alexametrics
Sabtu, 08 Aug 2020
radarbali
Home > Metro Denpasar
icon featured
Metro Denpasar

Dibubarkan Polisi dengan Water Canon, Mahasiswa Papua Kocar-kacir

Gelar Aksi di Renon Ingatkan Tragedi Biak

06 Juli 2020, 16: 11: 01 WIB | editor : ali mustofa

aksi demo, aliansi mahasiswa papua, demo mahasiswa papua, bundaran renon, tragedi biak, water canon, mahasiswa kocar-kacir, polresta denpasar

Para mahasiswa disemprot air dari mobil water canon milik Polda Bali. Mereka pun lari membubarkan diri. (Istimewa)

Share this      

DENPASAR - Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) kembali menggelar aksi demonstrasi, Senin (6/7) sekitar pukul 10.00 Wita. Sama seperti sebelumnya, aksi tersebut digelar di seputaran Renon, Denpasar.

Awalnya aksi berjalan aman. Namun, tidak sampai satu jam massa menggelar orasi, polisi membubarkan aksi mereka. Para demonstran disemprot menggunakan water Canon. 

Para mahasiswa pun lari kocar-kacir. Akibat insiden itu, beberapa sepeda motor yang parkir di lokasi terjatuh berantakan.

Salah satunya adalah sepeda motor anggota kepolisian Polresta Denpasar. Kasubag Humas Polresta Denpasar Iptu Ketut Sukadi mengatakan, penyemprotan air dilakukan karena massa tidak mau membubarkan diri.

"Itu setelah beberapa kali diberikan peringatan," ujar Iptu Sukadi. Ia juga membenarkan adanya salah satu sepeda motor milik anggota kepolisian mengalami kerusakan.

“Itu karena terjatuh. Syukur situasi berjalan kondusif,”tegas Iptu Sukadi. Berdasar informasi yang dihimpun, aksi ini diikuti 25 orang yang dikoordiantor Ketua AMP Komite Kota Bali Jeeno Dogomo.

Sekitar pukul 10.00 Wita, peserta aksi berdatangan ke parkir timur lapangan Renon. Kabag Ops Polresta Denpasar Kompol I Gede Putu Putra Astawa sempat

bernegosiasi meminta mereka tidak melakukan orasi di jalan raya dan membubarkan diri karena Renon masih masuk zona merah Covid-19.

Sekitar pukul 10.10 Wita, mereka mulai berorasi dan hendak mengarah ke Bundaran Renon sambil membawa alat peraga seperti bendera AMP serta beberapa poster bertuliskan “Melawan lupa 22 tahun Biak berdarah. Negara Bertanggung Jawab atas Pelanggaran HAM Berat di Papua”. 

Melihat pergerakan pendemo, polisi langsung melakukan blokade depan parkiran. Tim Satgas Covid-19 Desa Sumerta Kelod yang ikut turun juga berulang kali memberikan imbauan dan menyuruh bubar karena berpotensi terjadinya penyebaran Covid-19. 

Karena beberapa kali peringatan itu tak diindahkan, polisi melakukan penyemprotan air dari mobil Armoured Water Cannon (AWC). Pendemo pun dibuat kocar kacir hingga akhirnya membubarkan diri. 

(rb/mar/mus/JPR)

 TOP