alexametrics
Sabtu, 17 Apr 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Musisi Bale Tenget Berbagi di Tengah Pandemi

Ada Musisi Makan Umbi, Driver Beralih Jadi Petani dan Buka Warung

24 Januari 2021, 16: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

musisi bale gtenget, berbagi makanan, pandemi covid-19, musisi makan umbi, driver jadi petani, buka warung

Musisi Bale Tenget menyalurkan sembako dari donatur Feed Bali di parkiran objek wisata Gunung Kawi Tampaksiring (Istimewa)

Share this      

Musisi Bali yang tergabung dalam Bale Tenget menyalurkan sembako dari donatur Feed Bali. Sembako senilai Rp 400 ribu itu dibagikan kepada driver pariwisata yang sepi tamu.

Bahkan, musisi yang sepi panggung ikut kebagian sembako. Total ada 50 orang yang menerima bantuan.

 

Baca juga: Antisipasi Liga 1 Bergulir, Bali United Cari Tempat Latihan Alternatif

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

JUMAT pagi (22/1) areal parkir objek wisata Gunung Kawi di Kecamatan Tampaksiring dipenuhi sejumlah artis Bali.

Ada penyanyi kondang, Yong Sagita. Ada juga personil band, Vitix, Nirwana, Diubud, Korrok, 703, Metaller, Mercy, Erix and Band. Ada juga Roxellina Band dan GKB.

Kehadiran artis papan atas dan personil band itu bukan manggung. Justru mereka sedang sepi panggung.

Yang dilakukan adalah menyalurkan sembako dari donatur Feed Bali. Sembako berupa beras, gula, minyak, sayuran dan bahan bumbu itu nilainya Rp 400 ribu.

Musisi Korrok, Apap Miichan, menyatakan jika acara ini awalnya dari Feed Bali. “Biasanya mereka gerak sendiri. Sekarang kerja sama dengan komunitas kami Bale Tenget.

Kebetulan ada musisi yang kerjanya sebagai driver juga. Makanya dijadikan satu,” ujar Apap, disela pembagian sembako.

Di luar musisi dan driver, Bale Tenget juga membagikan sembako kepada masyarakat di sekitar Tampaksiring.

“Gerakan ini sudah keliling Bali. Di Gianyar sudah di sejumlah tempat. Yang diberikan bantuan ini ditunjuk. Kami pilih orang-orangnya. Biar langsung rata sampai ke tujuan,” terang musisi berambut gondrong itu.

Mereka juga mengecek satu persatu. “Data rumah-rumahnya. Kami lihat kesehariannya seperti apa. Tujuan langsung kesana,” jelasnya.

Secara umum, seluruh musisi bisa dikatakan terdampak pandemi Covid-19. “Sangat terdampak banget. Gak Cuma artis, pemain di bar, musisi bar semua kena. Lahan nggak ada, panggung nggak ada,” jelasnya.

Dengan bantuan sembako yang diberikan, diakui angat membantu para musisi. “Banyak yang belum tentu bisa makan. Ada yang makan seadanya,” ujarnya.

Bahkan, kata Apap, ada musisi yang beralih dari nasi ke umbi-umbian. “Ada yang beralih ke umbi-umbian. Ubi, jagung, kan kasihan,” terangnya.

Khusus bantuan untuk musisi juga disisir. “Layak nggak dikasih bantuan,” terangnya. Untuk musisi ini, ada yang kategori artis. Yang sudah dikenal banyak orang.

Meski terdampak pandemi Covid-19, para musisi tetap berkarya. “Saya sebagai musisi karya itu dihargai. Mungkin nggak sekarang.

Syukur-syukur bisa dipanggil untuk apalah. Sekarang kan ada online juga. Streaming. Keceran dikit-dikit,” ungkapnya.

Ditanya soal ekspansi ke Youtube, Apap yang juga punya akun Youtube Apap Miichan mengaku Youtube sudah banyak aturan.

“Nggak semua orang punya kemampuan di Youtube. Makanya nggak semua bisa jalankan Youtube. Kalau itu gampang, semuanya beralih ke Youtube. Apalagi sekarang makin banyak Youtuber,” paparnya.

Sedangkan, personil Vitix Band, Urip, menyatakan banyak upaya sudah dilakukan para musisi di tengah pandemi ini.

“Mulai dari banting harga band, harga rekaman sampai banting setir ke peruntungan lain,” ujar pria asal Desa Wanasari, Kecamatan Tabanan itu.

Lanjut Urip, ada juga musisi yang nyambi jadi pedagang. “Ada yang buat karya di Youtube,” imbuhnya.

Bahkan, di situasi saat ini, banyak musisi memenuhi kebutuhan dapur dari kebun. “ Ada juga memanfaatkan buah sayuran di kebun sebagai pangan,” tuturnya.

Sementara itu, seorang driver freelance, Nyoman Dana, dari Banjar Tangkup, Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang, mengaku terbantu dengan bantuan yang diberikan Bale Tenget bersama Feed Bali ini.

“Kami dari 10-12 bulan tidak dapat kerjaan. Saya terbantu,” ujar Nyoman Dana. Untuk mengisi waktu dan mencari penghasilan, dirinya membantu orang tua menjadi petani.

“Paling menanam padi. Tidak terlalu banyak. Yang penting ada keerjaan, dari pada bengong,” terangnya.

Sebelumnya, dia merupakan sopir mengantarkan tamu keliling Bali. “Semenjak Corona tidak bisa kerja apa-apa, kecuali bantu orang tua.

Dulu sebagai freelance tidak menentu, pastinya bisa untuk hidup, sekolahkan anak dan keluarga. Minimal Rp 5 juta per bulan. Sekarang zero nol,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan driver freelance, Nyoman Putra Wijaya dari Banjar Lantang Hidung, Desa Batuan Kecamatan Sukawati.

“Sangat berterima kasih, sangat terbantu walaupun nilainya tidak terlalu besar. Tapi, untuk sehari-hari ini sudah membantu untuk keluarga. Karena selama pandemi hampir setahun kehilangan pekerjaan. Nol persen penghasilan,” terangnya.

Diakui, saat pariwisata jaya, sebelum ada Corona, untuk menutup biaya bulanan masih bisa. “Makan gampang. Sekarang, untuk bulanan sulit, apalagi untuk uang makan susah,” ujar bapak dua anak itu.

Untuk menyokong ekonomi keluarga, dirinya membuka warung lawar Bali. “Cuma daya beli masyarakat turun. Karena semua mengandalkan pariwisata.

Untuk belanja, uang Rp 10 ribu berarti. Untuk cukup makan saja itu sebenarnya. Sulit jualan. Karena sekarang semua beralih ke pedagang,” pungkasnya. (*)

(rb/dra/mus/JPR)

 TOP