alexametrics
Minggu, 29 Nov 2020
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Bos BPR Legian Buron Kasus Korupsi Dibekuk Mabes Polri

13 Mei 2020, 22: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Bos BPR Legian, Titian wilaras, Mabes Polri, Buron kasus korupsi, Polresta Denpasar, buron mabes polri,

PARLENTE : Bos BPR Legian Titian Wilaras (kanan) sebelum dibekuk Mabes Polri (Istimewa)

Share this      

DENPASAR- Berakhir sudah pelarian bos Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Legian, Titian Wilaras.

Buronan yang masuk daftar pencarian orang (DPO) Bareskrim Mabes Polri Desember 2019 terkait kasus Korupsi uang BPR Legian, ini diamankan di salah satu Kamar Hotel Bintang 5 di Belanda, Selasa (12/5).

Diketahui Mabes Polri menerbitkan DPO terhadap bos BPR Legian bernomor: DPO/09/PPNS/XII/2019/Bareskrim. Dalam lembaran DPO yang tersebar berisi keterangan bahwa surat perintah penangkapan Titian Wilaras dikeluarkan oleh Kabareskrim Polri bernomor SP.KAP/29/PPNS/XII/2019/Bareskrim tertanggal 4 Desember 2019.

Sehari sebelumnya, Direktur Penyidikan Sektor Jasa Keuangan (DPJK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menerbitkan surat bernomor: S-R/554/XII/2019/DPJK tanggal 3 Desember 2019 perihal permohonan bantuan teknis pencarian orang (DPO) atas nama tersangka Titian Wilaras.

Pemilik nomor KTP 5171042705650001 dan passport bernomor B 4982067 itu diduga kuat melakukan pelanggaran tindak pidana perbankan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50A Undang-undang Republik Indonesia No. 7 tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU RI No. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU RI No. 7 tahun 1992 tentang perbankan.

Dalam laporannya, Brigadir Jenderal Polisi Prasetijo Utomo, menyebut laporan yang menjerat Titian Wilaras bernomor LKTP-SJK/16/VIII/2019/DPJK tertanggal 9 Agustus 2019. Disebutkan pula bahwa berkas perkara sang DPO Titian Wilaras perkaranya telah P21 dan akan tahap 2 ke Jampidum Kejagung.

"Titian Wilaras yang diduga memiliki perusahaan sekaligus peternakan Kuda di Belanda ini diamankan di salah satu Hotel Bintang 5 di kawasan di Belanda, Selasa (12/5). Setelah itu, ia digiring ke Bali dan diserahkan ke kejaksaan dan kini, ia ditahan di Mapolresta Denpasar," ungkap sumber, Rabu (13/5).

Informaai lain yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, Pria kelahiran Medan, 13 Mei 1965 yang tercatat sebagai warga Jalan Tukad Unda No. 8/6 Denpasar, Sasih Panjer, Denpasar Selatan itu diduga kuat melakukan tindak pidana korupsi yakni, dalam kurun waktu Agustus 2017 hingga Oktober 2018 di PT BPR Legian, di Jalan Gajah Mada, Denpasar.

Modus sang pemegang saham pengendali (PSP) PT BPR Legian dengan sengaja menyuruh direksi atau pegawai bank untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan bank tidak melaksanakan hal yang tidak taat. Yakni langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam undang-undang dan ketentuan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank.

Departemen Penyidikan Sektor Jasa Keuangan "Pro Justisia" sesuai sampul berkas perkara nomor: SBP/19/XI/2019/DPJK pada 13 November 2018 juga mengungkapkan dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan titian wilaras.

Dijabarkan, Titian Wilaras menyuruh direksi dan pegawai bank menggunakan telepon seluler atau pesan singkat whatsapp dan komite yang dibentuknya (terdiri dari Direktur Utama, Direktur Kepatuhan, Kepala Bisnis, dan General Affair dan HRD) untuk membayar dan mengirimkan atau transfer sejumlah uang.

Titian Wilaras menggunakan uang atau dana PT BPR Legian untuk keperluan pribadinya. Terhadap perbuatan tersebut tersangka TW selaku pemegang saham patut diduga melanggar Pasal 50 A UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU RI No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

Kompol I Dewa Putu Gede Anom Danujaya Kasat Reskrim Polresta Denpasar membenarkan. Tersangka merupakan tahanan Kejaksaan Negeri Denpasar. Tersangka dititipkan di sel tahanan Polresta Denpasar karena saat ini Lapas Kelas II A Kerobokan tidak menerima tahanan.

"Benar, tersangka itu dititipkan sementara. Bukan dalam rangka penanganan kami. Bukan kami yang tangkap. Kasusnya sudah tahap dua. Itu sudah kewenangan Jaksa. Sebenarnya sel tahanan kami sudah penuh. Tetapi ini adalah bentuk sinergi kami menerimanya karena di lapas tidak terima tahanan," ungkap mantan Kapolsek Kuta Utara.

(rb/dre/pra/JPR)

 TOP