alexametrics
Rabu, 20 Jan 2021
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Kasus Perseteruan Hak Asuh Anak

[Memilukan] Berakhir Happy Ending, Bayi Dikembalikan ke Ibu Kandung

Penyerahan Bayi Diwarnai Isak Tangis

30 November 2020, 22: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

hak asuh anak, happy ending, Polda Bali, Siti Sapura, bayi laki-laki, rebutan hak asuh,

ibu kandung bayi (RR) menangis histeris saat menerima bayinya dari IMS di Polda Bali (Istimewa)

Share this      

DENPASAR-Sempat bikin heboh, perseteruan hak asuh antara IMS (pengasuh) dengan RR (ibu kandung) dari bayi laki-laki berakhir happy ending.

IMS yang sebelumnya menolak karena tidak rela untuk menyerahkan sang bayi akhirnya melunak. Tak hanya melunak, IMS juga sepakat untuk menyerahkan sang bayi laki-laki kepada ibu kandungnya (RR).

Penyerahan bayi ini ditengahi langsung Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Subdit IV Ditreskrimum Polda Bali, Senin (30/11) siang.

Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu diserahkan oleh IMS ibu asuh kepada RR ibu kandung. 

Pada kesempatan itu, RR didampingi oleh kuasa hukumnya, Siti Sapura.

Sedangkan IMS didampingi oleh kuasa hukumnya, Ida I Dewa Ayu Dwiyanti.

Serah terima bayi itu pun diwarnai tangis haru dari kedua belah pihak.

Sempat terjadi juga keributan kecil. Dimana IMS sepertinya belum rela jik bayi yang sempat dirawatnya berbulan-bulan itu belum rela menyerahkan bayi tersebut.

Dia sempat berteriak histeris dan mengatakan jika RR penipu yang tidak memegangbkomien dan perjanjian. Namun keributan itu lekas diredam oleh dua pihak yang mendampingi.

Siti Sapurah sebagai kuasa hukum RR menuturkan jika pihaknya berterimakasih kepada Polda Bali yang telah memberikan respon yang cepat terkait kasus ini.

"Untuk mengadopsi itu tidak mungkin karena beda agama. Adopsi itu harus dilakukan di pengadilan," katanya usai serah terima bayi tersebut.

Hanya saja, lanjut wanita yang akrab disapa Ipung ini kliennya, RR belum bisa memenuhi pencabutan laporan terhadap IMS di kepolisian.

Dimana RR bersikeras masih melanjutkan kasus tersebut di ranah pidana. Alasannya, dimana kasus tersebut dijadikan edukasi untuk masyarakat ke depannya. 

"Jadi biar tidak sampai terulang kembali. Berikan edukasi ke masyarakat bahwa pengambilan anak dengan surat pernyataan tidak boleh. Biarkan penyidik Polisi bekerja dulu sesuai prosedur hukum. Nanti kalau kedepan ada perdamaian itu urusannya kedua belah pihak," tegas Ipung.

Menanggapi hal itu, kuasa hukum IMS yakni Ida I Dewa Ayu Dwiyanti mengatakan pihaknya akan berembuk dulu dengan pihak RR sebagai ibu kandung. Ini untuk berdiskusi bagiamana kelanjutan laporannya tersebut.  

"Kami dengan pihak penyidik dan keluarga ibu kandung masih berembuk bagaimana kelanjutan hasilnya hari ini apakah lanjut apa tidak. Kalau lanjut, kami akan mengikuti proses hukumnya," tandasnya. 

Diberitakan sebelumnya, wanita berinisial RR asal Serang Jawa Barat itu ditinggal pacarnya setelah mengetahui dirinya hamil.

Wanita 22 tahun itu ditinggal dalam kondisi hamil.

Dalam kondisi hamil, dia lalu datang ke Bali namun tidak mempunyai biaya bersalin.

Lalu di Bali, dia bertemu dengan seorang tukang ojek. Dari sana  tukang ojek tersebut memberitahu jika dia bisa mempertemukannya dengan salah satu keluarga yang bisa membantu kesulitannya. 

RR pun sepakat. Dia lalu bertemu dengan keluarga IMS. Mereka kemudian sepakat dengan surat perjanjian.

Dimana di sana diduga kedua belah pihak sepakat jika semua biaya persalinan di tanggung IMS dengan syarat pengasuhan bayi.

Terkait syarat tersebut belum dipastikan isinya. Karena kedua belah pihak sendiri memiliki versinya masing-masing saat membeberkan kasus ini ke media.

Setelah RR melahirkan, sang bayi pun langsung diasuh oleh keluarga dari IMS. Namun tidak berselang lama, RR melaporkan hal itu kke Ditreskrimum Polda Bali tanggal 7 Oktober dengan laporan Dumas /407/X/2020 Ditreskrimum Polda Bali terkait laporan Pasal 263 dan 364 KUHP tentang pemalsuan.

Dimana dia tidak terima bayinya itu seperti diambil paksa oleh IMS. Dia bahkan menuturkan jika keluarga IMS tidak membolehkan dirinya untuk melihat bayinya itu.

Sementara itu beberapa waktu lalu, keluarga IMS mengungkap ke media jika tudingan dari RR itu tidak berdasar. Mereka mengatakan jika RR masih diperbolehkan melihat bayinya itu.

Dari sana, kasus ini pun bergulir ke Polda Bali. Hingga akhirnya Senin (30/11) melalui mediasi di Polda Bali, IMS menyerahkan bayi itu kepada RR.

(rb/mar/pra/JPR)

 TOP