alexametrics
Kamis, 25 Feb 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Ketika Derajat Tempe “Naik Kelas”

Manfaatkan Kedelai Lokal, Ubah Jadi Cookies Hingga Tempe Rasa Keju

24 Januari 2021, 22: 15: 59 WIB | editor : ali mustofa

derajat tempe, tempe naik kelas, benny santoso, perajin tempe, kedelai lokal, ubah jadi cookies, tempe rasa keju

Benny Santoso mengaduk-aduk tempe untuk proses pengeringan, seusai kedelai dimasak (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

Share this      

Tempe adalah makanan yang sudah tidak asing di lidah masyarakat Indonesia. Makanan dengan bahan dasar kedelai tersebut menjadi salah satu makanan pokok

yang wajib ada di setiap hidangan keluarga Indonesia. Di tangan pemuda bernama Benny Santoso, tempe bisa diolah menjadi berbagai macam makanan.

ALIT BINAWAN, Abiansemal

AWAL tahun 2021, perajin tempe menjerit. Mereka cukup kesulitan berproduksi karena kelangkaan bahan baku utama yaitu kedelai.

Masalah utamanya adalah supply chain dari petani kedelai lokal di Indonesia. Namun bagi Benny Santoso, hal tersebut bukanlah menjadi kendala.

Dia menjadi salah satu pengerajin tempe di Bali. Di rumahnya di kawasan Abiansemal, Badung, pemuda asal Solo, Jawa Tengah tersebut berhasil membuat derajat tempe lebih tinggi beberapa tingkat.

Dia mengolah sendiri kedelai yang didapatnya dari kawasan Gerobogan, Jawa Tengah dan di daerah Bali Barat.

Jika tempe pada umumnya menggunakan kedelai transgenic atau impor, tempe yang dihasilkan Benny berbeda.

Dia memakai non genetically modified soybean alias kedelai lokal. Dalam sekali produksi, dia bisa menghasilkan 40 kg tempe. Untuk memproduksi tempe, dia dibantu oleh lima pekerja.

Kebetulan, dia mulai memproduksi tempe sejak tahun 2016 lalu. Tidak hanya diolah sebagai tempe mentah saja, Benny bereksperimen dengan membuat beberapa olahan dari tempe.

“Ide awalnya ya karena ada tugas kuliah dan mulai fokus di dunia pertempean setelah lulus dari STP Nusa Dua (sekarang Politeknik Pariwisata Bali) pada tahun 2016,” terang Benny.

iniTempe adalah nama produknya. Kepanjangannya adalah Innovated Idea with Tempe. Benny tidak hanya sekadar membuat tempe yang dibungkus dari dari daun pisang.

Tapi lebih dari itu. Tempe dengan rasa keju, ada taburan biji wijen, atau dicampur dengan buah labu Benny bisa membuatnya dan selama ini tidak ada yang memikirkan ide gila tersebut.

“Kami ingin mengenalkan tempe secara lebih luas di kalangan masyarakat. Kami ingin agar masyarakat tahu bahwa pmbuatan tempe itu sangat aman dan diproduksi dengan baik,” tutupnya.

Hasilnya cukup mengejutkan. Tempe produksinya disukai oleh masyarakat. Bahkan, restoran, hotel, dan café di kawasan Ubud menjadi pelanggan tetapnya.

Jika menurut masyarakat tempe rasa keju itu hal biasa, bagaimana jika tempe dibuat menjadi cookies dengan rasa manis kurma?

Lagi-lagi ide gila muncul dari benak Benny. Jawa Pos Radar Bali sempat mencicipi olahan tempe menjadi cookies.

After taste memang masih ada aroma tempe, namun rasa manis kurma lebih terasa. Protein bar juga dibuat oleh Benny dari olahan tempe.

Salah satu yang unik adalah produknya yang diberi nama instant tempe. Tempe kering mentah yang bisa dibawa kemana saja dalam jangka waktu lama.

Ide ini dia peroleh ketika ada salah satu rekannya ingin membawa tempe mentah ke Singapura. Kalau terlalu lama, kan jadi busuk.

“Akhirnya saya coba eksperimen dengan mengeringkan tempe. Nanti tempe ini bisa direbus dulu dengan bawang atau garam. Setelah itu baru diolah,” jelasnya.

Satu tempe daun dengan berat 90 gram, dia jual mungkin 100 persen lebih mahal dari harga tempe normal.

“Ada yang seharga Rp 6.500 sampai Rp 7.500. Untuk snack dari olahatan tempe harganya mulai dari Rp 25 ribu,” terangnya lagi.

Omzetnya pun cukup besar. Benny mengaku bisa meraup Rp 50 - 60 juta perbulan hanya dari penjualan tempe saja selama pandemi Covid-19 kurang lebih 10 bulan terakhir.

“Sebelum pandemic saya bisa mendapat omzet sebesar Rp 90 - 100 juta. Ditengah pandemi seperti ini, online marketing pun dijalankannya.

Sekarang 80 persen penjualannya berasal dari  platform belanja daring hingga pesan singkat WhatsApp.

“Untuk pemasaran sekarang, dominan juga untuk restoran dan café. Tapi selama pandemi ini, kami cukup banyak pesanan dari toko online,” ungkapnya.

 Tidak hanya sekadar berjualan, Benny juga membuat kelas daring untuk pembuatan tempe. Dia juga tidak takut merasa tersaingi dengan pengusaha lain.

“Pengusaha harus saling dukung dan harus berbagi ilmu. Saya ingin menunjukkan kepada masyarakat jika cara produksi tempe itu bersih dan higienis,” ucapnya.

Limbahnya pun tidak dibuang sembarangan. Misalnya saja air rebusan tempe diberikan kepada para peternak untuk menjadi campuran pakan ternaknya

karena kandungan protein yang cukup tinggi dari air rebusan tempe. Selain itu olahan kripik tempe yang sedikit hancur, dia tambahkan dengan cokelat. (*)

(rb/lit/mus/JPR)

 TOP