alexametrics
Senin, 10 Aug 2020
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Duh Gusti, Stres Kumat, Tukang Ojek di Kubu Tewas Gantung Diri

01 Agustus 2020, 05: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

kasus ulah pati, kasus bunuh diri, stres kumat, tukang ojek, tewas gantung diri, polsek kubu

Petugas mengidentifikasi jenazah korban di rumah duka (Istimewa)

Share this      

AMLAPURA – Kasus ulah pati lagi-lagi terjadi di Tanah Aron, Karangasem. Seorang tukang ojek bernama Ketut Sadra, 23, asal Banjar Munti Gunung, Desa Tianyar Barat, Kubu, Karangasem,

dilaporkan tewas tergantung di bawah pohon mete dekat rumahnya. Korban ditemukan tewas oleh ayah kandungnya Wayan Melayu, 70.

Menurut Kapolsek Kubu AKP Nengah Sona, korban pernah mengalami gangguan jiwa. “Berdasar keterangan orangtua korban, korban dirawat empat bulan di RSJ Bangli,” kata AKP Sona.

AKP Sona mengatakan, awalnya korban diketahui tidur bersama sang anak. Namun, sekitar pukul 02.00 wita dini hari korban tidak ada lagi bersama anaknya yang masih berusia 1 tahun.

Saat itu Melayu sempat mencari korban. Karena tidak ketemu, Melayu kembali ke rumahnya. Sekitar pukul 10.00 wita menantu Melayu, I Ketut Simpen giliran mencari korban.

Kemudian dia melihat ke cabang pohon Mete, dan melihat sosok manusia tergantung di pohon tersebut. Seteleh dipastikan, ternyata korban.

Melayu dan anaknya I Made Dana dan I Nyoman Yasa langsung menurunkan korban. Mereka memotong selandang kain warna kuning yang digunakan korban gantung diri.

Kemudian jenasah korban dibaringkan di lantai rumah. Melayu kemudian melaporkan kejadian ini kepada Babinkamtipmas Aiptu Made Rudya yang kemudian melanjutkan laporan ke Polsek Kubu.

 Beberapa saat kemudian anggota Polsek Kubu beserta tim dari Puskesmas kubu II melakukan olah TKP serta melakukan pemeriksaan luar.

Dari hasi pemeriksaan korban diduga kuat murni gantung diri. “Dari pemeriksaan awal korban murni gantung diri,” ujar AKP Sona.

Tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Keluarga korban juga menolak dilakukan otopsi karena menerima kejadian yang menimpa korban sebagai musibah.

Berdasar keterangan orang tua korban, korban mengalami gangguan mental. Bahkan, pernah dirawat empat bulan di RS Jiwa di Bangli.

Korban kemudian diajak pulang setelah berobat di RSJ Bangli. Dan, seminggu terakhir ini sakitnya kumat lagi. Korban sempat diajak ke RS Jiwa namun menolak dan sepertinya stres.

(rb/tra/mus/JPR)

 TOP