alexametrics
Rabu, 25 Nov 2020
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Fokus Tangani Corona, Kasus DB di Bali Naik Hingga 100 Persen Lebih

Hingga Maret Ada 1433, Buleleng Tertinggi

06 April 2020, 21: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

kasus demam berdarah, kasus DB meningkat, Diskes Bali, Wabah Corona, Covid-19, DB Naik Berlipat, Gerakan 3M,

Petugas saat melakukan fogging di Perumahan Green Kori Ubung Kaja, Denpasar Utara (Adrian Suwanto)

Share this      

DENPASAR-Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bali meroket tajam di tengah wabah pandemic Covid-19 (Corona).

Bahkan berdasarkan data Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Bali, kasus DB di Bali naik hingga 100 persen lebih.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Wayan Widia, Senin (6/4) menyebutkan, sesuai data hingga Maret 2020, tercatat ada sebanyak 1433 kasus atau meningkat sebanyak 794 kasus dari total 639 kasus pada Maret 2019 tahun lalu.

Sedangkan terkait sebaran kasus, kata Widia, Buleleng menempati urutan pertama kasus terbanyak dengan jumlah sebanyak 426 kasus.

Kemudian disusul Badung sebanyak 257; Ketiga  Gianyar 221 dan keempat Denpasar dengan jumlah 201 kasus.

Tabanan sebanyak 84; Karangasem 70 kasus, Klungkung 69 kasus, Bangli 65 kasus, dan terendah Kabupaten Jembrana dengan jumlah 40 kasus.  

“Jika dibandingkan bulan Januari dan  Februari, yang mengalami peningkatan drastis adalah Denpasar. Januari jumlah kasus di Denpasar hanya 59, lalu Februari meningkat dua kali lipat menjadi 110 dan Maret lebih meningkat drastis sebesar 201,”terang Widia.

Selain Denpasar, kata Widia, Kabupaten Badung juga mengalami peningkatan kasus signifikan.

Disebutkan, dari semula jumlah kasus sebanyak 99, Badung pada Februari mengalami lonjakan tajam hingga 234 kasus dan disusul Maret meningkat menjadi 257 kasus.  

Sedangkan untuk pasien meninggal selama tiga bulan terakhir, imbuhnya, yakni tersebar di tiga kabupaten (Badung 1 orang; Gianyar 1 orang, dan Denpasar 1 orang).

Dikatakan, peningkatan kasus DBD di Bali disebabkan oleh perubahan cuaca yang tak menentu.

“Kadang hujan kadang panas, itu juga mempengaruhi. Sehingga kami harapkan masyarakat meningkatan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3M (menguras, menutup, dan mengubur)dan gerakan satu rumah satu jumantik (juru pemantau jentik),”tukasnya.

(rb/feb/pra/JPR)

 TOP