alexametrics
Rabu, 20 Jan 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa
Sudirta Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan

Forum Kajian Terbentuk, Siap Kaji RUU Mikol

30 November 2020, 19: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

sosialisasi 4  Konsensus kebangsaan, MPR RI, DPR RI, Wayan Sudirta, forum kajian, RUU Mikol, minuman beralkohol,

Anggota MPR RI I Sudirta saat sosialisasi 4 konsensus kebangsaan di Sekretariat PHDI Bali, Senin (30/11) (Istimewa)

Share this      

Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan oleh Anggota MPR RI, I Wayan Sudirta, SH, digelar Senin (30/11) di Sekretariat PHDI Bali.

Saat sosialisasi, akhirnya menyepakati terbentuknya Forum Kajian untuk mendiskusikan masalah-masalah yang terjadi di Bali maupun nasional.

Permasalahan yang segera didiskusikan adalah RUU Minuman Beralkohol (Mikol), yang sempat menghebohkan komunitas masyarakat adat di beberapa daerah di Indonesia, yang secara tradisional memiliki budaya produksi minol.

Forum tersebut beranggotakan Dr. Nyoman Subanda dosen Fisipol Undiknas, Dr. Nyoman Wiratmaja seorang akademisi Fisipol Universitas Warmadewa, Wayan Suyadnya wartawan Media Bali, Cokorda Yustira wartawan KOMPAS, dan menunjuk Putu Wirata Dwikora sebagai penghubung dengan Anggota DPR RI, Wayan Sudirta.

Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan yang dihadiri wartawan, akademisi, tokoh masyarakat, secara ‘’offline’’ maupun virtual, mengangkat tema tentang lembaga DPR serta permasalahannya, menampilkan narasumber, Wayan Sudirta, SH (Anggota MPR RI) dan Dr. Nyoman Subanda (akademisi).

Sebagai akademisi yang sering diundang menjadi narasumber di BIMTEK anggota legislatif, Subanda menemukan fakta, bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap wakil rakyat, di DPR maupun DPRD sangat rendah.

 Sebaliknya, kepercayaan Anggota DPR dan DPRD terhadap rakyat juga merosot.

‘’Ada contoh, seorang caleg sudah menyumbang gong untuk desa tertentu, tapi ketika hanya dapat 15 suara, gong itu ditagih. Dia tidak percaya ke rakyat. Walaupun ini kasuistis, ini cerminan dari situasi kita sekarang,’’ kata Subanda.

Dosen Fisipol Unwar, Dr. Nyoman Wiratmaja mengamini kenyataan tersebut. “Trust (kepercayaan) diantara politisi dan rakyat sudah sangat rendah. Jangan-jangan juga sudah tidak percaya pada dirinya sendiri, karena ketidakadilan merajalela, penegakan hukum belum sepenuhnya adil, korupsi masih merajalela,’’ katanya.

Karena itu, Wiratmaja berpendapat, untuk pertarungan politik, diperlukan kecerdasan, karena kompleksitas perpolitikan yang rumit diantara kepentingan partai, kepentingan daerah, suku, maupun agama, yang harus diperjuangkan oleh seorang politisi.

 ‘’Saya tahu kinerja Pak Wayan Sudirta, sejak duduk di DPD RI sampai sekarang. Hari ini saya mendengar prinsip yang menjelaskan proses serta proyeksi ke depan, dari penjelasan tentang perjuangan RUU Otonomi Khusus Bali yang Pak Wayan perjuangkan, bagaimana Bali perlu mengantisipasi segala kemungkinan perpolitikan ke depan. Bali membutuhkan pikiran-pikiran visioner dari wakil-wakil dan pemimpinnya,’’ jelas Wiratmaja.

‘’Saya sadar bahwa kinerja DPR belum memuaskan, sistemnya belum sempurna. Mari benahi bersama, dengan kritik-kritik yang menyempurnakan, memperkuat kinerjanya dengan memberi masukan,’’ kata Sudirta, sembari meminta beberapa tokoh yang hadir membentuk forum diskusi dan menawarkan RUU Minol termasuk permasalahan yang segera dikaji.

‘’Saya siap bantu anggarannya, dan kalau masukannya sudah ada, sampaikan ke DPR dan saya siap memfasilitasi. Syukur kalau nanti bisa mempresentasikan konsepnya di Fraksi, sebagai salah satu aspirasi dari Bali. Kritik seperti ini yang dibutuhkan DPR, bukan hanya caci maki,’’ tukasnya.

(rb/pra/pra/JPR)

 TOP