alexametrics
Jumat, 07 May 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Konjen Tiongkok Berharap Wisata Tiongkok-Bali Bisa Dibuka Saat Imlek

Setelah Kondisi Terpuruk Akibat Wabah Corona

24 November 2020, 22: 01: 48 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

pariwisata Bali, Pemerintah Tiongkok, penerbangan Tiongkok-Bali, Pemprov Bali, wisman tiongkok, pandemi Covid-19,

Ilustrasi (Dok Radar Bali)

Share this      

DENPASAR - Pandemi Covid-19 memang membuat pariwisata Bali terpuruk.

Meski demikian, pemerintah terus berupaya untuk membangkitkan kembali pariwisata Bali yang kini dalam kondisi sangat sepi akibat terdampak pandemi.

Salah satu Pemerintah Provinsi Bali untuk pemulihan pariwisata itu, yakni dengan menjalin kerjasama dengan Pemerintah Tiongkok.

Baca juga: Pjs Bupati Kecewa Jembatan Rusak Dibiarkan, Jalan Bagus Diperbaiki

Seperti terungkap saat rapat virtual antara Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dengan Konsulat Jenderal Tiongkok untuk Bali Mr. Zhu Xinglong.

Rapat yang juga dihadiri ketua Bali Tourism Board (BTB) itu membahas penerimaan wisatawan antar kedua negara.

Dalam rapat tersebut, Cok Ace menyampaikan beberapa hal penting, diantaranya hubungan Bali dan Tiongkok memang tidak sebatas dagang maupun pariwisata semata. Melainkan juga dalam hal budaya yang sampai saat ini masih berkembang ditengah-tengah masyarakat.

“Semenjak Tiongkok dilanda pandemi covid-19, awal bulan februari 2020 Bali menutup Bandara Internasional untuk semua wisatawan Internasional, dan hal tersebut berdampak pada ekonomi Bali yang memang sebelumnya bergantung pada pariwisata,” terangnya.

Kini setelah dilanda pandemi Covid-19 selama 9 (Sembilan) bulan, kondisi ekonomi Bali saat ini berangsur-angsur mulai membaik. Membaiknya kondisi pariwisata Bali setelah pemerintah menbuka kran bagi penerbangan domestik

Selain itu, sejak dilanda pandemi covid-19 Pemerintah Provinsi Bali berusaha melakukan penanganan terbaik dalam menghadapi pandemi tersebut, baik dari segi fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas karantina sampai pada fasilitas penyediaan rapid dan PCR test. 

“Dan sampai saat ini kondisi di Bali berangsur-angsur membaik dan pemprov Bali bersama stakeholder pariwisata secara konsisten dan gencar untuk melakukan standar protokol kesehatan di seluruh aspek pariwisata baik akomodasi perhotelan, kawasan wisatawan, transportasi, kuliner maupun wisata perbelanjaan. Diharapkan apalagi kesiapan standar protokol kesehatan ini mampu diterapkan oleh seluruh masyarakat Bali maka, Bali siap seutuhnya untuk menyambut kembali para wisatawan mancanegara,” klaimnya. 

Untuk itu, ia berharap Tiongkok dapat melihat kesiapan-kesiapan penerapan protokol kesehatan yang ada di Bali, sehingga bisa merekomendasikan kepada jajaran pariwisata terkait yang ada di tiongkok sehingga kepercayaan masyarakat tiongkok untuk berkunjung ke Bali akan tumbuh kembali.

Menanggapi hal tersebut Konsulat Jenderal (konjen) Tiongkok untuk Bali Mr. Zhu Xinglong, menyampaikan apresiasi atas segala upaya yang telah dilakukan Pemprov Bali dalam penanganan pandemi covid-19.

Ia mengatakan bahwa di Tiongkok sendiri, pariwisata domestik sudah kembali berjalan seperti semula dan sampai saat ini tidak ada kasus positif akibat lalulintas pariwisata.

Sedangkan terkait menbuka kembali untuk pariwisata internasional dan kunjungan warga Tiongkok ke Luar Negeri, sampai saat ini masih menjadi pertimbangan pemerintah settempat, karena semua tergatung dari kesiapan dan keadaan kasus pandemi covid-19 di masing-masing negara.

Selanjutnya, Mr. Zhu juga mengatakan bahwa masyarakat Tiongkok sudah ingin sekali berlibur ke Bali, baik untuk berwisata maupun melakukan weding di bali.

Disamping itu, pihaknya menginginkan semoga imlek tahun depan lalulintas pariwisata antara Indonesia dan Tiongkok sudah bisa dibuka, namun tetap melihat kondisi yang berkembang saat itu. 

Terkait pembukaan pariwisata, ia mengatakan bahwa harus terdapat beberapa hal yang harus disepakati yaitu pertama: pengakuan antar negara terkait hasil tes PCR baik saat berangkat ke negara tujuan maupun kembali lagi ke negara asal.

Kedua, masing-masing negara harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat dalam menerima wisata asing sehingga para wisatawan merasa aman dan tenang saat berwisata dan ketentuan protokol kesehatan saat tiba dinegara kunjungan dan kembali ke negara asal harus benar-benar disepakati. Dengan hal tersebut, maka kenyamanan dalam beriwisata akan sangatbdirasakan oleh masyarakat. 

(rb/ara/pra/JPR)

 TOP