alexametrics
Selasa, 19 Jan 2021
radarbali
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Pembunuh Teller Bank Mulai Disidang, JPU Ungkap Fakta Mengejutkan

14 Januari 2021, 18: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

pembunuhan teller bank, teller bank mandiri, sidang perdana, JPU, PN Denpasar, Kejari Denpasar, Polresta Denpasar, bocah pembunuh teller, pencurian, p

Putu AHP (baju oranye) saat menjalani rekonstruksi di Mapolresta Denpasar beberapa waktu lalu (Dok Radar Bali)

Share this      

DENPASAR-Kasus pencurian berujung pembunuhan dengan terdakwa anak dibawah umur berinsial Putu HAP, 14, terhadap korban, teller Bank Mandiri, Ni Putu Widiastuti, 25, Kamis (14/1) menjalani sidang perdana.

Sidang perdana yang digelar secara virtual dan tertutup itu, terdakwa PHAP menjalani sidang dari Rutan Polresta Denpasar. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Denpasar dan Hakim di Pengadilan Negeri Denapasar. 

Mengagendakan pembacaan surat dakwaan dan dilanjutkan pemeriksaan saksi.

Pada sidang kali ini, JPU menghadirkan 9 (Sembilan) orang saksi.

"Saksinya 2 (dua) polisi dan 7 (tujuh) orang saksi lainnya umum," terang Jaksa Ni Putu Widyaningsih usai sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua, Hari Supriyanto.

Sedangkan saat pembacaan surat dakwaan, JPU mendakwa bocah putus sekolah itu dengan dakwaan primair, yakni Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP, lebih subsider Pasal 365 ayat (3) KUHP.

Dimana di dalam dakwaan diuraikan, sebelum melakukan aksinya, terdakwa mengambil pisau dapur dan menyelipkan di pinggangnya.

Peristiwa itu terjadi, pada Minggu lalu (27/12) sekitar pukul 16.00 WITA.

Setelah itu, terdakwa berjalan menuju rumah korban yang jaraknya kurang lebih 25 meter dari tempat kosnya.

Menuju ke arah barat, lalu terdakwa mulai memantau situasi rumah korban. Setelah merasa situasi sudah aman, terdakwa masuk ke dalam rumah korban dengan cara memanjat tembok. 

Di dalam rumah, terdakwa menuju kamar yang berada di lantai bawah. Dia lalu mulai mencari barang-barang berharga di dalam rumah korban.

Namun saat hendak mulai membuka lemari, korban tiba-tiba masuk ke dalam rumah.

Melihat korban masuk kamar, terdakwa langsung bersembunyi di balik pintu kamar. 

Tak mengetahui ada orang lain di rumahnya, korban kemudian naik ke kamarnya di lantai dua.

Sementara terdakwa yang melihat korban naik ke lantai dua kemudian mengikutinya dari belakang.

Setibanya di kamar, korban berdiri depan tempat tidurnya dan membelakangi pelaku. Saat itu dia sambil bermain handphone. Menyadari keberadaan pelaku, korban langsung berteriak sebanyak lima kali.

Lantaran ketakutan, terdakwa langsung mendorong korban ke kasur. Dia lalu membekap mulut korban menggunakan tangan kiri.

Saat korban berusaha melawan dan melepas bekapan pelaku, dia langsung dihujam menggunakan pisau di bagian paha kiri korban.

Korban lalu berusaha merebut pisau dari tangan pelaku. Korban sempat berhasil merebutnya lalu menusuk pisau itu ke lengan kiri terdakwa.

Namun. pisau itu kembali direbut terdakwa dan kemudian terdakwa kembali menusuk korban secara membabi buta.

Ada puluhan luka tusuk yang terhitung dari hasil visum luar tim medis.

Setelah menusuk korban hingga terkapar di tempat tidur, terdakwa lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan luka di lengan kiri.

Namun darah dari lengannya terus mengucur. Dia pun mengambil jaket kain warna abu-abu milik korban untuk menutupi lukanya. Setelah itu terdakwa naik kembali ke lantai atas untuk mencari barang berharga milik korban.

Di kamar itu, dia berhasil mengambil uang Rp 200 ribu dari dalam tas korban.

Kemudian dia hendak mengambil hp korban namun tidak jadi karena hp itu berisi sandi.

Kemudian terdakwa mengambil sepeda motor korban lalu pergi ke rumah temannya yang bernama saksi KAW alias Tata di Pantai Penimbangan, Buleleng.

Hingga akhirnya, beberapa hari setelah kabur, polisi berhasil menangkap terdakwa di Pantai Penimbangan saat berduan dengan temannya yang merupakan seorang waria.

(rb/mar/pra/JPR)

 TOP