alexametrics
Sabtu, 11 Apr 2020
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Rumah Satu-satunya Diterjang Longsor, Nata Berharap Dapat Bantuan

27 Februari 2020, 13: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

rumah rusak, musibah longsor, nengah nata, harap ada bantuan, bpbd klungkung

Nengah Nata, 48 warga Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung saat menunjukkan kediamannya yang longsor kemarin. (Dewa Ayu Pitri Arisanti/Radar Bali)

Share this      

SEMARAPURA - Rumah milik Nengah Nata, 48 warga Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung yang berada di pinggir Kali Unda Desa Tangkas longsor, Selasa (25/2) sekitar pukul 16.00.

Selain kehilangan tempat bersantainya, dia juga kehilangan sebagian dapurnya akibat peristiwa tersebut.

Bahkan, salah satu kamar tidurnya yang cukup dekat dengan dapur mengalami retakan sehingga tidak berani ditempati.

Syukurnya sang istri, Ni Wayan Dasri, 48 yang pada saat itu sedang menggoreng ikan, berhasil dicegat anak laki-lakinya, I Ketut Dendi Agus Prayoga, 15 saat hendak masuk ke dalam dapur untuk membalikkan ikan yang digorengnya.

Sehingga dalam peristiwa itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Nengah Nata saat ditemui di kediamannya, Rabu (26/2) menuturkan,

saat peristiwa itu terjadi, dia sedang bekerja menyopir truk sehingga hanya anak bungsu dan istrinya yang ada di rumah.

Sebelum peristiwa tanah longsor itu terjadi, sang istri sedang menggoreng ikan. Di sela-sela menggoreng ikan,

istrinya menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan anak bungsunya di teras rumah yang tidak jauh dari dapur.

“Pas mau masuk ke dapur untuk membalikkan ikan, anak saya mendengar ada suara gemuruh. Tangan istri saya langsung di tarik dan longsor pun terjadi.

Posisi rumah saya di pinggir Kali Unda, Desa Tangkas. Tingginya sekitar lebih dari 7 meter dari dasar bibir Kali Unda,” katanya.

Akibat peristiwa itu, bale peristirahatan, sebagian dapur dan sebagian fondasi tempat ibadah keluarga amblas.

Tidak hanya itu, salah satu kamar yang dekat dengan dapur pun mengalami retakan sehingga disarankan untuk tidak ditempati sebagai langkah antisipasi longsor susulan.

Padahal kamar tersebut baru saja selesai direhab 6 bulan lalu berkat bantuan mantan anggota DPRD Klungkung.

“Waktu longsor terjadi, tidak ada hujan. Kemungkinan terjadinya longsor karena senderannya tidak kuat. Kerugian lebih dari Rp 50 juta.

Perabotan dapur jatuh semua. Ada yang berhasil diselamatkan ada yang masih tertinggal karena ditutupi material longsor,” jelasnya.

Melihat peristiwa tersebut terjadi dengan mata kepala sendiri, bahkan nyaris menjadi korban longsor, dikatakannya, sang istri sangat syok.

Saking syoknya, sang istri sampai menangis sesenggukan saat menghubunginya untuk memberi tahu adanya peristiwa itu. “Istri saya langsung lemas setelah kejadian itu,” terang ayah empat orang anak itu.

Lebih lanjut pihaknya berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk menangani bencana yang menimpa rumahnya itu.

Sebab anggaran yang dibutuhkan untuk membuat senderan sebagai upaya pencegahan longsor susulan terjadi itu, diperkirakan lebih dari Rp 50 juta.

Apalagi peristiwa longsor seperti saat ini bukan kali pertama dialaminya. Sementara senderan yang amblas tersebut merupakan senderan yang dibuat saat longsor pertama terjadi dengan dana yang diperoleh dengan cara meminjam.

“Saya sekarang tidur di teras rumah. Saya tidak punya lahan lagi untuk dibangun rumah. Rumah saya hanya ini.

Saya tergolong warga tidak mampu. Itu sebabnya saya berharap ada bantuan dari pemerintah,” tandasnya.

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP