alexametrics
Rabu, 04 Aug 2021
radarbali
Home > Dwipa
icon featured
Dwipa

Pembatalan Hunian Capai 20 Persen, PHRI Hanya Bergantung dari Wislok

25 Desember 2020, 23: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

pariwisata buleleng,. lovina, PHRI Buleleng, hotel, restoran, pembatalan reservasi, hunian hotel, wisatawan lokal, wisdom, wisman,

Suasana di objek wisata Pantai Lovina, Buleleng (Eka Prasetya)

Share this      

SINGARAJA– Para pengelola hotel di Buleleng kini hanya bisa menggantungkan harapan dari wisatawan lokal di Bali.

Sejak diberlakukannya kebijakan pengetatan pelaku perjalanan dalam negeri, tingkat hunian hotel di Buleleng disebut ikut berdampak.

Tadinya para pengusaha sudah semringah dengan momen libur akhir tahun ini. Terlebih libur diprediksi cukup panjang.

Baca juga: Siagakan Ratusan Personel, Polri Ingatkan Umat Tak Buat Kerumunan

Mulai dari libur Hari Raya Natal pekan ini, yang berlanjut hingga libur tahun baru pekan depan.

Ketua Badan Pengurus Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPC PHRI) Buleleng Dewa Ketut Suardipa mengatakan, sejak adanya pembatasan pelaku perjalanan dalam negeri, banyak pembatalan pesanan yang terjadi. Tingkat pembatalan itu mencapai 20 persen. Hal itu dilakukan oleh wisatawan yang berencana melakukan perjalanan menggunakan transportasi udara.

Padahal pengelola hotel sudah berusaha melakukan promosi semaksimal mungkin. Termasuk menyediakan jasa antar jemput gratis dari hotel ke bandara. Demi menarik kunjungan wisatawan. Namun kunjungan itu terpaksa dibatalkan.

“Syukurnya ada tamu-tamu lokal dari Bali Selatan yang liburan ke Bali Utara. Mereka biasanya pilih liburan ke Lovina atau Batuampar. Gili Putih juga sekarang mulai dicari. Untuk wilayah Lovina dan Batuampar, setidaknya ada tamu. Tapi kalau di Buleleng Timur memang terjun bebas. Karena pasar wisata di Buleleng ini kan sebenarnya dari Eropa,” kata Suardipa.

Terkait dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pusat, Suardipa mengaku tak bisa berbuat banyak. Pihaknya sebagai pengusaha hanya bisa tunduk terhadap regulasi yang diterapkan pemerintah.

“Memang kami berharap sekali. Kalau ada tamu akhir tahun ini, bisa dipakai bayar utang, saving operasional dan karyawan. Ya mudah-mudahan saja ada upaya lagi dari pemerintah untuk tahun depan,” katanya.

Sementara itu General Manager The Lovina Hotel Dwi Dharmawijaya mengungkapkan, saat ini hunian hotel memang sedikit meleset dari prediksi semula. Di Lovina saja, tingkat hunian berkisar antara angka 35 persen hingga 45 persen. Angka itu terbilang angka tertinggi selama pandemi. Namun tingkat hunian itu sedikit meleset dari target yang tadinya diproyeksikan mencapai 70 persen.

Ia pun berharap pemerintah bisa menyiapkan strategi lain untuk mendatangkan wisatawan ke Bali Utara. Salah satunya mengintensifkan kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition). Lembaga pemerintah seperti kementerian, diharapkan bisa menggelar kegiatan rapat maupun pameran di Bali Utara.

“Kami di The Lovina misalnya, sudah punya sertifikat CHSE. Kalau misalnya ada kegiatan pertemuan dari kementerian, kami siap jadi lokasi acara. Kegiatan seperti ini sangat membantu. Karena akan berimbas untuk hunian hotel di daerah, utamanya di Bali Utara,” tukasnya berharap.

(rb/eps/pra/JPR)

 TOP