alexametrics
Kamis, 29 Oct 2020
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Nestapa Hidup Kakak Beradik Asal Klungkung

Sempat Normal dan Sekolah, Sama-Sama Lumpuh Setelah Alami Panas Tinggi

15 Oktober 2020, 22: 52: 46 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

nestapa hidup, kakak adik lumpuh, pemkab klungkung, Wabup Kasta, panas tinggi, keluarga miskin,

BIKIN MIRIS : Dewa Ayu Wati (kiri) dan kakaknya Dewa Gede Sayang (Dewa Ayu Pitri Arisanti)

Share this      

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Semua sudah menjadi kehendak Sang Hyang Widi. Begitulah kira-kira pepatah yang pas bagi nasib kakak beradik Dewa Gede Sayang dan Dewa Ayu Wati.

Terlahir dari keluarga kurang mampu, kondisi kakak beradik asal Desa Timuhun, Kecamatan Banjarankan, Klungkung ini benar-benar bikin miris dan memprihatinkan.

Selain mengalami kelumpuhan dan cacat dari sejak masih anak-anak, keduanya kini harus terpaksa hidup bergantung kepada kedua orang tuanya yang serba kurang.

====

RAUT kepasrahan terlihat jelas dari pasangan suami istri (Pasutri) Dewa Putu Samba-Desak Putu Raka, saat Jawa Pos Radar Bali ikut rombongan wakil Bupati Klungkung Made Kasta menyambangi kediamannya.

Diusianya yang sudah kepala tujuh, Samba dan Raka harus tetap kerja demi kelangsungan keluarga dan kedua anaknya yang cacat.  

Saat ditemui di rumahnya, pasutri ini mengaku tak pernah mengira kedua anaknya akan mengalami kelumpuhan.

Pasalnya saat keduanya lahir, Sayang, 43, dan Wati, 41, terlahir dengan normal dan tidak ada keanehan.

Barulah, awal “petaka” terjadi ketika Dewa Sayang berusia 3 (tiga) tahun.   

“Awalnya Sayang yang mengalami panas, kemudian anak saya Wati juga ikut panas. Dulu masih jarang ada puskesmas. Obatnya pakai minyak bawang. Kira-kira usia anak saya waktu itu sekitar 3 tahun,” terang Samba.

Seiring waktu, demam anaknya membaik. Hanya saja terjadi keanehan pada kaki kedua anaknya. Pertumbuhannya kaki anaknya menjadi tidak normal dan saat berjalan agak pincang. “Waktu itu masih bisa berjalan. Bahkan anak saya yang laki-laki (Sayang) masih bisa bersekolah hingga lulus SD,” katanya.

Sekitar usia 13 tahun, Sayang kembali mengalami panas tinggi. Begitu juga dengan Wati. Bukan panas biasa, pasalnya panas itu berakhir pada lumpuhnya kaki kedua anaknya tersebut.

Tidak sampai disana, pertumbuhan tangan anaknya pun juga tidak normal. “Saya sudah carikan obat ke mana-mana. Ke balian (orang pintar) sudah. Ke Rumah Sakit (RSUP) Sanglah juga sudah. Kedua kaki Sayang juga sudah sempat dioperasi, tetapi tidak ada perubahan. Saya tidak tahu penyakitnya apa,” tuturnya.

Lama telah berjuang mencari kesembuhan untuk kedua anaknya, Samba mengaku pasrah meski kadang sempat meratapi nasibnya yang berat itu.

Tidak hanya Samba yang bersedih, menurutnya Sayang juga beberapa kali tampak depresi dengan membentur-benturkan kepalanya ke tembok.

Untungnya saat melakukan aksi itu, Sayang tidak mengalami luka. “Saya juga sampai heran. Tembok sampai bergetar, tapi kepalanya tidak apa-apa,” ungkapnya.

Lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menurutnya hanya dia dan anaknya terakhirnya yang bisa mencari pekerjaan. Sementara sang istri, tidak bisa bekerja karena harus merawat Sayang dan Wati.

“Saya bekerja jadi petani. Anak saya yang terakhir bekerja jadi tukang parkir,” beber lansia namun masih tampak energik itu.

Mengandalkan dari bekerja sebagai petani, dia mengaku tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga dia sangat berterima kasih terhadap perhatian pemerintah dan juga relawan yang sudah membantunya selama ini. “Saya mengucapkan terima kasih,” ujarnya dihadapan Wakil Bupati Klungkung, Made Kasta.

Sementara Wakil Bupati Klungkung, Made Kasta berharap bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik. Dia pun berdoa agar kegiatan membantu sesama bisa terus berlanjut. Sehingga mereka yang membutuhkan bisa terbantu. (dewa ayu pitri arisanti)

(rb/ayu/pra/JPR)

 TOP