alexametrics
Selasa, 04 Aug 2020
radarbali
Home > Features
icon featured
Features

Pool Test Covid-19 di Bali, Kenapa Tidak?

01 Juli 2020, 09: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

wabah corona, virus corona, pandemi covid-19, pool test covid-19, pemprov bali, lab pcr

Ilustrasi (Yoyo Raharyo/Radar Bali)

Share this      

BEBERAPA waktu lalu saya bertanya-tanya, apakah secara teori memungkinkan sampel dahak (swab) beberapa orang dijadikan satu, kemudian diuji menggunakan PCR (polymerase chain reaction).

Kegelisahan saya muncul terkait model pool test yang sempat mencuat dari seorang alumni ITB, Hafidz Ary Nurhadi kemudian dilantangkan Dahlan Iskan.

Setelah melakukan pencarian di Google ternyata ada beberapa daerah yang telah menerapkan. Provinsi Sumatera Barat dan Kalimantan Tengah di antaranya.

Itu artinya mencampur sampel, kemudian diuji campuran sampel itu adalah bisa. Hasilnya dua sekaligus: lebih murah dan lebih cepat.

Keuntungannya, bisa lebih banyak sampel yang diuji di laboratorium yang jumlahnya terbatas. Model pool test di Sumatera Barat tidak persis sama dengan tawaran Hafidz. Ada sedikit modifikasi.

Memang ada banyak model pengujian berbasis kelompok ini. Prinsipnya sama. Dengan cara ini, maka tidak perlu dites semua sampel satu per satu. Melainkan dikelompokkan (dicampur), lalu diuji.

Pada foto hanya ilustrasi tabung2 berisi sampel dahak 25 orang. Sebut saja Tabung 1 (T1) sampai Tabung 25 (T25).

Kita tidak akan menguji sampel satu per satu. Tahap awal adalah mencampur sampel. Caranya, 25 tabung (sampel) itu dikelompokkan menjadi masing2 lima tabung.

Dari setiap kelompok, ambil sebagian di setiap sampel ke dalam satu tabung. Begitu seterusnya ke kelompok 2, 3, 4, dan 5.

Dengan demikian akan ada Tabung Kelompok 1 (TK1) berisi sampel T1 sampai T5. Begitu seterusnya sampai TK5.

Sampel TK1 sampai TK5 diambil lagi sedikit, dimasukkan ke dalam tabung baru. Sebut saja Tabung Sub Kelompok, disingkat TSK. Dengan demikian, tahap awal ini selesai.

Tahap berikutnya adalah menguji sampel. Sampel di TSK diuji paling pertama. Jika hasilnya negatif, maka TK1-TK5 dan T1-T25 tak perlu diuji. Tamat.

Jika hasilnya ternyata positif, maka TK1 sampai TK5 diuji. Yang positif perlu diuji ke tabung di atasnya. Bila negatif, maka tabung di atasnya tak perlu diuji lagi.

Misalnya, dari TK1 sampai TK5, hanya TK1 yang positif, maka sampel di T1 sampai T5 diuji, untuk menentukan siapa di antara T1 sampai T5 yang positif dan negatif.

Dan karena TK2 sampai TK5 yang negatif, maka sampel T6 sampai T26 tak perlu diuji. Artinya, ada berapa pengujian? Ya, betul hanya 7 tabung saja: TSK, TK1 dan T1-T5. Dengan cara ini, kita bisa berhemat.

Apakah pengujian dengan model ini malah membuat pengujian lebih banyak? Ya, mungkin. Itu jika ternyata sampel T1-T25 positif semua.

Atau di antara T1 sampai T25 ada yang positif yang berakibat positif pada TK1 sampai TK5, misalnya yang positif T1, T6, T11, T16, dan T21.

Namun, kita memiliki asumsi, jumlah yang terjangkit lebih sedikit dari yang tidak terjangkit Covid-19.

Asumsi ini jika kita ambil data di Pemprov Bali bahwa dari 25 ribu sampel yang diuji swab di Bali, hanya 1400-an yang ternyata terkonfirmasi positif.

Artinya hanya ada 5 persen saja. Itu pun karena yang dites swab merupakan warga yang memenuhi kriteria2 khusus: berkontak dg orang/pasien positif, memiliki gejala sakit yang mengarah Covid-19, dll.

Dengan demikian, persentase yang terjangkit mestinya bisa lebih kecil lagi dari persentase positif saat ini.

Lantas, mengapa di Bali tidak bikin pool test saja, daripada mewajibkan warga melakukan rapid test (mandiri alias bayar sendiri) yang validitasnya diragukan? Tabik! (yoyo raharyo/redaktur radar bali)

(rb/yor/mus/JPR)

 TOP