alexametrics
Sabtu, 04 Apr 2020
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

PHDI Larang Ogoh-ogoh Bermuatan Politik

26 Februari 2020, 15: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

ogoh ogoh, PHDI Jembrana, tahun politik, perayaan Nyepi,

HARUS SESUAI PAKEM : Salah satu aktivitas pemuda banjar saat sibuk membuat ogoh-ogoh menjelang perayaan Nyepi 24 Maret mendatang (M.Basir)

Share this      

NEGARA - Menjelang hari raya Nyepi 24 Maret mendatang, Perisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jembrana mengimbau agar ogoh-ogoh tidak melenceng dari pakem budaya dan agama.

Mengingat, tahun ini merupakan tahun politik, sehingga dikhawatirkan menimbulkan gesekan di masyarakat.

Ketua PHDI Jembrana I Komang Arsana mengatakan, pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran yang secara khusus mengimbau pada masyarakat agar tidak membuat ogoh-ogoh yang menyerupai atau identik dengan politik, terutama yang berkaitan dengan bakal calon dan lambang partai politik tertentu.

"Ogoh-ogoh tidak boleh keluar dari pakem adat, budaya dan agama," tegasnya, Selasa (25/2).

Surat edaran dalam bentuk imbauan tersebut untuk menjaga kesucian Hari Raya Nyepi dan kondisi wilayah Jembrana agar tetap kondusif.

Apabila ada ogoh-ogoh yang dibuat identik dengan politik dikhawatirkan menimbulkan kondisi keamanan Jembrana tidak kondusif.

"Kami berikan anak muda untuk membuat ogoh-ogoh sesuai kreativitas mereka, tapi jangan sampai ada yang bermuatan politik atau atribut politik apapun," tegasnya ketua FKUB Jembrana ini.

Disamping itu, pihaknya sudah mengimbau mengenai bentuk yang sesuai dengan pakem budaya dan filosofi ogoh-ogoh. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membahas mengenai ogoh-ogoh Hari Raya Nyepi ini.

Terpisah, ketua Saba Yowana Jembrana Ketut Arya Tangkas mengatakan, jumlah ogoh-ogoh seluruh Jembrana sesuai jumlah sekaa sebanyak 284 buah, tapi masih banyak lagi ogoh-ogoh dibuat di lingkungan masing-masing yang tidak terdaftar.

"Beberapa seka sudah buat ogoh-ogoh sejak bulan Januari lalu," ujarnya.

Mengenai bentuk ogoh-ogoh, sudah ada aturan tegas bagi seluruh sekaa agar membuat sesuai dengan seni budaya dan agama, yakni ogoh-ogoh yang menyimbolkan buta kala.

"Selain bentuk yang tidak menyimpang dan berbau politik, mengenai bahan juga diatur. Harus menggunakan bahan ramah lingkungan," tegasnya.

Ketua Bawaslu Jembrana Pande Made Ady Mulyawan juga mengimbau pada masyarakat untuk tidak membuat ogoh-ogoh yang bermuatan politik demi menjaga keamanan wilayah Jembrana jelang Pilkada.

"Tugas semua pihak untuk bersama-sama menjaga kondusifitas hari raya di tahun politik," tegasnya. 

(rb/pra/bas/mus/JPR)

 TOP