alexametrics
Kamis, 03 Dec 2020
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Petani Kelimpungan, Padi Siap Panen Terserang Walang Sangit

21 November 2020, 11: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

Petani di Subak Belong, Geriana Kangin rusak terserang walang sangit.

Petani di Subak Belong, Geriana Kangin rusak terserang walang sangit. (I Wayan Putra/ Radar Bali)

Share this      

AMLAPURA - I Nengah Sudiana, 75, salah satu petani di Subak Belong, Banjar Geriana Kangin, Duda Utara, Selat, Karangasem harus gigit jari. Pasalnya, padi yang sudah menjelang panen rusak karena hama walang sangit.

“Sebenarnya 15 hari lagi panen,” ujar warga asal Dusun Tukad Sabuh tersebut.

Namun apa daya ribuan walang sangit keburu datang menyerbu tanaman padi miliknya. Akibatnya padi menjadi rusak karena kencing walang sangit cukup berbahaya.

Kerusakan sendiri cukup parah sehingga dirinya terancam merugi. Sudiana sendiri sudah berupaya dengan menyemprotkan obat intisida untuk mengusir sekaligus membunuh walang sangit. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Walang sangit tidak mati malah semakin ganas.

“Sudak kita semprot sebanyak dua kali, tidak mempan juga,” ujarnya.

Dengan kondisi padi yang rusak petani ini juga kesulitan menanggap sekaa Manyi (tukang panen padi, Red) karena mereka tukang manyi juga akan rugi dengan kwalitas padi seperti itu. Mereka tidak mau memanen karena padi puyung atau kosong. Namun demikian dirinya akan tetap berusaha untuk memanen padi tersebut sekalipun harus merugi.

Lahan sawah miliknya ini sendiri memang terlambat panen dengan lahan lainnya di subak tersebut. Ini dilakukan karena air sulit. Sehingga dia harus tanam belakangan menunggu giliran dapat air. Untuk itu dia tanam jagung terlebih dulu barulah setelah panen jagung ditanam padi.

“Kalau tanam sendiri seperti saat ini malah terserang hama walang sangit,” ujarnya.

Sementara untuk pupuk diakuinya sudah cukup karena tersedia di Subak. Saluran subak juga cukup bagus hanya saja memang sumber air yang kecil.

Sebelum kena hama walang sangit padi tersebut juga sempat diserang candang bawang. Padi mati pada bagian akarnya dan tumbuhnya menjadi kerdil dan tidak mau berbuah. Serangan ini terjadi setelah satu bulan musim tanam. Di mana batang dan daun padi diserang sehingga rusak karena diserang semacam rayap.

Saat itu petani berhasil mengatasi dengan dilakukan penyemprotan, padi pun tumbuh dengan baik. Namun kali ini serangan serangan walang sangit benar-benar fatal karena membuat padi puyung atau kosong.

Diakui untuk satu petak garapannya kalau bagus bisa menghasilkan 15 kampil. Namun dengan serangan walang sangit sekarang ini hasil panen diperkirakan jauh menurun.

Diakui serangan walang seperti ini enam bulan lalu memang ada namun tidak separah sekarang ini. Dengan kejadian ini petani pun terencam merugi. Karena hasil panen tidak sepadan dengan biaya operasional seperti sewa traktor, pupuk dan perawatan lainnya.

(rb/tra/yor/mus/JPR)

 TOP