alexametrics
Senin, 18 Oct 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Epidemiologi Unud Ungkap Biang Kerok Melonjaknya Covid-19 di Bali

07 September 2020, 22: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Ahli Epidemiologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Udayana, Made Ady Wirawan, Covid-19, kasus melonjak,

Ahli Epidemiologi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana (Unud), dr I Made Ady Wirawan Ph.D., MPH. (Istimewa)

Share this      

DENPASAR - Melonjaknya kasus positif Covid -19 di Bali menuai tanggapan dari salah satu Ahli Epidemiologi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana (Unud), dr I Made Ady Wirawan Ph.D., MPH.

Ady Wirawan menilai, meski mengalami peningkatan kasus, namun ia meyakini angka peningkatan kasus yang dilaporkan secara resmi hanya sebagian dari kasus yang sebenarnya di masyarakat.

"Angka yang dilaporkan secara resmi mungkin hanya sebagian dari jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat," ujarnya saat dihubungi Senin (7/9).

Baca juga: Polda Bali Tangkap WNA Terduga Pengedar Narkoba Jaringan Spanyol

Disinggung apakah kasus di Bali ini sebagai puncaknya, Ia menyebut tak bisa menyimpulkan demikian. Sebab, kita tidak bisa melihat puncak kasus karena sedikitnya jumlah test.

"Kurva epidemi dan puncak kasus akan terlihat dengan baik kalau jumlah orang yang di test memadai," ungkapnya.

Indikatornya, kata Ady Wirawan yakni proporsi yang positif dibandingkan dengan yang di test (positivity rate) kurang dari 5 persen.

Indikator lainnya adalah jumlah orang yang di test per 1000 penduduk per minggu adalah minimal 1.

"Saat ini positivity rate berkisar 10-13 persen, dan jumlah test per 1000 penduduk per minggu masih berskisar 0,6-0,8," sebutnya.

Jika begitu, apa ini jenis virus baru? "Virus dan cara penularan masih sama, ada mutasi tapi tidak mempengaruhi terlalu banyak bagaimana wabah menyebar," jawabnya.

Untuk itu, Ady menyarankan yang harus dilakukan masyarakat adalah jangan lengah meskipun penanganan pandemi sudah lama (6 bulanan), tetap waspada dengan selalu mengikuti protokol kesehatan.

"New normal jangan diartikan situasi sudah normal. karena sebenarnya wabah sedang menyebar tanpa diketahui kondisi di lapangan, karena rendahnya test," pungkasnya. 

(rb/ara/pra/JPR)

 TOP