alexametrics
Kamis, 25 Feb 2021
radarbali
Home > Travelling
icon featured
Travelling

Pandemi Covid, Destinasi Wisata di Buleleng Andalkan Wisatawan Lokal

01 Januari 2021, 07: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

pandemi covid-19, destinasi wisata, buleleng, wisatawan lokal, wiwanda agro

Wisatawan domestik menikmati kunjungan wisata di kebun strowberry Wiwanda Agro (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

SUKASADA – Destinasi wisata yang ada di Buleleng, kini hanya mengandalkan pemasukan dari wisatawan lokal.

Kedatangan wisatawan lokal ke destinasi wisata, setidaknya bisa memutar roda usaha destinasi. Pengusaha tak sampai kelabakan membayar biaya operasional.

Seperti yang terlihat di destinasi wisata petik stroberi Wiwanda Agro. Pantauan Jawa Pos Radar Bali, tingkat kunjungan wisatawan terbilang stabil.

Selama libur akhir tahun ini, rata-rata ada 50 orang pengunjung per harinya. Hampir 80 persennya merupakan wisatawan lokal di Pulau Bali, sementara 20 persen lainnya berasal dari luar Bali.

Pengelola Wiwanda Agro, Gede Adi Mustika mengatakan, akhir tahun ini mulai ada geliat kunjungan wisatawan.

Hal itu jauh lebih baik ketimbang selama pandemi ini. “Ya setidaknya ada kunjungan. Lebih baik dari nol sama sekali,” kata Adi.

Ia mengaku selama pandemi ini, tingkat kunjungan wisatawan turun drastis. Sejak tatanan kehidupan baru diberlakukan, ia mengaku memberikan insentif-insentif khusus pada para pengunjung.

Dulunya tiap pengunjung dikenakan tiket senilai Rp 60 ribu untuk sekali kunjungan. Pengunjung sudah dapat menikmati stroberi sepuasnya, serta mendapat jus gratis.

“Kadang ada yang minta kebijakan. Misalnya minta biar anaknya saja yang kena tiket petik stroberi, orang tuanya cukup beli jus saja. Ya kami berikan.

Karena kondisi ekonomi sedang lesu juga. Yang penting masih bisa operasional saja,” kata pria yang juga Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pancasari itu.

Kini pada akhir tahun, wisatawan dari Jawa Timur dan Jakarta sudah mulai berdatangan ke destinasi yang ia kelola.

Karena pemberlakuan protokol kesehatan, ia terpaksa mengurangi jumlah wisatawan yang bisa masuk ke areal kebun.

Dalam satu gelombang kunjungan, hanya boleh ada 25 orang di dalam kebun. Dengan upaya itu diharapkan pengunjung tak terlalu berdesakan di dalam kebun.

Mereka juga masih bisa menjaga jarak saat berinteraksi. Biasanya dalam sekali kunjungan, wisatawan menghabiskan waktu tak lebih dari 2 jam.

“Kami sengaja perketat, agar tidak ada klaster penyebaran di sini. Protokol kesehatan sangat kami perhatikan. Supaya pengunjung benar-benar merasa nyaman dan aman saat berwisata ke kebun ini,” tegasnya. 

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP