alexametrics
Sabtu, 04 Apr 2020
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Mambo; Owner Fabulous Barber Shop Singaraja

Koleksi Pistol VOC dan Mesin Jahit Bendera Merah Putih Pertama di Bali

21 Februari 2020, 14: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

mambo, tukang cukur, fabulous barber shop, pistol voc, mesin jahit, bendera merah putih

Imam Wahyudi alias Mambo saat mencukur rambut pelanggan di tempat usahanya di Kota Singaraja. (Wayan Widyantara/Radar Bali)

Share this      

Dunia bisnis kini memang banyak digeluti kawula muda di Bali. Bahkan, bisnis yang mereka pilih memiliki ide kreatif dan berani berbeda. Seperti tempat cukur bernama Fabulous Baber Shop di Singaraja.

 

WAYAN WIDYANTARA, Singaraja

MENGGELUTI bisnis tukang cukur memang terdengar biasa. Namun jangan salah, tempat cukur yang berada di jalan Sudirman No 43 Singaraja ini menawarkan sisi lain yang membuat kita geleng-geleng kepala.

Belum lama ini, radarbali.id berkesempatan singgah di tempat cukur yang dari luar tempatnya terlihat memang cukup clasic.

Baik dari interior yang digunakan ataupun pemilihan warna cat dominan cokelat dan hitam. Masuk ke dalam, kita akan melihat suasana yang sangat menarik.

Mulai dari kursi tua tempat duduk si pelanggan, hiasan dinding bergambar para musisi clasic dan para si tukang cukur yang berpenampilan stylish.

Imam Wahyudi atau akrab dipanggil Mambo, salah satu pendiri dari tempat cukur Fabulous menjelaskan sejumlah barang yang terpajang di tempat cukurnya.

Namun sebelum itu ia bercerita dulu sebelum tempat cukur ini lahir. Awalnya, Mambo dan teman-temannya pada tahun 2008 silam membuat distro atau jualan baju.

Namun di tahun 2014 akhir berubah profesi menjadi tukang cukur. Padahal mereka memiliki basic sebagai musisi dan memiliki band. 

"Awalnya kami coba-coba, ternyata suka kegiatan ini (mencukur). Kebetulan juga kami suka hal-hal tentang lifestyle. Cocoklah dibidang hair style seperti punk dan sebagainya," ujarnya.

Yang menarik, dari coba-coba dan suka tersebut, niat serius pun muncul. Bahkan mereka mendatangkan guru cukur dari Surabaya untuk datang ke Bali selama 4 bulan latihan.

"Semua temen-temen termasuk saya belajar dari nol. Karena memang diluar dari basic kami sebagai musisi. Kami belajar sama-sama kiranya empat bulan dan kiranya sudah berani, kami buka usaha ini," ujarnya.

Jika melihat dari segi desain, Mambo menyebut gayanya lebih ke old school dan kebetulan Mambo dan teman-temannya hobi dengan barang antik.

Wajar jika tempat cukurnya dihiasi barang-barang lama. Barang antik seperti kursi cukur yang usianya dibawah tahun 1950-an.

Ada juga pistol VOC, radio dan TV tua dan mesin jahit. Mesin jahit ini menjadi special karena merupakan mesin jahit penjahit bendera merah putih pertama di Buleleng.

"Ini mesin jahit dimiliki oleh kakek teman yang digunakan untuk menjahit bendera merah putih pertama di Singaraja. Sekitar tahun 1940-an.

Si kakek yang punya mesin jahit ini juga beberapa kali ditangkap sama Belanda," ceritanya. Nah, karena mesin jahit ini sudah tidak terpakai, daripada ditaruh di rumah, jadi dibawa ke tempat cukurnya.

Hal ini pun membuat tempat cukur ini memiliki nilai lebih dan bahkan satu-satunya seperti ini di Bali.

Disinggung barang mana yang paling sulit di cari, Mambo menyebut kursi cukur yang berusia sangat tua itu.

Sebab ngumpulinnya melalui jaringan para kolektor yang ada di luar Bali seperti di Semarang, Malang dan Jakarta.

Barang-barang yang ada di tempat cukur ini memiliki harga uang cukup mahal. Bisa mencapai belasan juta seperti harga kursi tersebut.

Namun, tidak semua barang yang ada di tempat cukur ini di beli. Ada juga pemberian dari teman dan keluarga.

"Mahal tapi kami nyicil bayarnya," ujarnya lantas tertawa. Tapi banyak juga warisan seperti camera yang digunakan wartawan dahulu saat dibawah menteri penerangan.

Inspirasi dari terbangunnya tempat ini ternyata sederhana. Katanya, karena mereka suka dan membuat mereka nyaman saat bekerja saja. Lalu apa sensasi yang didapatkan para pengunjung?

"Sebagian dari pelanggan kami adalah para orang tua. Mereka senang, karena seperti nostalgia katanya. Mereka banyak bercerita

tentang barang-barang lawas dan kami sama customer itu jadi sudah kayak teman," ujar pria yang juga memiliki basic grafic desain ini.

Mambo berharap usaha ini tetap bertahan. Selain itu juga kedepan akan melakukan rombak di display dan upgrade alat.

Terlebih omzet kotornya dalam perbulan sudah puluhan juta. "Iya kotornya puluhan juta tapi puluhannya nggak banyak," tutupnya lantas tertawa lagi. (*)

 

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP