alexametrics
Rabu, 02 Dec 2020
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Tekad Ayu Ulan, Bocah 13 Tahun Kejar Impian

Ayah Ibu Cerai, Dirawat Sang Nenek, Jualan Es Kelapa untuk Sekolah

19 Oktober 2020, 09: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

ayu ulandari, pelajar sd, kejar impian, bocah 13 tahun, ayah ibu cerai, dirawat nenek, es kelapa muda

Ayu Ulandari melayani pembeli es kelapa muda di lapak sang paman di samping POM Bensin, Padangkerta (Wayan Putra/Radar Bali)

Share this      

Tekad Ayu Ulandari, 13, melanjutkan sekolah ke SMP begitu besar. Sekalipun dia termasuk keluarga tidak mampu, namun niatnya melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi untuk memperbaiki masa depannya begitu besar. Seperti apa?

 

WAYAN PUTRA, Amlapura

AYU Ulandari saat ini masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar (SD). Saat ini statusnya adalah pelajar SDN 1 Padangkerta, Amlapura.

Sama seperti pelajar lain, saat ini dia lebih banyak belajar di rumah secara online. Tidak melalui tatap muka.

Disela menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, Ayu membantu sang paman berjualan es kelapa muda. Hasil dari jualan es ini kelapa muda tersebut dia tabung.

Tabungan ini rencananya akan digunakan untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Di antaranya membeli seragam sekolah nantinya.

Apa yang dilakukan Ayu Ulandari memang beda dengan rekan-rekan sebayanya. Kalau teman-temannya belajar di rumah dengan ditemani orang tuanya, semantara Ayu Ulandari harus belajar di warung sambil jualan es kelapa muda.

Selain untuk ditabung, sebagian penghasilan menjual es tersebut digunakan untuk membeli kuota internet.

 Ayu boleh dibilang anak yatim, karena kedua orang tuanya sudah bercerai sejak kecil. Sang nenek yang hanya beternak babi kecil-kecilan yang merawatnya dan menyekolahkan.

Hanya saja Ayu tetap bekerja. Selain untuk menabung, juga untuk membantu sang nenek Ni Nyoman Siwi, 80, memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Setiap harinya, Ayu bisa ditemui di kedai kecil dekat Pom Bensin, Padangkerta, Karangasem. Lapak sederhana tersebut adalah milik sang paman.

Disanalah Ayu Ulandari berjualan es kelapa muda membantu sang paman. Upah dari membantu sang paman sekitar Rp 10 ribu sampai 15 ribu per hari.

Selain ditabung, uang tersebut juga dipakai kebutuhan sehari-hari sama sang nenek dan juga untuk membeli pakan ternak yang dipelihara neneknya.

“Terkadang sebagian juga saya tabung untuk biaya melanjutkan sekolah,” ujar Ayu. Pekerjaan ini dilakukan Ayu Ulandari sejak sekolah normal.

Jika sekolah normal, maka dia baru ke lapak membantu pamanya berjualan setelah pulang sekolah atau jam 12.00 siang.

Saat ini dia memiliki waktu lebih lama untuk bekerja. Dia datang ke lapak mulai pukul 09.00 wita sampai pukul 18.00 wita.

 Hanya saja pengasilanya ini terkadang tidak cukup untuk kebutuhan sekolah dan yang lain. Beruntung sang paman dan bibinya kerap membantunya.

Hebatnya lagi, Ayu termasuk anak pintar di sekolahnya. Bahkan, dia kerap mendapatkan rangking 1 atau 2 di sekolah.

Karena kepintarannya tersebut, dia juga mendapatkan beasiswa dari sekolah. Namun yang masih menjadi keraguan adalah apakah dia bisa melanjutkan sekolah ke SMP.

Karena biaya yang tidak ada. “Masih bingung juga apa bisa melanjutkan sekolah atau tidak,” ujar Ayu Ulandari polos.

Padahal, dirinya sangat ingin melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Dia juga berharap dengan sekolah yang lebih tinggi bisa memiliki masa depan yang lebih baik dikemudian hari.

Dengan kehidupan yang lebih baik, nantinya berharap bisa membahagiakan kakek dan neneknya yang selama ini mengasuhnya. (*)

 

(rb/tra/mus/JPR)

 TOP