alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarbali
Home > Features
icon featured
Features
Saat Situs Sejarah Muncul di Proyek Bendungan

Temukan Ceruk Pertapaan, Peninggalan Abad ke-11 Masa Raja Anak Wungsu

11 Februari 2021, 10: 45: 59 WIB | editor : ali mustofa

situs sejarah, proyek bendungan, bendungan tamblang, ceruk pertapaan, abad 11, das tukad aya, balar denpasar, raja anak wungsu,

Pekerja meneliti sampel ceruk pertapaan yang ditemukan di Desa Bila, Kubutambahan, Buleleng kemarin (Eka Prasetya/Radar Bali)

Share this      

Sejumlah tinggalan terus bermunculan di sekitar proyek Bendungan Tamblang yang berada di areal Tukad Aya, Buleleng.

Salah satunya adalah ceruk pertapaan. Ceruk itu ditemukan di wilayah Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan.

EKA PRASETYA, Kubutambahan

TUKAD Aya yang membelah kawasan Kecamatan Sawan dengan Kecamatan Kubutambahan di Kabupaten Buleleng, menyimpan berbagai macam cerita sejarah.

Satu persatu tinggalan sejarah muncul ke permukaan. Tinggalan sejarah makin banyak ditemukan sejak proyek Bendungan Tamblang dikerjakan.

Dalam kurun waktu setahun terakhir, sejumlah tinggalan sejarah muncul. Diantaranya temuan terowongan yang diduga berfungsi sebagai saluran irigasi.

Selain itu ditemukan pula tiga buah sarkofagus di sekitar areal proyek. Terbaru, ditemukan tiga buah ceruk pertapaan di wilayah Banjar Dinas Kawanan, Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan.

Seluruh ceruk pertapaan itu berada di lahan milik Ketut Gerinda. Sebenarnya pemilik lahan sudah menemukan ceruk itu sejak lama.

Namun, ceruk itu tak pernah dilaporkan karena pemilik lahan mengira ceruk itu terbentuk secara alami.

Saat petugas proyek Bendungan Tamblang melakukan inspeksi di sekitar areal proyek, ditemukan ceruk itu.

Petugas proyek meyakini bahwa ceruk itu buatan manusia. Sehingga hal itu disampaikan pada para ahli.

Kemarin (10/2) Balai Arkeologi (Balar) Denpasar, Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Denpasar, dan Dinas Kebudayaan Buleleng melakukan pengecekan lokasi ceruk tersebut.

Pemilik lahan Ketut Gerinda mengaku tak tahu bahwa ceruk itu merupakan tinggalan kuno. “Dari orang tua saya, ceruk itu memang sudah ada.

Orang tua juga tidak ada pesan apa-apa. Saya kira tempat biasa. Makanya saya pakai tempat kayu bakar,” kata Gerinda.

Perbekel Bila I Ketut Citarja Yudi mengatakan, sesuai dengan tutur para leluhur, daerah Tukad Aya memang kaya dengan tinggalan sejarah.

Konon Desa Bila bukan berada di posisinya saat ini. Dulunya leluhur Desa Bila berada di wilayah yang disebut Benyahe. “Konon karena ada wabah, akhirnya pindah ke lokasi saat ini,” kata Citarja Yudi.

Dengan adanya tinggalan sejarah itu, ia pun berharap pelaksana proyek dan pemerintah dapat membantu pelestarian.

Sebab ada nilai edukasi dan catatan sejarah yang harus disampaikan pada masyarakat. Terutama masyarakat yang ada di sekitar kawasan Tukad Aya. “Kalau bisa kan dibuatkan akses jalan ke wilayah ini,” pintanya.

Sementara itu, Kepala Balai Arkeologi (Balar) Denpasar I Gusti Made Suarbhawa mengatakan, Daerah Aliran Sungai (DAS) memang diyakini sebagai pusat peradaban masyarakat sejak masa pra sejarah hingga peradaban Hindu Budha.

Bahkan hingga kini DAS Tukad Aya masih menjadi pusat peradaban masyarakat. Fungsi DAS Tukad Aya sebagai pusat peradaban, diyakini masih akan berlangsung hingga beberapa abad mendatang.

Suarbahawa menyebut DAS Tukad Aya berhulu di kawasan Bukit Mengandang. Saat ini Tukad Aya difungsikan sebagai batas geografis antara Kecamatan Sawan dan Kecamatan Kubutambahan di Kabupaten Buleleng.

Di sepanjang DAS Tukad Aya, Balar kerap menemukan tinggalan sejarah. Mulai dari tinggalan masa pra sejarah, hingga masa Hindu Budha.

Tinggalan masa pra sejarah yang dimaksud ialah sarkofagus yang ditemukan di sekitar areal proyek bendungan belum lama ini.

Sementara tinggalan dari masa Hindu Budha berupa prasastia. Mulai dari Prasasati Klandis, Prasasti Sawan, Prasasti Bila, dan Prasasti Bengkala.

“Di Menyali juga ada relief yang menceritakan pemujaan pada masa Hindu-Budha. Ini menunjukkan peradaban di sepanjang DAS ini sangat kaya,” kata Suarbhawa.

Khusus terkait temuan ceruk di sekitar proyek bendungan, Suarbhawa menyebut ceruk itu diduga berasal dari masa Bali Kuna. Kemungkinan berasal dari abad ke-11 tatkala Bali dipimpin oleh Raja Anak Wungsu.

Kata Suarbhawa, dari tiga ceruk yang ditemukan, salah satu diantaranya menjadi ceruk pertapaan utama.

Selain itu salah satu ceruk dalam kondisi pecah, karena bencana alam. Diduga ceruk digunakan untuk lokasi peristirahatan dan  pertapaan.

Dugaan itu diperkuat dengan temuan mata air yang berada di bagian bawah ceruk. “Kecenderungan lokasi pertapaan seperti itu. Ada mata air di sekitarnya,” jelasnya.

Seiring dengan kemunculan tinggalan-tinggalan sejarah yang makin banyak, Suarbhawa menyarankan agar dilakukan studi lebih lanjut.

Studi itu bukan hanya melibatkan Balai Arkeologi saja. Melainkan sejumlah lembaga lain. Termasuk Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Bali dan pakar geologi.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengatakan, ceruk itu sebenarnya sudah memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.

Hanya saja kini Disbud Buleleng belum memiliki Tim Ahli Cagar Budaya (TACB). Sehingga belum dapat menetapkan cagar budaya tingkat kabupaten.

“Alternatifnya, kami akan usulkan pada Tim Ahli Cagar Budaya di Disbud Bali. Mudah-mudahan dapat disetujui,” kata Dody.

Di sisi lain, Direksi Teknis Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida Nengah Sudiartha mengatakan, ceruk itu berada di luar areal proyek.

Tepatnya di areal green belt yang ada di atas genangan. Sehingga kemungkinan besar aman dari proyek bendungan.

“Kami sedang kaji apakah layak dan bisa dibuatkan akses jalan menuju lokasi itu. Karena lokasi itu cukup aman dan bisa dikembangkan untuk mendukung edukasi sejarah di wilayah ini,” ujar Sudiarta. (*)

(rb/eps/mus/JPR)

 TOP