alexametrics
Sabtu, 11 Apr 2020
radarbali
Home > Radar Buleleng
icon featured
Radar Buleleng
Kasus Penipuan Kerja ke Kapal Pesiar

Keluarga Gede Doni Lugu, Perbekel Telaga Bongkar Aksi Jahat Fredy

27 Februari 2020, 11: 25: 18 WIB | editor : ali mustofa

kasus penipuan, kapal pesiar, keluarga gede doni, keluarga lugu, perbekel telaga, bongkar aksi jahat, aksi jahat fredy, polres buleleng

Kondisi rumah keluarga I Gede Doni Wiantana saat diabadikan beberapa hari lalu (Juliadi/Radar Bali)

Share this      

SERIRIT – Pasca menemukan I Gede Doni Wiantana warga Busungbiu, Seririt, Buleleng, yang dilaporkan 7 bulan hilang oleh keluarganya setelah menyetorkan uang Rp 250 juta

untuk berangkat kerja ke kapal pesiar, polisi Buleleng terus berusaha mengungkap kasus ini secara terang benderang.

Termasuk menemukan keberadaan Komang Adi Setiadi alias Fredy, warga Desa Lokapaksa, Seririt, yang dilaporkan masih hilang misterius.

Yang jelas, dengan ditemukannya Gede Doni, maka akan mempermudah mengungkap persoalan penipuan dengan iming-iming bekerja di kapal pesiar.

Menurut Perbekel Telaga Made Hendra Mahayuda, ayah dari Gede Doni, Kadek Yusadana berprofesi sebagai buruh kayu sedang istrinya bekerja sebagai buruh tani.

Awalnya Yusadana melapor ke desa telah kehilangan kontak dengan putranya setelah mengaku bekerja di kapal pesiar.

Tak hanya itu, dia juga mengaku telah mengeluarkan uang ratusan juta rupiah untuk membiayai anaknya agar dapat bekerja di kapal pesiar dengan perantara Komang Adi Setiadi alias Fredy warga Desa Lokapaksa, Seririt.

“Tak tanggung-tanggung nilainya ratusan juta rupiah. Dari catatan yang bersangkutan,sebanyak Rp 225 juta sudah disetor ke Fredy dan itu yang tercatat.

Itu semua hasil menjual harta berupa kebun, ternak sapi dan sepeda motor dan hasil pinjam sebesar Rp 166 juta,” beber Perbekel Telaga Mahayuda.

Dia menyebut, Kadek Yusadana menyadari telah melakukan kecerobohan terlalu percaya dengan Fredy. Sementara anak kala itu tak pernah ada kabar. Fredy terus minta uang dengan berbagai alasan.

Fredy memanfaatkan keluguan ayah Gede Doni. Dengan awal biaya kuliah diminta Fredy sebesar Rp 11 juta, uang pakaian Rp 1,7 juta dan bayar wisuda Rp 3 juta.

Dalam catatan lain, ditemukan biaya perjalanan Fredy untuk urusan ke Jakarta, biaya pemberian master cap sebesar Rp 30 juta dan alasan untuk mengganti kartu Gede Doni yang hilang sebesar Rp 43 juta.

Disebutkan juga biaya biaya pengurusan pembuatan paspor dan visa sebesar Rp 7.5 juta. Bahkan untuk biaya membayar kepada ejen (agen) jumlahnya sebesar Rp 18 juta.

Belum lagi tiket pesawat sebesar Rp 29 juta,dengan total biaya untuk pengurusan sebasar Rp 66 juta lebih.

Untuk memenuhi kebutuhan anaknya tersebut ayah dari Gede Doni rela mencari pinjaman ke Bank, LPD hingga ke perorangan yang jumlahnya cukup besar.

Termasuk catatan menjual harta miliknya. Semua uang yang diberikan oleh Yusadana kepada Fredy dalam bentuk tunai.

“Kami berharap Gede Doni memberikan keterangan yang valid terhadap keberadaan Fredy. Agar polisi dapat segera menemukan keberadaan Fredy,” tandanya. 

(rb/jul/mus/JPR)

 TOP