batukau, Desa Wangaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan, kemarin.

Prosesi Melasti diawali dengan persembahyangan Pekeling Metetangi Ngelantur Nedunan Ida Betara yang berstana di Pura Luhur Batukau jagi pacing Melasti ke Segara.

Setelah itu dilanjutkan Pemelastian yang menempuh jarak kurang lebih puluhan kilometer melintasi 18 Desa Adat yang akan dilalui dengan berjalan kaki.

Baca juga: Sebulan Guru Honorer Digaji Rp 1 Juta, Terbantu Program SGI ACT Bali

Ribuan umat yang hadir saat itu melakukan persembahyangan dengan khusyuk dan khidmat. Melasti bertujuan untuk menyucikan kembali isi jagat raya, dilaksanakan dengan berjalan kaki dari pura Luhur Batukau menuju segara Tanah Lot, Tabanan.

Melalui upacara Melasti ini Ida Bhatara tedun napak pertiwi untuk menghilangkan leteh jagat (kekotoran bumi).

Prosesi ini sendiri memakan waktu hingga empat hari tiga malam yang dimulai dari Rabu kemarin, sekitar pukul 08.00 pagi dengan berjalan kaki dari Pura Luhur Batukau sampai dengan tanggal 1 Februari 2020.

Iring-iringan melasti yang mencapai ribuan orang tersebut, terlebih dahulu dari Pura Luhur Batukau akan menyinggahi Pura Puseh Wongaya Gede

untuk beberapa saat dan melanjutkan kembali menuju Desa Tengkudak dan singgah di Pura Bale Agung Desa setempat.

Dari sana, selanjutnya rombongan menuju Desa Penatahan, menyeberangi sungai Yeh Ho, ke jalan utama di Pertigaan Jegu, lalu belok kiri menuju pertigaan Buruan dan belok kanan menuju Desa Wanasari.

Di Desa Wanasari akan singgah di Pura Bale Agung. Perjalanan berlanjut menuju Beji Desa Tuakilang. Dari Beji ini kemudian naik ke jalan utama utara terminal untuk singgah di Pura Pesimpangan Tuakilang.

Dari pura ini perjalanan dilanjutkan menuju Pura Puseh Tabanan untuk bermalam (mererepan). Keesokan hari, Jumat (30/1) sekitar pukul 05.00 pagi,

rombongan melasti memulai kembali perjalanan melalui Patung Sagung Wah ke Jalan Gajah Mada lalu Jalan Melati, di Simpang TL Grokgak Gede - By Pass Soekarno lurus ke selatan.

Sesampainya di pertigaan Gor Debes, berjalan ke timur menuju Pura Beji di jembatan Banjar Demung kemudian singgah di Pura Desa setempat.

Bahkan pada hari itu, iring-iringi melasti diyakini akan mencapai puluhan ribu orang. Usai itu, perjalanan dilanjutkan menuju Jalan Kediri ke selatan, simpang tiga Kediri ke selatan, simpang

patung Catur Muka ke selatan, Nyitdah ke timur, pertigaan Mengesang ke timur hingga Bale Banjar Braban Ulun Desa ke selatan kemudian mesandekkan/beristirahat sebentar di Pura Desa Beraban.

Setelah mesandekan, perjalan dilanjutkan menuju Tanah Lot. Setibanya di Pura Tanah Lot akan dilaksanakan upacara yang cukup besar.

Dimulai Melabuh Gentuh, Padudusan Agung, Mapekelem, dan munggah ke Pura Luhur Tanah Lot.

“Usai prosesi itu, Ida Bethara kembali ke pura melintasi rute yang sama, dan mererepandi Pura Puseh Tabanan,” tutur Ketua 1 Karya Pangurip Gumi, I Wayan Arya. 

Pada, Jumat 31 Januari 2020 sekitar pukul 05.00 pagi, perjalanan dilanjutkan menuju ke Pura Batukau. (zul)

(rb/zul/mus/JPR)

 TOP