alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Nestapa Dadong Ubuh; Warga Kubu Karangasem

Tak Mau Tinggal dengan Anak Tiri, Nenek Buta Pilih Hidup di Gubuk Reot

08 Februari 2021, 18: 15: 59 WIB | editor : Didiek Dwi Praptono

Nestapa hidup, nenek renta, nenek buta, gubuk reot, gubuk bocor, tim relawan sudirta, penyandang cacat, tali asih, DPRRI, PDIP Bali, dadong Ubuh, kara

Nenek Ubuh di gubuk reotnya di Dusun Sambilaklak, Kubu, Karangasem saat disambangi tim relawan Sudirta (Istimewa)

Share this      

DI USIANYA yang sudah senja, Dadong (Nenek) Ubuh lebih memilih menghabiskan sisa hidupnya di sebuah gubuk reot.

Bahkan, meski dengan kondisi tempat tinggal yang sudah tidak layak dengan hanya berdinding bedek (papan anyaman bambu) lapuk dengan atap bocor, perempuan renta berusia 70 tahun lebih, ini menolak tinggal bersama anak tirinya. Seperti apa?

=====

SEJAK beberapa hari, hujan deras disertai angin kencang terus melanda wilayah Dusun Sambilaklak, Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali.

Derasnya guyuran hujan juga membuat sejumlah jalan di Kubu menjadi becek dan licin.

Hal inilah yang dialami tim relawan I Wayan Sudirta, SH (Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Dapil Bali) dan sejumlah pengurus KORdEM Demokrasi Bali saat hendak mengunjungi tempat tinggal Dadong Ubuh di Dusun Sambilaklak, Kubu, Karangasem.

Mereka harus rela basah kuyup melawan hawa dingin untuk bisa menyerahkan tali asih ke nenek berusia lanjut dan salah satu penyandang disabilitas di Kubu ini.

Usai menyusuri jalanan becek, licin, dan sempit mereka kemudian menemukan sebuah rumah sederhana.

Rumah ini adalah rumah dari anak tiri Dadong Ubuh. Setelah berbincang sejenak, tim relawan kemudian diantar ke tempat tinggal Dadong Ubuh yang jaraknya sekitar 20 meter dari rumah yang ditempati anak tirinya.

Setelah diantar dengan berjalan kaki, tim relawan Sudirta kemudian tiba di bedeng atau gubuk Dadong Ubuh.

Saat tiba, kondisi memprihatinkan terpotret dari kondisi gubuk Dadong Ubuh.

Bahkan kata anggota tim relawan Sudirta, yakni Putu Wirata Dwikora, kondisi gubuk Dadong Ubuh tak jauh beda saat dirinya bertandang sekitar 10 tahun lalu.

‘’Kami masih ingat pernah berkunjung ke tempat ini sekitar 10 tahun lalu. Kondisinya tak berubah dan masih seperti yang dulu saat kami menjenguk Dadong Ubuh,’’ kata Anggota tim relawan Sudirta, Putu Wirata Dwikora didampingi anggota tim relawan lainnya, I Nengah Wirya.

Saat disambangi, raut wajah dari perempuan renta ini terlihat riang. Bahkan meski tak bisa melihat karena kedua matanya buta, Dadong Ubuh terus menepuk pundak anggota tim relawan dan menawari kopi.

Bahkan, dengan terlihat bersemangat, Ia berusaha meraih termos dan membuat kopi sendiri dari air panas yang sudah dibuatkan anak dan cucunya.

’Dadong tidak mau diajak tinggal bersama kami. Maunya tinggal di gubuk ini,’’ kata anak tirinya.

Selanjutnya, usai bertandang dan memberikan titipan tali asih dari Wayan Sudirta kepada Dadong Ubuh, tim relawan yang terdiri dari Nengah Wirya, Putu Wirata Dwikora, Wayan Ariawan (Perbekel Desa Kubu dua periode) dan Made Suka Artha meneruskan perjalanan.

Tim berlanjut mengunjungi Ninik Dayuh yang usianya sudah 100 tahun lebih dan Ninik Rundung, 75. Di rumah dua nenek yang sudah lumpuh dan hanya bisa terbaring di kamarnya yang gelap dan dingin ini, tim kembali memberikan titipan tali asih berupa beras dan uang dari Sudirta.

Kemudian, tim juga menyempatkan untuk mengantarkan bingkisan tali asih kepada Nyoman Asmika, 40, seorang pemuda yang kedua kakinya mengecil; Made Yasa, 30, penyandang bisu dan tuli; serta Gede Candra, 30, pemuda yatim piatu dan tuna rungu.

Sementara itu, Anggota DPR RI Wayan Sudirta mengatakan, bahwa sumbangan bagi para disabilitas di Kubu, Karangasem tersebut merupakan sumbangan kecil yang diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat khususnya saat ekonomi warga sedang terpuruk akibat pandemi Covid-19.

“Kami hanya berusaha sesuai kemampuan. Apa yang kami lakukan bersama tim hanya wujud kecil dari dukungan moral kami kepada masyarakat. Mudah-mudahan bagi yang belum mampu terjangkau, kami akan upayakan untuk mengagendakan di lain kesempatan,”papar Sudirta.

Seperti diketahui, sejak menjabat sebagai wakil rakyat di Senayan, aksi Anggota DPR RI, Wayan Sudirta untuk berbagi dengan para penyandang disabilitas bukan hanya dilakukan di Karangasem semata.

Di beberapa desa di kabupaten lain, seperti Klungkung, Bangli, Jembrana, Tabanan, Badung dan Denpasar, politisi yang juga pengacara senior di Bali ini juga berbagi bingkisan bagi penyadang disabilitas dan warga kurang mampu.

Tercatat selain uang tunai, Sudirta juga sering membagikan masker, beras, dan sembako.

(rb/pra/pra/JPR)

 TOP