alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa
Fenomena Mistis di Pura Taman Sari Karangasem

Heboh Sosok Gaib "Kepala Naga" Jadi Pertanda Alam Sedang Tidak Stabil

17 Oktober 2020, 16: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

fenomena gaib, mistis, Pura Taman Sari, Naga Gombang, Taman Sari Karangasem, Tri Khayangan, Pura Besakih, bencana alam, gempa besar, PUSGEN, BBMKG, ts

BERSAMAAN: Gambar penampakan "Naga Gombang" di depan Pelinggih Padmasana Pura Taman Sari di Desa Badeg, Selat, Karangasem (foto kiri); dan bencana longsor yang terjadi di sebelah jembatan Tukad Telaga Waja, Rendang pada Sabtu (10/10) lalu (Istimewa)

Share this      

KARANGASEM-Munculnya fenomena mistis atau gaib di depan pelinggih Padmasana Pura Taman Sari, di Desa Badeg, Selat, Karangasem membuat heboh warga dan viral.

Penampakan visual mirip kepala naga atau "Naga Gombang" yang tertangkap kamera handphone warga saat ngayah bersih-bersih di area depan pelinggih Padmasana itu bahkan juga diyakini sebagain masyarakat sebagai pertanda atau peringatan.

Lalu apa sebenarnya arti atau makna dari munculnya fenomena mistis “Naga Gombang” di Pura Taman Sari Desa Badeg, Selat itu?

I Made Dwija Nurjaya, salah seorang pengayah pura menduga bahwa kejadian fenomena gaib itu tak lepas dari kondisi pura yang seolah “terabaikan”.

Apalagi menurutnya, penampakan fenomena visual gaib “Naga Gombang” terjadi di pura memiliki hubungan erat dengan keberadaan 5 (Lima) pura besar yang ada di wilayah timur Pulau Bali (Karangasem) seperti, Pura Besakih, Pura Pasar Agung, Pura Silayukti (Mpu Kuturan), Pura Andakasa, dan Pura Lempuyang.

Bukti bahwa Pura Taman Sari punya peranan penting itu bukan saja karena Pura Taman Sari termasuk Tri Kahyangan bersama Pura Besakih dan Pura Pasar Agung.

Tetapi pura ini juga menjadi salah satu pura tua di Karangasem yang diperkirakan sudah ada sebelum tahun 1821 Masehi (seratus tahun silam) dan sempat hancur saat meletusnya Gunung Agung.

“Apalagi munculnya fenomena gaib “Naga Gombang” itu berada tepat di depan pelinggih Padmasana. Naga Gombang atau naga yang memegang kura-kura Bedhawangnala yang kalau diartikan bisa menjadi tanda tentang kondisi keseimbangan alam atau bumi dan isinya”ujar pria yang akrab disapa Jro Mangku Dwija, Sabtu (17/10).

Kura-kura imbuh Jro Mangku Dwija diartikan sebagai lempeng bumi, dan kemudian lilitan badan naga mencengkeram/melilit kura-kura diartikan sebagai pengikatnya.

“Sehingga bila ditafsirkan, jika badan naga bergerak maka lempeng (Kura-kura) ikut bergerak dan mempengaruhi keseimbangan bumi/alam seisinya atau boleh diartikan alam saat ini sedang tidak stabil atau tidak seimbang,”jelasnya.

Meski tidak mau berhandai-handai, namun bila dikaitkan dengan kondisi saat ini, munculnya bencana alam dan prediksi akan adanya gempa besar dan tsunami (sesuai prediksi para Ilmuan dari Pusat Gempa Nasional (PUSGEN) dan peringatan BBMKG Wilayah III Denpasar) serta munculnya wabah Covid-19 (Corona) dan carut marut politik nasional, maka pertanda gaib “Naga Gombang” itu bisa saja memiliki korelasi dan kaitan erat .

Apalagi, entah karena faktor kebetulan atau tidak, usai munculnya fenomena gaib “Naga Gombang”, pada Sabtu (10/10) lalu, khususnya di Karangasem dan hampir di seluruh wilayah di Bali dan Indonesia pada umumnya banyak terjadi bencana banjir dan longsor.  

“Bagi kami, fenomena ini kami maknai sebagai bagian dari petunjuk alam agar kita (manusia) selalu waspada,”tegasnya.

Lalu apa kaitan antara fenomena gaib dengan kondisi pura yang tak terawat atau terabaikan?

Menurut Jro Mangku Dwija, sebagai bagian dari Tri Khayangan, Pura Taman Sari semestinya sesuai dengan arti namanya yakni Taman Sari atau tetaman (taman) atau tempat orang berlila cita atau bergembira menikmati alam yang indah.

Namun kondisi Pura Taman Sari yang tidak terawat/terurus serta dipenuhi rumput tinggi dan semak belukar menjadikan keberadaan Taman Sari bukan seperti layaknya taman.

“Mungkin dari sana, beliau yang berstana “marah” dan menampakkan perwujudannya melalui penampakan gaib agar kita (orang Bali) menjaga atau merawat (Pura Taman Sari) sebagaimana mestinya seperti pura-pura besar di Karangasem lainnya,”tuturnya.

(rb/pra/pra/JPR)

 TOP