alexametrics
Minggu, 29 Mar 2020
radarbali
Home > Metro Denpasar
icon featured
Metro Denpasar

Dulu Kecewa Mangrove Mati, Kini Koster Puji Benoa Pelabuhan Terindah

24 Februari 2020, 04: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

mangrove mati, dulu kecewa, gubernur koster, puji pelabuhan terindah, pelabuhan benoa

Pintu masuk Pelabuhan Benoa diabadikan dari udara terlihat indah memesona (dok.radarbali)

Share this      

DENPASAR - Masih ingat bagaimana “galaknya” Gubenur Bali Wayan Koster hingga menghentikan reklamasi pembangunan Pelabuhan Benoa dengan cara reklamasi beberapa waktu lalu?

Koster terlihat marah betul melihat  hektaran mangrove di seputaran pelabuhan Benoa mati yang diduga akibat proses reklamasi tersebut.

Sampai sekarang, kematian mangrove tersebut juga belum ada solusi terbaik. Nah, akhir kisah ternyata berbeda. Kini Koster dengan bangga menyebut pelabuhan Benoa akan menjadi pelabuhan terindah di dunia.

“Pelabuhan Benoa kedepan akan jadi pelabuhan terindah di dunia. Sudah dipresentasikan di hadapan komisi VI DPR RI dan semuanya memberikan apresiasi.

Disaksikan pula bapak Menteri BUMN, Menteri Agraria dan Menteri Pariwisata. Hanya satu di Indonesia pelabuhan indah seperti ini,” ujar Koster saat menghadiri Karya Mendem

Pedagingan lan Lingga Tangan Prasasti ring Karya Melaspas Bumi Sudha lan Mecaru Genah Melasti Desa Adat Pedungan, Denpasar, Minggu (23/2) kemarin.

Koster mengaku terjun langsung mematangkan konsep dan desain pengembangan kawasan Benoa ini, melibatkan pula sulinggih, arsitek-arsitek Bali,

pakar pertanian hingga menjadi pelabuhan yang mengandung nilai filosofi kearifan lokal Bali serta mengedepankan arsitektur Bali.

Salah satunya adalah dengan membangun genah melasti. Genah melasti ini merupakan satu bagian dari pelabuhan Benoa yang dikembangkan dalam suatu desain.

Berkoordinasi dengan dirut dan jajaran direksi pelindo III agar dibangun secara terintegrasi dan utuh, menjadi kawasan yang berkelas dunia.

“Sesuai yang kita harapkan bersama dimiliki oleh Bali, dimana keberadaannya bisa mendukung jalannya kepariwisataan sekaligus juga mendukung pembangunan infrastruktur nasional,” ujarnya.

Desain ini telah menjalani banyak tahapan penyusunan termasuk mendengarkan pula masukan dari masyarakat desa adat Pedungan dan terealisasi lewat pembangunan tempat upacara dan genah melasti ini.

“Pembangunan ini hasil koordinasi saya dengan bapak Dirut Pelindo III dan bapak menteri BUMN. Saya berupaya betul meyakinkan beliau dan astungkara (genah melasti, red) bisa dibangun diatas lahan 1 hektare,” ujarnya.

Target akhir Februari selesai, sebelum hari Nyepi. Ini bisa selesai dengan waktu yang tepat dan disiplin.

“Saya harap  kedepan bisa ditata lagi, fasilitas dan pendukungnya agar bisa harmonis dengan rencana hutan kota dan sarana lainnya. Betul-betul bisa jadi kawasan yang baik,” ujar Koster. 

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP