alexametrics
Kamis, 25 Feb 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Nestapa Hidup Dua Bocah Asal Karangasem

Umur Tiga Bulan Ditinggal Kabur Ayah, Saat Balita Ibunya Nikah Lagi

20 Januari 2021, 23: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

nestapa hidup, kakak beradik, kehidupan miris, bocah karangasem, made kuta, ayah kabur, ibu nikah lagi,

I Made Kuta tengah digendong pamannya I Nyoman Salia usai menjalani pengobatan di RSUD Karangasem, Rabu (20/1). (Zulfika Rahman)

Share this      

POTRET kehidupan buram dan miris terjadi di Dusun Bonyoh, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Karangasem. Meski masih berusia sangat belia, dua bocah kecil harus bergantung dari asuhan nenek, kakek dan pamannya.

Mereka adalah I Luh Santi, 6, dan adiknya I Made Kuta, 4. Tidak seperti kebanyakan anak seusianya, Made Kuta bersama kakaknya harus menanggung perih kehidupan yang berat.

Di usianya yang masih bocah, ia ditinggal begitu saja oleh ayahnya yang tak bertanggungjawab. Sedangkan ibunya menikah lagi dan berpisah karena harus mengikuti suami barunya.

Seorang pria tampak duduk sambil memangku bocah laki-laki dalam kondisi tidur di pelataran IGD RSUD Karangasem. Dialah I Nyoman Salia, 39. Salia sedang memangku I Made Kuta keponakannya.

Saat ditemui di pelataran IGD, Salia mengaku baru saja mengantar keponakannya yang masih berusia 4 tahun berobat di Poliklinik Kulit dan Kelamin.

Kata Salia, keponakannya diduga menderita infeksi kulit sejak empat bulan lalu.

Luka yang terdapat pada bagian kedua kaki cukup parah. Kini kondisinya melebar. Gatal pada bagian kakinya itu membuat Kuta sesering mungkin menggaruk dengan kedua tangannya.

“Baru saja diperiksa. Tapi belum tau sakitnya apa. Sudah dikasih obat dalam sama salep. Nanti tujuh hari lagi di suruh kontrol lagi,” ujar I Nyoman Seken, Kepala Dusun Bonyoh, Desa Ban, Kecamatan Kubu yang turut mengantar Kuta berobat ke RSUD Karangasem, Rabu (20/1).

Selama empat bulan menderita penyakit infeksi kulit, baru kali ini, Kuta mendapat pengobatan serius.

Sebelumnya hanya diperiksa ke bidan dan dibelikan obat di warung terdekat.

Untuk ke Puskesmas, jarak tempuh cukup jauh. Kondisi Kuta semakin parah setelah infeksi kulitnya itu menyebar.

Hingga melebar menimbulkan beberapa luka kembung bernanah pada bagian kedua kaki, kedua tangan, leher hingga punggung.

Seken menuturkan, awal infeksi kulit ini muncul hanya berupa bintik-bintik kecil.

“Kondisi keluarga seperti nenek dan kakeknya juga dalam kondisi sulit. Hanya mengandalkan panen kebun jambu mente setahun sekali dengan penghasilan kuran lebih Rp5 juta,” paparnya.

Made Kuta dan kakak kandungnya I Luh Santi, 6, adalah potret buram korban perceraian orang tua.

Keduanya harus mengalami kondisi yang memprihatinkan.

Di saat usia emas itu ia tidak mendapatkan kasih sayang orang tua. Dia harus terlantar dan bergantung dari asuhan kakek dan nenek serta pamanya yang rumah tinggalnya terpisah.

Namun sang paman Salia mengaku kerap memantau dua keponakannya itu. Kuta dan sang kakak Santi merupakan anak dari pasangan I Ketut Mertajaya dan Ni Nyoman Suka.

Sejak menikah itu, ayahnya memang jarang berada di rumah. Merantau untuk mencari penghidupan.

Namun tiga bulan setelah Kuta lahir, ia ditinggal ayahnya entah kemana. Hingga usia Kuta beranjak empat tahun dan I Luh Santi berusia enam tahun tak kunjung pulang hingga saat ini.

Keberadaannya pun tak jelas. “Karena tidak pernah pulang bapaknya ini, ibunya enam bulan lalu menikah lagi.

Sekarang tinggal di Desa Bantas, Kubu bersama suami barunya. Tapi seminggu sekali atau dua minggu pulang ke rumah untuk menengok kedua anaknya ini,” kata Salia.

Disinggung kenapa dua anaknya tersebut tidak ikut ibunya, Salia menjawab tidak mengetahui hal tersebut.

 Salia beserta Kepala Dusun Bonyoh sempat mengontak keluarga ayahnya yang berasal dari Desa Tianyar, Kubu namun dari keluarga sang ayah tidak ada tanggapan. “Saya juga sudah telepon nomor bapaknya tapi tidak aktif,” imbuhnya.

Penderitaan kedua bocah malang itu juga diperparah dengan keberadaan administrasi keanggotaan keluarga. Karena sejak lahir, kedua tidak memiliki akta lahir dan juga Kartu Keluarga (KK).

Sehingga untuk memasukkan ke dalam BPJS dan jaminan sosial lainnya cukup sulit. Namun pihal relawan seperti Relawan Karangasem Shanti (Rekasa) dan juga Kadus Bonyoh sendiri akan mengupayakan untuk mengurus keabsahan status kedua bocah tersebut.

“Karena biar ada pengakuan dua anak ini sah di mata hukum. Tercatat di kependudukan sipil. Sehingga untuk keperluan sekolah dan lainnya bisa gampang dilakukan.

Mungkin nanti akan dimasukkan ke KK kakeknya meskipun nanti masuk dalam family lain. Yang terpenting keduanya sah identitas kependudukannya,” kata Kadus Bonyoh, I Nyoman Seken.

Untuk keperluan makan sehari-hari kata Seken, hampir tidak ada masalah.

Sementara kehidupan sehari-hari kedua anak ini kerap bermain dengan anak-anak seusianya di kampung tersebut. Sejauh ini, bantuan berupa raskin dan serta jaminan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) didapat kakek dari kedua bocah malang ini. (zulfika rahman)

(rb/zul/pra/JPR)

 TOP