alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Duka Pasangan Adik Kakak Penyandang Difabel

Bermula Demam Tinggi saat Kecil, Alami Lumpuh Sejak Umur 13 Tahun

17 Oktober 2020, 03: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

demam tinggi, saat kecil, lumpuh, 13 tahun, pasangan adik kakak, penyandang difabel, wabup kasta

Wakil Bupati Klungkung Made Kasta saat mengunjungi Dewa Gede Sayang, 43, dan Dewa Ayu Wati, 41, kakak beradik asal Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan yang mengalami kelumpuhan sejak anak-anak, kemarin. (Dewa Ayu Pitri Arisanti/Radar Bali)

Share this      

Dewa Gede Sayang, 43 dan Dewa Ayu Wati, 41, kakak beradik asal Desa Timuhun, Kecamatan Banjarangkan tidak bisa menikmati hidup layaknya orang dewasa pada umumnya.

Memiliki pertumbuhan kaki dan tangan yang tidak normal sejak anak-anak, membuat mereka terpaksa menggantungkan hidupnya kepada kedua orang tuanya hingga saat ini.

 

DEWA AYU PITRI ARISANTI, Semarapura

LAHIR di tengah keluarga pasangan suami istri, Dewa Putu Samba, 70, dan Desak Putu Raka, Dewa Gede Sayang dan Dewa Ayu Wati layaknya anak normal pada umumnya.

Tidak tampak keanehan pada tumbuh mereka saat lahir. Namun seiring waktu, keduanya pun mengalami panas tinggi.

Lantaran dahulu layanan kesehatan tidak sebaik saat ini, pasangan suami istri Samba dan Raka hanya mengobati anak-anak mereka dengan minyak bawang merah.

“Awalnya Sayang yang mengalami panas, kemudian anak saya Wati juga ikut panas. Dulu masih jarang ada puskesmas. Obatnya pakai minyak bawang. Kira-kira usia anak saya waktu itu sekitar 3 tahun,” terang Samba.

Seiring waktu, demam anaknya membaik. Hanya saja terjadi keanehan pada kaki kedua anaknya. Pertumbuhannya kaki anaknya menjadi tidak normal dan saat berjalan agak pincang.

“Waktu itu masih bisa berjalan. Bahkan anak saya yang laki-laki (Sayang) masih bisa bersekolah hingga lulus SD,” katanya.

Sekitar usia 13 tahun, Sayang kembali mengalami panas tinggi. Begitu juga dengan Wati. Bukan panas biasa, pasalnya panas itu berakhir pada lumpuhnya kaki kedua anaknya tersebut.

Tidak sampai di sana, pertumbuhan tangan anaknya pun juga tidak normal. “Saya sudah carikan obat ke mana-mana. Ke balian (orang pintar) sudah.

Ke Rumah Sakit Sanglah juga sudah. Kedua kaki Sayang juga sudah sempat dioperasi, tetapi tidak ada perubahan. Saya tidak tahu penyakitnya apa,” tuturnya.

Lama telah berjuang mencari kesembuhan untuk kedua anaknya, Samba mengaku pasrah meski kadang sempat meratapi nasibnya yang berat itu.

Tidak hanya Samba yang bersedih, menurutnya, Sayang juga beberapa kali tampak depresi dengan membentur-benturkan kepalanya ke tembok.

Untungnya saat melakukan aksi itu, Sayang tidak mengalami luka. “Saya juga sampai heran. Tembok sampai bergetar, tapi kepalanya tidak apa-apa,” ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menurutnya hanya dia dan anaknya terakhirnya yang bisa mencari pekerjaan.

Sementara sang istri, tidak bisa bekerja karena harus merawat Sayang dan Wati. “Saya bekerja jadi petani. Anak saya yang terakhir bekerja jadi tukang parkir,” beber lansia namun masih tampak energik itu.

Dengan profesinya yang seperti itu, dia mengaku tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga dia sangat berterima kasih terhadap perhatian pemerintah dan juga relawan yang sudah membantunya selama ini.

“Saya mengucapkan terima kasih,” ujar Samba dihadapkan Wakil Bupati Klungkung Made Kasta.

Wakil Bupati Klungkung, Made Kasta berharap bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik.

Dia pun berdoa agar kegiatan membantu sesama bisa terus berlanjut. Sehingga mereka yang membutuhkan bisa terbantu. (*)

(rb/ayu/mus/JPR)

 TOP